ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Sebelumnya di Big Shot...
Aku dan Trevor punya tiket konser malam ini.
Trevor tak boleh keluar di malam sekolah, kau juga sebaiknya begitu.
Aku paham maksud kalian berdua ini.
Hati-hati. Jangan sampai direbut.
Hanya jika kuizinkan.
- Lihat dirimu yang ceria. - Itu efek dari Nick.
Kami hanya teman.
- Menurutmu dia juga menyukaimu? - Kurasa begitu.
- Hei, kau mau ke rumahku? - Tidak bisa. Aku mau menemui seseorang.
Seseorang. Itu membuatku penasaran.
Ya. Mungkin akan kuberi tahu nanti.
- Kau bohong. - Kau juga bohong padaku.
Emma kabur dengan laki-laki!
- Kau percaya aku? - Tidak sedikit pun.
Kesalahan apa yang dibahas ini?
- Masuk tanpa izin. - Masuk tanpa izin?
DILARANG MASUK
Dengannya?
Dasar anak manja.
Kurasa Ayah berubah dari kejam menjadi memalukan.
- Apa semua baik-baik saja? - Aku tak tahu.
- Kami bisa bantu. - Samantha?
Samantha!
Serangan panik ini serius.
Lalu apa yang kau lakukan?
Aku...
Apa itu? "Perintah evakuasi."
- Baik. - Ayo. Kemari!
PERINTAH EVAKUASI KEBAKARAN MASIH TAK TERATASI
Api tak bisa diatasi dan terus menyebar.
Kami akan mengumumkan pusat evakuasi saat informasi sudah tersedia.
- Baik. Kemarilah. - Pastikan pasang...
- Kami akan ambilkan... - Atur kursi.
- Kita akan di sini. Ayo. - Semuanya, tolong tenang.
Jika butuh perawatan medis, mejanya di sebelah sana.
Jika butuh makanan atau istirahat, kami akan memasang dipan di sini.
Hai, siapa namamu?
Holly!
- Ya. - Ayo.
Astaga. Siapa ini?
Dia tak mau beri tahu namanya. Aku tak...
Hei. Apa yang terjadi?
Aku terluka.
Sungguh? Aku punya plester untuk lukamu.
Hei, cepatlah. Taruh ponsel kalian. Bantu orang-orang di sana.
Di mana orang tuanya?
Entahlah. Kau bisa cari tahu.
Aku bertugas dalam untuk medis. Kau saja yang cari.
Aku sedang dalam krisis. Kurasa karena kau wanita...
Baik. Akan kuurus.
Hei, kami perlu namamu agar bisa cari ibumu.
Bisakah kau beri tahu namamu?
Cooper!
Terima kasih banyak.
Sama-sama.
Apa? Aku yang menemukannya. Kenapa kau sangat sensitif soal semuanya?
Kenapa kau selalu harus...
Katanya ini kebakaran terparah dalam 100 tahun.
Kuharap orang tuaku di sini, tak mengungsi ke area lain.
Ibuku sudah mengungsi ke hotel Four Seasons, Santa Barbara.
Astaga. Katanya api menyebar.
- Ini mungkin akhir dunia. - Hentikan.
Kecemasanmu menambah kecemasanku.
Aku tak bisa hubungi orang tuaku.
Bisakah diam saja? Itu hanya akan memperburuk keadaan.
Bagaimana bisa lebih buruk? Kita mungkin akan mati. Itu sudah buruk.
Baiklah, itu. Itu tak membantu.
Tahu apa lagi yang tak membantu? Itu.
Jangan marah karena kami takut.
- Sudah lihat berita? - Kau harus sedikit takut?
Salah satu hal pertama yang kupelajari saat muda,
jangan dikendalikan takut.
- Terdengar dramatis. - Ya, lain kali saja.
Pengungsi butuh kita.
Apa pun persoalan, masalah, perkelahian di antara kalian atau aku,
mari lupakan dulu.
Kita butuh selimut, bantal, dan dipan lebih banyak.
- Emma. - Tentu saja. Apa pun untuk Holly.
- Destiny... - Aku bisa membagikan air.
Bagus.
Sisanya ikut aku. Orang-orang ini lapar.
- Dia berusaha melatih kebakaran? - Dia berusaha melatih emosi.
Samantha.
Kau baik-baik saja?
- Apa terlihat? - Tidak.
Ketahuilah,
terkadang cara terbaik membantu diri kita adalah membantu orang lain.
Mau bantu sesuatu?
- Ya. - Baiklah.
Ada yang mau air minum?
- Ya, mau. Terima kasih. - Baik. Ini dia.
Terima kasih.
Bisakah kau ulangi lagi? Wajah pengungsinya tak terlihat.
Apa yang kau lakukan?
Film dokumenter saat bencana bisa mendapatkan penghargaan.
Aku perlu usaha demi EGOT.
Ya, kemanusiaanmu hebat.
- Terima kasih. - Ya.
Hei, ibuku baru kirim SMS.
Katanya mereka aman dan mereka dikirim ke tempat lain.
Syukurlah.
Maaf, tapi aku harus pergi.
Pergi?
- Ya. - Ke mana?
- Kenapa? - Jemput Stark.
Ayahku di luar kota. Ibuku di sini. Stark sendiri di rumah.
Siapa Stark? Apa kau punya fotonya?
Stark anjingnya. Bisakah kau pergi baca buku saja?
Ini dia. Ini fotonya.
- Menggemaskan. - Ya, menggemaskan.
Kau tak boleh pergi ke mana-mana. Ini pusat evakuasi.
Orang seharusnya kemari, bukan kembali ke kebakaran.
Tidak. Aku tak mau meninggalkannya.
Apa yang... Apa ibumu tahu?
- Tidak! Aku tak akan bilang. - Itu...
Kau juga tak akan bilang. Karena dia akan menggila.
Ya, sudah seharusnya.
Sampai jumpa nanti.
Tunggu, aku akan ikut denganmu.
Ayo. Ikuti aku.
- Apa yang kalian lakukan? - Itu enak.
- Makan es krim. - Begitu.
- Kau mau? - Tidak.
Kerja. Menyapulah atau semacamnya.
Jadi, kita akan membuat apa?
Ada zaitun. Ada acar. Ada mi.
- Ada mentega. - Ada mentega.
Makanan macam apa itu? Mi acar zaitun mentega?
Tidak, kita masak apa?
Spageti goreng. Favoritku. Ibuku masak itu saat aku kecil.
- Ya, dengan gula bubuk. - Kurasa seseorang perlu membantu.
Ava, masak airnya.
Beri dia panci atau wajan, apa pun.
Lalu carikan piring kertas.
Aku tak yakin bagaimana aku bisa bantu.
Kau punya tangan lainnya, 'kan?
Mulai!
- Ayo! - Kau mau kami melakukan sesuatu?
Ya. Bisakah berhenti memasang wajah bodoh?
- Baik. - Bersihkan ini. Ayo.
Ini serius.
DAMKAR TERUS BEKERJA UNTUK MENGATASI KEBAKARAN LA JOLLA
- Sangat mengerikan. Aku tak percaya. - Ya.
- Hei. - Hei.
Sibuk?
Tergantung siapa yang bertanya.
Aku perlu mencari dipan, selimut, dan bantal.
- Ikut? - Ya.
Ayo. Cepat! Orang-orang di luar kelaparan.
Itu terlihat bagus.
Louise, ini hangus.
Ini spageti hangus. Seharusnya spageti goreng.
Buat lagi.
Kau harus tahu aku tak bisa masak air.
Aku yakin itu tak benar.
Hei, Nick. Apa ini tampak sudah matang?
Ya, tampak sudah.
Hei, aku tak bisa menghadapi mereka berdua di waktu bersamaan.
Akan kuatasi.
Hei, Pelatih. Aku dan Nick harus pergi. Dah.
Cara yang hebat.
Hei, tunggu. Kukira kita akan bersama sebentar.
Aku... Dia...
- Dia pergi tanpa bilang apa-apa. - Mungkin mendesak.
Mungkin dia perlu mencari keluarganya atau pergi ke toilet.
Serius, ada apa dengannya? Dia bersikap seperti tak mengenalku.
- Kau perlu memastikan... - Hubungan kami. Aku tahu itu.
Aku bahkan tak tahu apa kami punya hubungan.
Ya, dia mungkin masih membencimu.
Tak mungkin. Kalian perlu membicarakannya, paham?
Nick benar-benar pria paling tampan di planet ini,
dan dia terjebak di sekolah yang penuh perempuan.
Dia akan direbut gadis lain.
Hanya saat ini aku akan bicara tanpa sarkastis,
tapi kau benar.
Aku akan memakai maskara lagi dan bicara dengannya.
Jangan lupa lip gloss.
Dua lagi, ya? Bagus.
Ava dan Louise?
Hei, hentikan.
- Nick, aku turut berduka untukmu. - Sungguh?
Kau mengencani dua gadis tercantik di sini.
Ayolah, Kawan.
- Hei, Pelatih. - Hei.
Bagaimana jika kalian keluar?
Ada banyak orang yang butuh bantuan.
Baik, Pelatih.
- Ayo. - Mari pergi.
Ya. Tidak denganmu, Nick.
Hanya pendapatku, tapi aku tak suka kau di Beth Macbeth, harus kuakui.
Apa?
Maaf. Aku hanya bicara kepada Harper.
Bisakah kau fokus? Kita harus mencari bantal.
- Kau benar. - Aku benar.
Bicaralah kepadanya.
Sampai jumpa.
"Jangan buka."
- Keahlian kita. - Sungguh.
Biar aku saja.
No comments yet. Be the first to leave one.