De eerste 200 regels.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Pangeran Wilhelm?
Mobil sudah tiba. Kita harus segera pergi.
Boleh aku mengambil foto?
PANGERAN CILIK TAK PEDULI!
LIHAT VIDEONYA!
Halo?
Halo?
- Apa? - Ini.
- Apa ini? - Pidato permintaan maaf Anda.
- Serius? - Ya, serius.
Jangan harap.
Ratu bilang Anda harus menyampaikannya.
"Oleh sebab itu, orang tuaku dan aku telah memutuskan
aku mendaftar di Sekolah Asrama Hillerska."
- Ya. - Aku belum bicara dengan orang tuaku.
Maaf, tetapi itu sudah diputuskan.
Serius? Kapan?
Semua temanku di sini.
Aku tak berhak memutuskan?
Aku tak mau masuk sekolah asrama!
Sudah pelajari pidatomu?
Semua orang akan tahu aku tak tulus, Ayah.
Kau harus menunjukkan semacam perasaan.
Perasaan apa?
- Tak boleh ada wartawan lagi. - Tidak.
Coba kulihat.
Ibu, aku tak mau ke asrama itu.
- Sudah diputuskan. - Bukan olehku!
Kau diam saja.
Tak bisakah aku memutuskan? Aku hanya ingin hidup normal.
Jika kami tak bisa menjagamu di situasi begini,
kami harus memastikan itu tak terjadi.
Hillerska akan memberimu rutinitas dan teman-teman yang tepat.
Hentikan itu!
Keluarga kita bersekolah di sana.
Membiarkanmu memilih sekolah lain adalah kesalahan.
Meski Erik adalah putra mahkota, kau punya tanggung jawab.
Ingat, menjadi pangeran bukan hukuman, melainkan keistimewaan.
Boleh bertukar tempat?
Pakaikan mikrofon.
Anda bisa mulai bila sudah siap.
Baiklah.
Aku…
Aku ingin…
Aku ingin mulai dengan mengatakan
bahwa tak ada yang lebih kecewa kepadaku selain keluargaku,
dan terutama diriku sendiri.
Setahun terakhir ini sangat berat bagiku.
Sejak pengukuhanku
di musim panas lalu, aku diberi tugas resmi sebagai pangeran.
Ini memberikan tekanan ekstra
yang membuatku bertindak tak bertanggung jawab.
Aku minta maaf untuk ini,
dan aku memastikan hal itu tidak akan terulang.
Aku juga ingin mengumumkan, bahwa bersama orang tuaku,
aku memutuskan akan segera pindah ke Sekolah Asrama Hillerska.
Aku melanjutkan pendidikan di sana.
Putra Mahkota, senang bertemu lagi.
- Aku juga, Anette. - Aku serius.
- Selamat datang. - Terima kasih.
Senang bertemu denganmu.
Wilhelm, lama tak jumpa.
Ini hampir tak terlihat.
Alexander.
Alexander Bragé, anak Ulf Bragé, pemilik Bragé Investments.
- Sopan santunmu. Sapa dia. - Hai. Erik, senang bertemu.
- Wilhelm. - Alexander.
Tegak.
Salam kenal.
- Kau bawa koper? - Ya.
- Ayo masuk. - Tentu saja.
- Senang bisa kembali. - Senang melihatmu!
- Aku sangat rindu tempat ini. - Aku tak kaget.
- Biar kubawa. - Tak apa, aku saja.
Boleh kami memotret Pangeran dan kerabatnya membawa koper?
Bagus.
- Bung… - Biar kubawa kopernya.
- Tidak apa-apa. - Biarkan dia.
Aku saja.
- Sungguh, tak apa. - Wilhelm…
Bisa perbesar area fotonya?
Wilhelm!
- Selesai. - Terima kasih.
Pak Englund.
Anna, ibu asrama.
Göran, bapak asrama.
Bisa memotret Pangeran menjabat tangan kepala sekolah?
- Bisa bertukar tempat? - Astaga. Baik.
Foto terakhir, sebelum gereja di mana kor sekolah menyambut Pangeran.
Hai.
Kau kenal dia?
Tidak. Maksudku, kami satu sekolah waktu TK.
Dia anak Poppe Ehrencrona, bukan?
Tepat sekali. Felice Ehrencrona. Aku akan menikahinya.
Kau harus berhenti meniduri wanita.
Triknya adalah letakkan fondasi saat mereka kurang percaya diri.
Felice bangsawan modern.
Bagaimana akhir perlombaan gila itu?
Satu generasi hilang dalam lajunya
Hidup seharusnya lebih daripada ini, 'kan?
Maaf, bisa bernyanyi lebih keras?
Lepaskan tanganku Ia akan meluncur di atas pasir
Jika kau tak memberiku kesempatan Untuk meruntuhkan sikap
Aku tak menuntut apa pun darimu
Bahkan rasa terima kasihmu
Sebab kau harus bodoh agar tetap waras
Kau harus bodoh agar tetap waras
Kau harus bodoh agar tetap waras
Tiap pagi aku melihatnya Keluar dari bus
Gambaran itu tak lekang Bagai foto berwarna-warni
Terpatri di benakku, membuatku tetap waras
Selama beberapa tahun Seiring ia membasahi ketakutanku
Bisa berdampingan?
- Wilhelm? - Tunggu.
- Lari di hitungan ketiga. - Apa?
Satu, dua, tiga!
Hei…
Kita jumpa di mobil.
Kalian pikir tempat ini tak digeledah sebelum Pangeran tiba?
Tak ada yang bisa dibawa.
Pengawalnya menakuti staf.
Aku perlu resep dokter hanya untuk membawa obatku.
Bukan main. Aku berjanji kepada Erik untuk menjaga Wille.
Aku ingin memberinya inisiasi yang paling gila.
Kau mau calon raja mengingatmu sebagai legenda dekade ini,
atau sebagai pecundang yang tak bisa bersulang untuk Pangeran?
Begitu?
Coba murid nonasrama.
Suaramu merdu.
Dia pasti kenal pembuat miras ilegal.
Ingat saat dia mendatangi kita di pekan pertama, "Apa kabar?"
Memuakkan.
Seolah-olah kita punya kesamaan. Maksudku, itu menjijikkan.
Aku sangat iri. Aku berbagi kamar sampai kelas tiga.
Aku tak akan bertahan tiga tahun.
Tiru anak kelas satu dan dengarkan anak kelas tiga.
Maksudmu, menuruti August?
Dia sangat menyebalkan.
August keluarga. Kau bisa menganggapnya kakak.
Siapa yang bisa hidup seperti ini selama tiga tahun?
Ini bukan tentangmu saja. Kau adalah cerminan keluarga.
Berhentilah bersikap egois.
Itu tidak sulit. Belajarlah menjaga sikapmu.
Kita segera jumpa lagi.
- Haruskah kau pergi? - Ya, aku harus pergi.
- Kenapa? Jangan tinggalkan aku. - Tetapi…
Serius, aku harus pergi.
- Hentikan. - Cukup.
Oke, Wilhelm. Cukup. Aku harus pergi.
Makin cepat kau beradaptasi, makin mudah hidupmu.
Salam untuk Ibu dan Ayah.
Hei, Bocah Sosialis! Tunggu!
Simon.
- Apa? - Namaku Simon.
- Simon? Aku August. Senang berkenalan. - Apa ini lelucon?
Aku cuma menyapa. Kita belum pernah bertemu.
Aku sudah sebulan lebih di sini.
Aku butuh bantuanmu.
Kenal orang yang jual miras?
Kau pasti punya kontak, 'kan? Kontakku sedang pergi.
- Bagaimana kalian beli miras? - Pikirmu murid nonasrama pengedar?
Ini pesta inisiasi Wilhelm.
Jika kau bisa memberiku kontak yang bisa menjual minuman,
aku mungkin bisa membuat pengecualian dan mengundangmu.
Anak kelas satu jarang diundang.
Seseorang sepertimu di pesta seperti itu…
Menyenangkan, bukan?
Bisakah aku mengandalkanmu?
Ayolah, Nona-nona. Yang lembut.
Kalian membuatnya gugup.
Kalau begitu, kau duduk saja.
Sara, bisa bantu Felice?
Bagus.
Mari.
Kaki kanan depan.
Oke.
Ya. Tenang.
Bagus.
Kaki kanan depan.
Stella! Setengah berhenti sebelum meligas.
Hati-hati.
Bagus. Bagus sekali. Pelan dan mantap.
Bagus.
Duduk tegak, Semuanya.
Turunkan bahu.
Hai.
Aku bisa mengurus kudaku.
Tak masalah. Aku suka melakukannya.
Kau mau aku membersihkan kukunya?
Ya, pasti sangat kotor setelah lima menit di aula berkuda.
Kubilang tidak.
- Sara? - Aku hampir selesai.
Pergilah.
Kau mau aku menungganginya sebelum atau seusai sekolah?
Pergi saja.
Dah.
Dia tak boleh bicara begitu.
Itu bukan karena aku.
Tak penting.
No comments yet. Be the first to leave one.