لومړۍ 189 کرښې.
Hei, hei!
Ada apa, Jiro?
Kamu kelahi lagi, ya?
Habisnya mereka mengejekku.
Bicara sama hewan itu tidak normal.
Jijik katanya.
Walah, walah, memang repot, ya.
Tapi, Jiro, jadi tidak biasa itu hebat, lo.
Kenapa?
Karena artinya ada yang hanya bisa dilakukan Jiro, bukan?
Aku enggak begitu paham.
Suatu saat kamu pasti paham, kok.
Hei, berengsek.
Kau paham tidak siapa yang kau tantang berantem?
Senior kami itu bos "Demon" yang menguasai sekitar sini, tahu!
Terus kenapa?
Jangan sok berkuasa pakai nama orang, dasar gorila kampung.
Ka-Kampung?!
Hei, berengsek, jangan belagu kau!
Hilang?!
Sebelah sini, hei.
Itu teknik utsusemi, dasar bego.
Dinginkan dulu kepalamu di sana.
Apa-apaan dia ini?! Ninja, ya?!
Ayo, bagaimana?
Mau maju berdua juga enggak masalah.
Dasar keroco-keroco payah kalau enggak bergerombol!
Kau jangan meremehkan kami!
Dasar tidak berguna.
Wah, aku tertolong.
Terima kasih, Jiro.
Belakangan ini mereka jadi suka berkumpul di sini.
Sekarang rasanya bisa tenang untuk sementara.
Tapi, apa kau tidak apa-apa, Jiro?
Kalau begini bukannya mereka akan dendam padamu?
Jangan cemas.
Aku sudah biasa sama itu.
Jiro memang sering kena masalah karena sorot matanya terlalu seram.
Bawel! Kubikin sate gagak juga, kau!
Ya sudah, sampai jumpa.
Kalian juga jangan kebanyakan mengais sampah, ya.
- Sampai jumpa! - Sampai jumpa!
Kau ini, dasar bodoh!
Jiro, kau lagi-lagi kelahi, ya?!
Harus diberi tahu berapa kali baru paham, bodohnya kau ini!
Kau kuajari taijutsu shinobi bukan untuk seperti itu!
Bawel!
Lagian, apanya yang shinobi?!
Dasar tua bangka ketinggalan zaman!
- Berisik! - Dasar tua bangka ketinggalan zaman!
Lihat, Jiro.
Inilah katana shinobi yang diwarisi keluarga Azuma.
Ini harta keluarga bersejarah pemberian shogun pada leluhur kita di zaman Edo!
Bisa tidak kau jangan berbuat sesuatu yang menodai nama Azuma?!
Dasar anak bodoh!
Paling cuma pedang tiruan yang tumpul.
Baiklah.
Ini tumpul atau tidak.
Rasakan saja dengan tubuhmu sendiri!
Woi, hentikan!
Aduh, bikin berantakan saja.
Dasar kakek sialan.
Hei, Jiro!
Ha?!
Hari ini ada rapat RW, jadi aku akan pulang tengah malam.
Jangan sampai lupa kunci pintu.
Berisik, ah.
Apanya yang kunci pintu.
Selalu memperlakukanku seperti bocah.
Hei, Jiro!
Siapa lagi sekarang?!
Gagak yang tadi ternyata.
Ada apa?
Di hutan belakang ada kucing yang...
Kucing?
Hei, mau sampai mana ini?
Sudah kelihatan, itu di sana!
Hei, apa-apaan ini?
Kenalanmu?
Bukan, aku tidak kenal mukanya.
Paling tidak kelihatannya masih hidup.
Tapi kupanggil-panggil pun tidak menjawab.
Sialan, dia sudah lumayan melemah.
Harus segera diobati.
Hei, dengar tidak?
Siapa yang memanggilku?
Wahai Rago, bintang hitam jahat yang melahap matahari.
Bangunlah dari tidur panjangmu dan pinjamkan kekuatanmu pada kami.
Jangan bercanda!
Sudah seenaknya membangunkanku.
Aku tidak akan meminjamkan kekuatan pada siapa pun.
Begitu, ya?
Tidak ada pilihan lain kalau kau tidak mau menurut.
Matilah di sini.
Oh, sudah bangun?
Tenggorokanmu pasti kering.
Duh, kukira akan bagaimana karena badanmu penuh luka.
Kau ini lumayan tangguh juga.
Aku Jiro, namamu siapa?
Kenapa? Kucing liar sekalipun pasti punya nama, kan?
Kau ini bodoh, ya?
Kubilang pun mana paham dirimu.
Siapa yang bodoh? Mau kuhajar, hah?
Sudahlah, jangan terlalu waspada begitu.
Pertama kalinya ketemu manusia yang bisa diajak ngomong
memang wajar kalau bikin kaget.
Tapi aku bukan mau menangkap dan memakanmu, jadi ayo keluar.
Tidak terasa hawa siluman, jadi dia tidak salah lagi kalau manusia.
Itu berarti, jangan bilang...
Duh, apa boleh buat.
Akan kupakai teknik rahasia.
Heh, aku tidak akan bergerak sedikit pun.
Gampang sekali kau ini.
Mengabaikan saat disodori makanan itu aib bagi laki-laki.
Hah?!
Kucing jangan sok bicara seperti laki-laki.
Aku bukan kucing!
Bilang apa kau ini?
Namaku Rago, mononoke yang hidup dalam keabadian.
Mo-Mononoke?
Memang banyak sebutan lainnya, intinya ada monster seperti itu, lah.
Kebetulan sekali.
Biar kuberi pancingan sedikit.
Kami biasanya memakai wujud manusia atau binatang
dan hidup di tengah kota dengan muka polos.
Yah, walau ada juga yang mengasingkan diri di hutan atau pelosok gunung.
Terus, kenapa Tuan Mononoke ini sampai terluka begini?
Dia tidak kelihatan pura-pura bodoh.
Jadi dia betulan tidak tahu apa-apa, ya?
Kenapa, sih? Tidak bisa kau ceritakan, ya?
Aku diserang, sama mononoke juga.
Apa coba? Perselisihan teman, ya?
Aku juga tidak tahu detailnya.
Karena aku sudah ditidurkan untuk waktu yang lama.
Lalu saat tiba-tiba dibangunkan paksa,
mononoke yang tidak kukenal sudah mengepungku.
Lalu mereka mengoceh buat jadi teman mereka.
Saat kubilang tidak minat dan menendang mereka...
Oh, jadi begitu.
Makanya kau dihajar mereka.
Tapi kenapa kau tolak? Kalian sama-sama mononoke, kan?
Aku benci.
Ke mereka yang hidup bergerombol dan bergantung pada kekuatan orang lain.
Heh, bicara panjang lebar begini pun, manusia sepertimu pasti tidak akan percaya.
Yah, sejujurnya aku sama sekali tidak paham apa yang terjadi.
Tapi, aku bukannya tidak percaya, kok.
Ada manusia yang bisa bicara sama hewan, lo.
Tidak aneh kalau ada mononoke juga, kan?
Memang aneh sekali kau ini.
Apa katamu, bedebah?
Kishimojin ke markas pusat.
Pak Kepala Divisi bisa dengar?
Ini Shiba, apa ada sesuatu?
Iya.
Ada bekas darah di hutan belukar titik E16.
Tidak salah lagi ini Rago.
Aura siluman yang tertinggal cuma satu dan terputus di sini.
Bisa saja masih di sekitar sini.
Oke, akan segera kubentuk ulang regu pencari.
Sekarang kau kembali dulu.
Siap.
Kalau cuma begini padahal bisa kulakukan sendiri.
Oh, keren, lukamu betulan sudah tertutup.
Jadi kau ini betulan bukan kucing biasa.
Sialan, jadi kau aslinya tidak percaya, ya.
Enggak, sejujurnya aku setengah percaya.
Kukira tadi ocehan kucing yang sedang sakit.
Berengsek!
Ah, tapi kalau seperti ini, aku jadi teringat Nachi.
Nachi?
Anjing yang dulu ada di rumahku.
Badannya putih dan besar, juga baik hati seperti nenek-nenek.
Dalam banyak artian, sangat berkebalikan denganmu.
Kubunuh kau, bocah sialan!
Waktu itu aku sering dirundung di sekolah.
Sering berlumuran luka sama lumpur.
Saat seperti itu Nachi sering minta untuk dimandikan.
"Bilas semua rasa kesalmu bersama kotoran tubuhku", begitu katanya.
Lalu dia bilang begini, "Syukurlah ada Jiro."
"Jadi bisa minta dimandikan di saat yang kumau."
"Tapi mumpung kamu bisa,"
"bantu juga hewan lain selain diriku, ya."
"Karena itu pasti cuma bisa dilakukan oleh Jiro." katanya.
Hei—
Kubilas, ya.
Maaf, Bocah Tengik.
Sebenarnya ingin berterima kasih, tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini.
Selamat tinggal.
Cih, meski lukanya sudah tertutup, bukan berarti kekuatanku sudah kembali, ya.
No comments yet. Be the first to leave one.