Notes for My Son

Notes for My Son (El cuaderno de Tomy)

Download Indonesian Subtitle

Release info

Notes For My Son NF-360P/720P/1080P
A Commentary by DD_Movie
NF Retail [ RT 01:24:12 / 01:24:11 ] | Streaming : dongdotmovie.my.id

Tags

720p
720
1080
Published on: 2020-11-26
Downloads: 20
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

FILM NETFLIX ORIGINAL

Ini kisah dari harapan terakhir dan terbesarku.

Mimpi yang ingin kubagi dengan putraku.

Itulah tujuan buku catatan ini.

Ini buku yang Ibu tulis untuk Tomy kecil.

Semoga dia tahu betapa pentingnya menjadi diri sendiri

dan pentingnya mengetahui kisahnya.

Kuharap ini bisa kuselesaikan.

Silakan lewat sini.

Permisi.

Tunggu di ruang tunggu. Mereka akan mencarimu di sana.

Ya, ini tasnya…

UNIT GAWAT DARURAT

Terima kasih.

Hei, Fede, aku tak mau tinggal di sini.

Jika pihak asuransi menolak, kita harus diberi kamar pribadi.

Baik, tapi hubungi dan buatlah mereka kesal.

Ini perawatan enam bulan. Aku harus diberi ranjang.

Akan kubuat mereka kesal hingga setuju.

- Buat mereka sangat kesal. - Ya. Tentu.

- Kau sudah bicara dengan Tomy? - Ya. Dia baru bangun.

Kuberi tahu ayahmu dia akan kujemput nanti.

- Sudah bicara dengan dokter? - Ya.

Lalu?

Mereka bilang akan memberimu "tose" atau "tilose," entahlah.

Sesuatu untuk penyumbatan usus.

Jadi, aku harus tinggal di sini?

Kurasa sampai obatnya bereaksi.

Ayolah, Fede, aku tak bodoh. Indung telurku yang diangkat, bukan otak.

Mereka tak akan merawatku agar aku bisa buang air besar. Ada apa?

Ya.

Ucapan "Kita harus bicara" selalu diikuti hal buruk,

tapi tak seburuk pada saat itu.

Dua hari usai operasi pengangkatan rahim, indung telur,

dan beberapa hal lain untuk diuji, aku tahu ada yang sangat salah.

Namun, dokter bedah pun tak berani untuk memberitahuku.

Semuanya terasa lebih intens dan jelas saat kita sekarat.

Kita ingin merasakan, mencicipi, dan mencintai.

Namun, pada saat yang sama, intensitas itu tak tertahankan.

Semua raga yang sakit tak bisa menahannya.

Kita harus mencari cara untuk menghibur dan mengalihkan perhatian kita sendiri.

Di situlah peran media sosial, atau lebih tepatnya Twitter,

tempat kita bisa menjadi dramatis atau berdebat berjam-jam

soal menggunakan tampon atau pembalut.

Namun, juga tempatku berbagi soal apa yang menimpaku.

Mengidap kanker itu seperti flu.

Tak perlu malu soal itu, tapi seribu kali lebih buruk.

Tak membahasnya itu sama saja dengan mereka yang berkata,

"Ini penyakit yang lama dan menyakitkan."

PANJANG DAN MENYAKITKAN, PENISMU

KECUALI BAGIAN PANJANGNYA, TENTU SAJA

Begitu aku mengunggahnya, kuterima banyak pesan cinta

dari orang-orang yang tak kukenal.

Kini, mohon jangan tersinggung,

akan kukatakan kalimat yang kubenci,

"Semuanya akan baik-baik saja."

Baik apanya?

Memberi tahu kalimat itu kepada pasien kanker

ibarat memberi tahu orang yang akan melintasi gurun

ada oasis di akhir perjalanannya.

Dia akan bersekolah besok.

Baiklah, ayo naik ke ranjang.

Pelan-pelan.

Sudah.

Lepas sandalmu!

Hati-hati dengan infusmu.

Bisa tolong berikan kendalinya, Luis?

Lihatlah, tombol ini untuk meminta teh,

ke kamar mandi, atau apa pun.

Yang ini untuk pemberian morfin. Begitu kau merasakan sakit, mintalah.

Jangan tunggu sampai sangat sakit. Mintalah. Paham?

Jika ada yang kau perlukan, hubungi kami.

Baik, terima kasih.

- Sampai nanti. - Sampai nanti.

Jadi? Kau suka kamarmu?

Bagus, bukan?

Lihat, ada jendelanya.

Apa yang kau lihat?

Tak banyak.

Sebenarnya cukup buruk.

Kau menginap di sini?

Tentu saja.

Bagaimana dengan Tomy?

Sudah kuurus.

Ayahmu atau ibuku akan mengantarnya ke TK.

Aku akan menjemputnya,

membawanya kemari, lalu membawanya pulang.

- Kau akan tidur di kursi itu? - Ya.

Kau akan terkena herpes.

Akan kupinjam kantong tidur Adrián.

Mereka akan mengusir kita.

Tidak, akan kupakai saat malam lalu menyimpannya.

Tak apa-apa.

- Federico? - Ya.

Apa kabar? Diego Vigna, Dokter Kepala.

- Apa kabar? Senang bertemu. - Baik.

Aku tak memakai seragam setiap Minggu, tapi aku selalu mengunjungi pasien.

- Penyakit itu tak berlibur. - Tentu.

Aku baru melihat María. Aku ingin memberitahumu situasinya.

Tak ada penyumbatan usus.

Tumor panggulnya menekan duodenumnya.

Karena indikasinya tak bagus,

kurasa yang terbaik baginya adalah tetap dirawat.

Dengan kondisinya, dia tak bisa dioperasi atau melanjutkan kemoterapi.

Apa yang bisa kami lakukan?

Sementara itu, kita bisa memperbaiki kondisinya.

Aku akan memberinya kortikoid untuk mengendalikan tumornya.

Namun, Dokter, semua itu hanya sementara.

Tak ada lagi yang bisa diperbuat soal penyakit ini?

Ada banyak hal yang bisa dilakukan.

Misalnya, kita bisa mengurangi nyerinya. Itu penting.

Kita bisa menemaninya. Itu pun sangat penting.

Dalam kasus ini, aku selalu punya dua prioritas.

Pasien tak menderita dan bisa pulang secepatnya.

Bagi mereka, menunggu di rumah selalu lebih baik,

dalam suasana yang akrab, dikelilingi oleh orang terkasih.

Sebagian laba-laba punya dua mata dan sebagian lain punya lebih.

Berapa jumlah kakinya?

Entah berapa, tapi sebaiknya kuperiksa dulu.

Ibu!

- Hai! - Halo.

Hai!

- Hei! - Berikan tasmu.

- Itu dia. - Aku senang kau datang.

Apa kabar? Bagaimana harimu di taman kanak-kanak?

Hari ini, aku…

- Aku tak bersekolah tempo hari. - Sungguh?

Aku senang kau datang berkunjung.

Nanti akan kutanya TK di dekat rumah apakah masih bisa mendaftar.

Hati-hati, terlalu tinggi.

Ranjang ini tak seperti ranjang di rumah. Ini ranjang robot.

Ya, tolong angkat.

Aku ingin kakiku di atas

dan kepalaku di bawah.

Dah!

Aku terlipat.

Teruskan.

Dah!

Saat kutekan tombol ini, itu meledak.

Bom jatuh dari langit dan meledak.

Ide bagus, Tomy. Buat ranjangnya meledak.

Tidak!

AKU TAK BISA PULANG

KARENA AKU PERLU DUA POMPA, TIGA SIF PERAWAT,

DAN MENJUAL SATU GINJAL YANG AKAN MEMBUATKU TETAP SEHAT

Fede?

Bawakan aku buku catatan.

Kau bisa tanya Lourdes. Dia membuat buku buatan tangan.

Ada buku bersampul serigala yang sangat lucu.

Aku mau menulis sesuatu untuk Tomy.

Baik.

INFORMASI

Kita bilang pukul 10.00. Pukul berapa ini?

Pukul 10.20.

Kita akan melewatkan jam berkunjung.

Masih sampai pukul 00.00, Maru.

- Hai, apa kabar? - Selamat pagi.

- Sampai pukul berapa jam berkunjungnya? - Pukul 00.00.

Baiklah.

Halo, selamat pagi.

Jadi, sampai pukul berapa?

Itu mereka.

Kurang ajar. Mereka sengaja datang bersama.

Tenanglah.

Kenapa tak bilang kalian berkumpul dulu?

Kami ingin membawakan sesuatu, hadiah kecil.

Kenapa ada hadiah? Kami tak membawa apa pun.

Lupakanlah, kita akan berbagi.

Ini dari kami semua. Tak apa-apa.

- Tidak. Pergi dan belilah sesuatu. Ayo. - Di mana bisa kubeli itu sekarang?

Entahlah. Bawa apa saja.

Ada mal dua blok dari sini.

- Kau bercanda? - Itu…

- Berikan kunci mobilnya, aku saja. - Tidak. Pergilah, aku akan ke mal.

Aku ikut, untuk berjaga-jaga.

- Tunggu. Di kamar mana dia? - Lantai dua, nomor 216.

Kamar 216. Kenapa sikapnya begitu?

Biarkan saja.

Hei, kita tak akan naik bersama, bukan?

- Tidak, ayo masuk berkelompok. - Ayo pergi dengan tenang.

Bukan, ke kanan.

Fede.

Apa kabar?

- Apa kabar? - Apa kabar?

- Hai. - Apa kabar?

- Apa kabar? - Baik.

Baik? Kalian harus menunggu sebentar karena dia sedang bersama dokter.

- Baiklah. - Yang lain akan datang.

Semuanya datang?

- Ya. - Ya.

- Kami akan diizinkan masuk bersama? - Entahlah. Ayo coba.

- Mau duduk? - Tidak.

Bagaimana keadaannya?

Baik. Tenang.

Apa dia kesakitan?

Dia bilang sedikit.

Dia bisa menahannya.

Kalian tahu dia.

Kuberi dia kamar yang luar biasa. Bagus. Bintang lima.

Itu bagus.

More Indonesian subtitles for Notes for My Son

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left