The first 112 lines.
Tiga Pengantin
Tiga Pengantin
Ah, sudah bangun, ya?
Hotaru, jangan bicara tiba-tiba dengannya. Anjingnya bisa marah kalau kau mengagetkannya.
Aseli nggak nyangka.
Baru juga naik, kau langsung muntah dan pingsan, loh.
Ini, minum air dulu.
Namaku Hotaru.
Ini Benio.
Dan gadis di sana itu namanya Kaho.
Kami semua menumpang kereta ini ke desa lain.
Karena akad nikah.
Menikah?
Tapi naik kereta ini?
Tapi, kau disini bukan sebagai pengantin, 'kan?
Aku mau ke ibukota.
Ke ibukota? Ngapain kesana?
S-Seseorang meninggal karenaku.
Aku harus mengembalikan barang-barangnya.
Siapa... namamu? Usiamu berapa?
Touko. 11 tahun.
Sudah bangun, dek? Ayo sini.
B-Baik.
Tinggalkan barangmu.
Cukup bawa anjingmu saja.
Ah, tung...
Tolong jagain, ya.
Tentu.
Ini adalah ruang mesin.
Hei, Shouzou!
Eh?
Ini adek dari desa yang kemarin. Suruh dia bekerja.
Eh?
Kenapa harus aku, coba? Aku lagi sibuk, nih.
Berisik, pokoknya ini urusanmu.
Ikut aku.
Katanya, kau membawa barang-barang pemburu api, ya?
Kecil-kecil begini sudah kena sial.
Ini salahku karena pemburu api meninggal.
Kalau aku, sabitnya bakal kujual mahal ke pemburu lain, dan anjingnya kujadikan sebagai anjing penjaga.
Penduduk di desamu terlalu jujur, ya.
Yah, meski begitu pabrik juga kena untungnya.
Bersihkan tempat ini.
Baik...
Habis ini masih ada kerjaan lain.
Harusnya kau sudah ingat mukaku.
Anjing itu harusnya cepat menghapal muka orang, 'kan?
Kerjaanmu sudah selesai.
Kembalilah ke kamar dan makan.
Anu, apa om tahu di mana Pak Enji?
Maaf, Enji ada di gerbong kedua. Lebih tepatnya di kereta lain.
Dia baik dengan semua orang.
Tapi, kereta ini malah dipegang oleh Pak bangkotan yang galak.
B-Bauuuu!!!
Makananmu ada di sini.
Kami sudah makan tadi.
Aku tidak mau.
Tapi...
Tidak mau!
Kaho, kamu nggak boleh 'gitu. Kamu harus makan.
Belum juga nikah, tapi sudah mati kelaparan.
Kalau kita mati di kereta ini...
...kita... buat apa disini?
Aku menikah karena mengusir kutukan.
Mengusir kutukan?
Desaku membuat tembikar.
Seperti mangkuk atau cangkir.
Tapi, akhir-akhir ini, kualitas tanah liat kami sangat buruk.
Kalau dipegang tanahnya licin seperti darah iblis api.
Para dukun mengatakan kalau itu adalah kutukan.
Karena di desa tempatku menikah terlalu jauh, jadi kalau memohon pada Manusia Pohon akan terlambat.
Makanya aku ikut numpang di kereta ini.
Di sini juga sama.
Desaku produksi bambu. Bahkan hutan di desaku isinya bambu semua.
Tapi tahun ini, pohon bambunya tidak bisa tumbuh.
Biasanya tetap tumbuh meski kami biarkan, tapi ini langsung layu saat baru tumbuh.
Aku juga sama, Hotaru.
Seolah-olah pernikahan itu bisa mengusir kutukan.
Kalau di desa, aku bisa melakukan pekerjaan setara lima orang.
Kaho juga sama, ya.
Desanya menambang batu yang indah, ya.
Ah, kelamaan duduk jadi bosen banget.
Kau enak banget, Touko. Ada kerjaan.
Dapat makanan tanpa bekerja itu rasanya membosankan.
Aku suka banget bekerja. Kalau cuma duduk diam disini bosan banget.
Ayo cepat dimakan!
Ini anjing malah santai-santai ngikutin majikannya.
Kalau kau masih menggeram, ku pukuli, kau!
Kamu sangat lucu, Benio.
Bisa bikin anjingnya Touko mengalah.
Kamu memang paling tua disini, sih.
Apa coba, Hotaru? Kalau nangis 'gak usah sambil ketawa, lah.
Tapi Benio... Lihat, dia lagi makan.
Touko, lihat.
Kanata?
Mungkinkah itu peluit anjing?
Ada pemburu api di kereta lain.
Habisnya, cuma anjing yang bisa mendengar suara peluitnya.
Aku yakin Kanata juga bisa mendengarnya.
Apa kau juga mau bekerja?
Kamu berisik.
Maaf, apa aku mengigau?
Bukan, ngorok-mu itu yang berisik.
Nih, tadi jatuh pas kamu naik.
Kamu keasikan bicara sama dua orang itu.
Jadi baru kukembalikan.
Padahal pas bangun kamu nggak ada bicara, tapi pas tidur ngorokmu itu luar biasa.
Rin
Tokohanahime
Rin
Koushi
Aku kesini karena surat ini.
No comments yet. Be the first to leave one.