The first 169 lines.
Pagi ini, aku teringat kalimat ini.
"Kebahagiaan selalu datang dengan kesulitan."
Seperti itulah kemarin.
Haruskah kau memilih kalung itu bersama Sae-yi?
Kenapa kau tidak bilang Sae-yi memberimu teh yuzu itu?
Kututup teleponnya.
Nikmati dongdongju dan tidurlah dengan nyenyak.
Tunggu. Halo?
[Itu kali pertama kami melihat Yu-mi marah.]
Bisa beri aku yang itu?
[ulang tahun Yu-mi akan menjadi hari terakhir mereka bersama.]
[Butuh keberanian besar untuk pergi ke rumahnya.]
Itu Yu-mi!
Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana jika Yu-mi ingin putus?
Hanya itu?
- Ya. - Kau pikir itu menjelaskan semuanya?
Karena memang hanya itu.
Dia tersenyum. Yu-mi tersenyum.
Apa ini? Apa ini belum berakhir?
Ayo naik. Mari makan bersama.
Semuanya baik-baik saja!
Dia mengajaknya naik!
Kita akan ke rumah Yu-mi!
Benar. Kebahagiaan tidak datang sendirian.
Selalu datang bersama kesulitan!
Tabuh drumnya!
Sekarang, kita hanya perlu berbahagia!
- Ini rumahku. - Begitu rupanya.
Teman-teman! Kita harus tenang.
Apa yang harus dia lakukan lebih dahulu?
Bagaimana jika dia memeluknya dari belakang?
Pelukan dari belakang?
Kedengarannya bagus! Waktu yang tepat!
Kau juga menyukainya?
- Masuklah, Woong. - Baik.
Apa itu? Jantung, berhenti sebentar.
Bukankah itu suara Sel Usus?
Ini usus besar.
Aku ingin seluruh desa tahu.
Woong sakit perut,
jadi, kita akan segera melepaskan hal itu dari perut Woong.
Apa mereka mendengarku?
Aku harus buang air besar!
Apa maksudmu? Kau ingin buang air besar sekarang?
Sel Usus, sudahkah kau gila?
[Kebahagiaan selalu datang bersama kesulitan.]
Baiklah. Aku sudah membersihkan semuanya,
dan udaranya sejuk. Bagus.
Woong.
Sial.
Kenapa dia tidak masuk?
Apa yang kau lakukan?
Apa?
Masuklah.
[Kami memutuskan untuk menghadapi kesulitan dengan berani]
[karena mungkin tak ada kesempatan lain untuk datang ke rumah Yu-mi.]
Rumahku agak kecil, bukan?
Ini bagus dan nyaman.
Mari makan kue dahulu.
Baiklah, ayo.
Astaga, cantik sekali.
Aku suka sekali kue keju stroberi.
Woong, kau sedang apa?
- Apa? - Kemarilah. Mari nyalakan lilinnya.
Baiklah.
Haruskah kita matikan lampunya?
- Tentu. - Woong, tombolnya di sana.
Tidak!
Ini kunjungan pertamanya ke rumah pacarnya!
Lakukan segala cara untuk menahannya!
Sial. Adakah hal lain yang bisa kita lakukan?
Apa itu?
Woong. Nyanyikan lagu ulang tahun untukku.
Woong.
Lagunya.
Apa?
Kau tidak menyanyikan lagu ulang tahun untukku?
Benar. Akan kunyanyikan.
Lagunya...
Kamar mandi.
- Apa? - Di mana kamar mandimu?
- Apa? - Di mana kamar mandimu?
Kamar mandinya di sana.
- Tak bisa dibuka, Yu-mi. - Kau harus mendorongnya. Dorong, Woong!
Dorong?
Astaga.
[Misi selesai. Kita telah melepaskan hal itu.]
Semuanya sudah berakhir. Habislah kita.
Aku tidak percaya dia buang air besar pada kunjungan pertama
ke rumah pacarnya.
Aku sangat malu.
Adakah yang tidak beres dengan pasta yang kumakan tadi?
Kenapa aku tiba-tiba sakit perut?
- Woong. - Ya?
Apa kau sakit? Kau sakit perut?
Aku baik-baik saja.
Haruskah kutiup lilinnya? Lilinnya meleleh.
Jangan.
Tunggu sebentar. Aku akan segera keluar.
Baiklah.
Cinta.
Mari lupakan semua yang sudah terjadi.
Aku yakin Yu-mi akan memakluminya.
Kau benar. Kita selalu bisa mulai dari awal lagi.
Apa yang harus kita lakukan?
Saat Yu-mi meniup lilin, mari atur suasana dengan ciuman perayaan!
Bagaimana menurutmu? Itu ide bagus, bukan?
Ciuman perayaan terdengar bagus!
Ada apa? Ada apa lagi kali ini?
Jangan.
Jangan lakukan ini kepadaku.
Tidak.
Aku tidak bisa melakukan itu.
Tidak bisa.
Kenapa dia tidak keluar?
Apa dia mandi?
Mandi?
Kenapa?
Woong.
Aku penasaran kenapa kau lama sekali.
Benar.
Begini... Yu-mi.
Ya? Ada apa?
Apa kau punya...
Ya?
Kau punya itu di rumah?
"Itu"?
Aku butuh itu.
Apa "itu"?
Kau tahu...
Jika kau tak punya, aku akan keluar dan membelinya.
Itu...
Kau punya?
Tidak.
Kau tidak punya?
Kau tak punya penyedot WC untuk toilet?
- Apa? - WC-nya agak tersumbat,
jadi, aku membutuhkannya.
Toilet.
Toiletnya tersumbat?
Sedikit.
- Aku punya. - Kau punya?
Aku bertanya-tanya apa maksudnya.
Woong.
Ini.
Terima kasih.
Tapi bukankah seharusnya aku yang mengerjakannya?
Aku sering melakukannya.
Jangan. Terima kasih, tapi tidak usah.
Aku akan mengurus kotoranku.
Astaga.
Memalukan sekali!
Apakah berhasil?
Gawat! Aku dalam masalah!
- Woong. - Ya?
Ada apa? Tidak bisa?
Tidak.
Aku akan segera keluar. Tunggu sebentar.
Biar aku saja. Buka pintunya.
Kubilang, aku hampir selesai.
Makanlah kuenya dahulu.
Dia seharusnya pulang saja.
Dia seharusnya pulang begitu perutnya mulai sakit.
Halo?
Hei, Sel Usus!
Hei, Akal. Maafkan aku,
tapi aku menelepon karena kita harus mengeluarkan itu lagi.
Apa? Apa kau sudah gila?
Kau benar-benar gila! Kau tahu kita di mana?
No comments yet. Be the first to leave one.