The first 200 lines.
Episode 25
Apa terjadi sesuatu?
Katakan padaku.
Jangan simpan sendiri, beri tahu aku.
Oh Yeon-Doo.
Ya.
Ada apa?
Dengarkan aku dan jangan kaget.
Orang yang baru saja telepon denganku...
Oh Yeon-Doo.
Kamu tampak senang.
Sepertinya Tae-Kyung baik padamu?
Apa ada yang salah?
Kita masih bisa saling sapa, 'kan?
Aku tidak suka bicara dengan orang yang sudah selesai.
Jangan sok kenal denganku.
Ayo pergi, Tae-Kyung.
Aku mau ke toilet dulu.
Tidak apa-apa.
Aku begitu karena kaget.
Halo, Ayah?
Orang yang meragukanmu sekarang ada di sebelahku.
Mau dengar suaranya?
Siapa kamu?
Siapa yang sembarangan membicarakan anak orang lain?
Apa yang kamu pikirkan?
Tae-Kyung.
Apa ada sesuatu yang tidak baik?
Tidak.
Kudengar kamu ada janji makan siang dengan Presdir.
Mana Yeon-Doo?
Dia sedang di toilet.
Apa kamu kenal dengan Kim Joon-Ha?
Kim Joon-Ha?
Dia orang yang dipercaya Presdir untuk pegang bisnis di Amerika.
Dia akan bekerja untuk perusahaan kami sampai merger dan akuisisi selesai.
Dia kerja di sini?
Kenapa?
Kamu kenal?
Ya, dulu.
Baru saja aku bertemu dengannya.
Aku bertanya karena kupikir itu kebetulan.
Apa Oh Yeon-Doo juga bertemu dengan Kim Joon-Ha?
Apa?
Ya, bertemu.
Ayah sudah mengirimkan alamat restorannya.
Ayo pergi.
Sampai jumpa lain waktu.
Kim Joon-Ha, bedebah itu.
Kenapa melihatku seperti itu?
Kamu pikir aku akan pingsan karena bertemu dengan mantanku?
Kamu benar baik-baik saja?
Sejujurnya...
...aku terkejut karena itu di luar dugaan.
Kupikir tidak akan bertemu karena dia pergi ke Amerika.
Sepertinya aku lengah.
Tidak apa-apa karena aku sudah tahu sekarang.
Aku tidak akan terkejut jika bertemu lagi di mana pun.
Ayo pergi. Ayah sudah menunggu.
- Kenapa? - Kamu pergi seenaknya begitu?
Aku hampir ketahuan Tae-Kyung.
Tapi tidak ketahuan, 'kan?
Aku hanya iseng sesekali.
Yeon-Doo dan Tae-Kyung sudah pergi, 'kan?
Sudah.
Kamu bertemu Oh Yeon-Doo?
Bagaimana rasanya bertemu lagi?
Tentu saja senang.
Jadi, aku akan buat lebih senang lagi.
Atur jadwal klub golf besok.
Klub golf?
Jangan percaya pada Kepala Jang?
Aku tidak tahu siapa yang mengirimnya,
tetapi jelas tertulis seperti itu.
Ada sesuatu yang ingin kutanyakan, makanya aku menghubungi kalian.
Berkaitan dengan Kepala Jang?
Ya.
Ini mungkin pertanyaan yang tidak menyenangkan untuk Yeon-Doo.
Tidak apa-apa.
Silakan tanya, Ayah.
Kepala Jang mengatakan dia masih belum menyerah tentang Tae-Kyung.
Apa itu benar?
Kuharap itu tidak benar, tapi sepertinya tidak.
Kenapa dia melakukan hal sia-sia?
Kamu pasti sangat kesulitan.
Awalnya, aku melewati batas beberapa kali.
Tapi akhir-akhir ini tidak banyak yang terjadi.
Aku tidak akan terpengaruh oleh Kepala Jang.
Jangan khawatir.
Syukurlah kalau begitu.
Mari kita awasi gerak-gerik Kepala Jang.
Lalu putuskan apa yang harus dilakukan.
Ya, Kepala Jang.
Kim Joon-Ha?
Tae-Kyung juga?
Baiklah.
Biar aku tanyakan.
Tae-Kyung.
Kamu kenal dengan Kim Joon-Ha?
Ya. Dia relasiku dulu.
Begitu rupanya.
Dia pasti senang bertemu denganmu setelah sekian lama.
Kamu diundang ke klub golf besok.
Mau pergi bersama?
Baiklah.
Kamu gila?
Kenapa kamu pergi ke sana?
Aku tidak punya alasan untuk menghindarinya.
Tidak baik terus-menerus terlibat.
Dia sengaja mengundangmu.
Kamu bahkan tidak tahu maksud tujuannya?
Nanti malah membuat Presdir curiga.
Setelah bertemu sebentar aku akan langsung pergi.
Orang yang kamu telepon di lobi perusahaan,
dan pasien mendadak di dokter kandungan.
Semua itu dia, 'kan?
Kenapa orang itu mencarimu?
Anak yang ada dalam perut Yeon-Doo,
benar-benar anakmu?
Benar.
Siapa yang bilang? Itu anakku.
Dia pasti merasa lebih rendah dariku.
Apa?
Harga dirinya terluka karena aku merebutmu darinya.
Dia datang untuk berkelahi.
Orang payah.
Tidak lebih, tidak kurang.
Jadi, tidak perlu khawatir.
Ya, Nenek?
Baiklah.
Aku akan segera ke sana.
Kenapa Nenek mencarimu?
Apa dia menyusahkanmu lagi?
Tidak.
Bukan apa-apa, antar saja aku.
Lalu pergi kerja.
Kamu datang di waktu yang tepat.
Aku melewatkan makan siang karena operasi.
Ayo makan denganku.
Aku sedang malas menanggapimu.
Kenapa lagi dia?
Sudah lama sejak dia bosan denganku.
Kurasa suasana hatinya sedang tidak baik.
Aku akan memberitahumu tentang restoran baru.
Hei, Dokter Gong.
Kamu tidak akan membiarkan orang yang meragukan anakmu, bukan?
Orang yang meragukanmu sekarang ada di sebelahku.
Mau dengar suaranya?
Dia hanya iseng atau apa?
Karena sendiri, mau bergabung dengan meja lain?
Ya. Boleh.
Permisi, apa boleh duduk bergabung?
Silakan.
Permisi.
Mau ke mana?
- Apa? - Kamu begitu karena aku, ya?
Biar aku yang pergi. Aku sudah selesai makan.
Jika menyisakan makanan, kamu akan dihukum.
Apa?
Ayo makan bersama saja.
Silakan makan.
Saat itu...
...maaf karena melihat kontrak di dompetmu.
Kamu sangat marah, bukan?
Kamu bahkan tidak sengaja.
Reaksiku saja yang berlebihan.
Tapi,
di antara pasangan, apa bisa tidak saling ikut campur masalah privasi?
Maaf jika aku tidak sopan.
Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku.
Tidak apa-apa.
Kamu mungkin penasaran.
Aku juga...
...setiap hari melakukan percobaan,
apakah privasi pasangan dapat dipisahkan?
Seberapa baik jadinya jika aku hidup seperti itu?
Apa?
Karena aku mati-matian untuk bercerai dengan suamiku.
Aku tidak ingin menunjukkan sisi buruk pada anakku.
Tapi saat membesarkan seorang anak,
dia juga membutuhkan seorang ayah.
Pada saat itu, membesarkan anak bersama,
dan mengetahui cara hidup seperti orang lain.
Betapa menyenangkannya hal itu?
Aku akan mentraktir makan hari ini.
Kalau begitu aku yang akan membeli kopi.
KLINIK KANDUNGAN GONG
Kalau begitu, sampai jumpa.
Aku harus mengawalmu.
Tidak perlu.
Terima kasih karena sudah traktir makan hari ini.
Kamu juga mentraktirku kopi.
Kita berteman satu sama lain.
Kurasa Ah-Reum sangat suka mengendarai sepeda denganmu.
Dia menggambarnya di buku harian.
Dia menggambarmu dengan sangat tampan.
Benarkah?
Selera Ah-Reum bagus juga.
Aku akan meluangkan waktu untuk mengajarinya lagi.
Halo.
No comments yet. Be the first to leave one.