Be Melodramatic

Be Melodramatic (멜로가 체질)

Download Indonesian Subtitle

Specials

Release info

멜로가체질 Be Melodramatic E05 NEXT VIU
A Commentary by SULTAN_KHILAF

Tags

other
Published on: 2019-08-24
Downloads: 22
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Baiklah.

Mari kita bahas lebih lanjut tentang tren sastra.

- Apa itu tren sastra? - Itu karena cinta.

Itu memiliki dua makna besar.

Yang satu, aliran ideologis sastra.

Yang satunya lagi, metode ekspresi

dari sastra.

Cukup sekian untuk hari ini.

- Terima kasih. - Terima kasih.

- Ayo makan siang. - Aku diet.

Mau makan denganku?

Apa? Aku? Maksudku...

Aku?

Temanku tidak datang hari ini, jadi, tidak ada yang bisa kuajak makan.

Ayo.

Begitu, ya.

Apa makanan yang kamu suka?

Tteokbokki.

- Jadi, kamu suka pedas. - Ya?

Ya, aku suka pedas.

- Keik gandum? - Ya.

Harus dinikmati dengan sup.

Benar, dan aku harus mencampurnya dengan kuning telur rebus.

Rasanya harus seperti bumbu instan.

Jangan lupa lobak acar.

Aku bisa saja makan siang sendirian.

Aku juga.

Kamu punya teman, bukan?

Tidak banyak.

Bukankah

makan dan minum sendirian

bisa saja jadi tren di masa depan?

Itu bukan sesuatu yang cocok untuk jadi tren.

Mana mungkin ada restoran dan bar

khusus untuk satu pelanggan?

Kedengarannya aneh.

Mungkin akan menjadi hal umum nantinya.

- Kejam sekali. - Benar.

Sepertinya bukan hal bagus.

Terima kasih sudah mengajakku makan.

Aku memang ingin makan denganmu.

Begitu rupanya.

Boleh aku tahu alasannya?

- Kenapa kamu keluar dari klub? - Apa?

- Karena aku keluar. - Benar.

Kenapa kamu mengganti kelas-kelas seni liberal?

Kamu mengikutiku.

Ini soju.

Aku sudah minum sejak beberapa saat lalu.

Jadi, kamu suka makanan pahit.

Benar.

Sejak siang.

Sepertinya aku tidak bisa mengumpulkan keberanianku.

Aku sudah senekat ini, kuharap kamu juga melakukan sesuatu.

Kamu harus minum sebanyak apa agar mabuk?

Setengah botol.

Minumlah sedikit lagi.

Sekarang, katakan yang ingin kamu katakan kepadaku.

Aku menyukaimu.

"Hari pertama mereka berpacaran"

Sebenarnya, tteokbokki itu manis, bukan pedas.

Soju juga manis, bukan pedas.

Tapi bukan hanya itu alasannya

ciuman kami terasa sangat manis.

Itu karena cinta.

Kamu tahu seperti apa tatapan wanita saat sedang jatuh cinta?

Seperti apa?

Kamu tahu seperti apa lubang hidung pria saat sedang jatuh cinta?

Seperti apa?

Manis sekali.

"Hari ke-50 mereka berpacaran"

Banyak kata yang kami lontarkan

sangat norak dan asal,

tapi kata-kata itu seperti bisikan terindah.

"Kupon Pengampunan"

"Sepuluh Ciuman"

- Terima kasih. - Terima kasih.

Kami mendapatkan alasan kuat

untuk bebas bersikap kekanak-kanakan.

Bagaimana kuliahmu?

Aku mau muntah dahulu.

Aku juga.

Orang-orang yang melihat kami akan sangat tidak nyaman,

tapi kami tidak pernah berubah.

Selalu akhirnya menjadi sering.

Sudah kubilang aku minta maaf.

- Lepaskan. - Kami sering kali sama saja.

Hei.

- Kami sering bertengkar. - Lepaskan.

- Kubilang maaf. - Lepaskan aku.

Lepaskan aku.

Baiklah.

"Kupon Pengampunan"

"Hari ke-300 mereka berpacaran"

Pada saat tertentu, kami yakin

bahwa pertengkaran tidak akan menyebabkan putus,

dan rasa yakin itu menenangkan kami.

Ironisnya, tidak seperti di awal, kami tidak menerima

perbedaan yang sejak awal sudah kami sadari.

Kami makin sering bertengkar dan makin sengit.

Tidak, kami menjadi terlalu mudah.

Kamu cemberut karena ada yang ingin kamu katakan?

Kenapa kamu marah-marah tanpa tahu yang ingin kukatakan?

Aku sedang memegang tanganmu, bukan marah-marah.

Aku yang lebih dahulu memegang tanganmu.

Kamu tidak pernah meminta maaf lebih dahulu,

Apa membahas soal siapa yang pertama meminta maaf itu seru untukmu?

Kenapa tidak sekalian buat statistiknya saja?

Kamu tidak mengirimku SMS setelah pulang hari Jumat.

Kenapa?

Itu di luar topik pembicaraan kita.

Topik kita, kamu sering marah-marah dan tidak pernah meminta maaf.

Kita sedang membahas kesalahanmu.

Kita akan membahas kesalahanku setelah topik ini selesai.

Saat aku tidak mengirimmu SMS karena lelah,

kamu kesal dan mencurigaiku tanpa alasan.

Ini kali pertamaku mempermasalahkan soal ini.

Kita harus membahas kesalahanmu dahulu.

Kamu minum-minum sampai subuh dan menjawab teleponku

keesokan sorenya.

Kamu tidak dengar aku, ya?

Kita akan bahas soal aku, sesuai bicara soal kamu.

Apa pentingnya itu?

Itu penting.

Bukan itu yang seharusnya kamu ungkit saat kita berpegangan tangan.

Kalau begitu, lepaskan saja.

Kamu pergi, kita putus.

"Hari ke-500 mereka berpacaran"

Hei!

Ini hujan!

"Hari ke-800 mereka berpacaran"

Jika kamu tidak memplester

luka yang harus ditutupi...

Bisakah berhenti dahulu?

Tunggulah sampai tidak ada debu halus, baru berjalan-jalan.

Kamu tinggal minta, tidak perlu bicara dengan nada sebal.

Aku tidak sebal. Hanya bilang saja.

Lantas, kenapa harus cemberut?

Aku tahu kapan kamu kesal dan kapan tidak.

Apa masalahnya?

Aku sudah bilang. Aku ingin berhenti berjalan.

Artinya kamu ada masalah. Kamu sedang kesal.

Kenapa mengatakan, "Hanya bilang saja"?

Apa membuatku mengakui kalau aku kesal itu

memang tujuanmu?

Kenapa kamu selalu menggerutu? Apa itu penyakit genetik?

"Penyakit genetik"?

Apa kepicikanmu itu juga penyakit genetik?

"Picik"?

Kalau begitu, tidak usah temui aku lagi.

- Jadi, kita harus putus? - Kamu sendiri yang bilang.

Tidak, katakan dengan jelas. Kamu mau kita putus?

- Kamu saja. Kamu yang ingin putus. - Kamu saja yang katakan.

Baiklah, kita putus saja. Kumohon, kita putus saja!

- Kamu bilang kita putus? - Ya, kamu tidak mengerti?

Kamu bisa bahasa Korea, bukan? Aku harus bicara bahasa Inggris?

Silakan. Katakan.

Aku ingin putus denganmu. Kita putus!

- Enyahlah! - Terima kasih. Dah.

"Terima kasih"? Hei, kamu.

"Terima kasih"? Katakan lagi. "Terima kasih"?

Katakan lagi. "Terima kasih"? Kamu harus bilang begitu?

Kenapa tidak? kamu bisa bicara begitu, aku tidak?

Itu yang kamu katakan kepadaku kali terakhir kita putus.

"Hari ke-900"

Kami tidak bisa menahan diri

dan selalu putus-sambung tanpa alasan.

Kemudian kami sampai di titik kami putus hanya dengan satu kata.

"Selesai"

"Selesai"

"Ki Hwan Dong: Selesai"

"Hei"

"Hei"

"Apa?"

Kami juga tahu hanya butuh satu kata

untuk berbaikan.

Sudah saatnya restoran dan bar

mulai menyajikan hidangan untuk satu pelanggan,

karena akhirnya, kami benar-benar putus.

Temanku bilang

dua malam lalu dia melihatmu

di motel.

Apa tidak ada yang ingin kamu katakan?

Sepertinya itu bukan cinta.

Mungkin begitu, karena hati kami sepertinya tidak bisa terluka lagi.

Kami pun saling menghilang setelah putus.

Kurasa begitu saat aku mulai tidak peduli lagi.

Aku hanya ingin memercayai

keras kepalaku yang tidak jujur ini yang memutuskan itu bukan cinta.

Cinta bisa berubah,

tapi kebenaran tidak akan berubah.

Itu karena cinta.

Tapi alasanku menangis kemarin

bukan karena tidak bisa melupakan dia.

Aku tidak bisa melupakan betapa tersakitinya aku.

Jadi, aku tidak bisa melupakan diriku, bukan dirinya.

Tiba-tiba aku teringat betapa menyedihkannya hidupku dahulu

karena menghabiskan masa usia 20-an dengan satu pria.

Itu saja.

Jika dipikir-pikir, dahulu saat kamu yang tercantik,

More Indonesian subtitles for Be Melodramatic

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left