The first 200 lines.
Najai.
Aku menyukaimu.
Aku tidak pernah mengira dia akan menyukaiku.
Tiba-tiba ada alarm berbunyi di otakku.
Ini tidak masuk akal.
Kurasa tidak.
Sejak kapan kau menyukaiku?
Saat kali pertama bertemu denganmu,
kau bilang aku wanita yang kasar dan agresif.
Sekarang kau bilang menyukaiku?
Kau selalu memulai kencan dengan banyak pertanyaan?
Bagaimana aku bisa mengenalmu jika tidak bertanya?
Saat mata kami bertemu,
seolah dunia berhenti.
Otakku berhenti bekerja.
Pikiranku tiba-tiba kosong.
Hanya ada satu hal yang secara naluriah kuketahui.
Dia akan menciumku.
Aku akan mulai dengan ciuman.
Aku seharusnya
mendorongnya.
Tapi aku tidak bisa.
Ciumannya di bibirku menimbulkan berbagai macam perasaan di hatiku.
Hatiku berkata
bahwa ini terasa seperti ciuman pertama dalam hidupku.
Ini momen yang luar biasa.
Ciuman yang terjadi di saat yang tepat
dengan orang yang tepat
dengan pengaturan yang tepat, Najai.
Rasanya seperti ciuman pertama dalam hidupku.
Itu sangat…
Ya.
Kau bisa tahu setelah ciuman
dia orangnya atau bukan.
Begitu rupanya.
Ciuman itu akan membuatmu merasa begitu…
panas.
Kata-kata itu,
semua itu benar dengan ciuman ini.
Kurasa ini pasti cinta sejati.
Pasti begitu.
Sekali lagi, aku berbaring di ranjang
dan menunggunya menghubungi
dengan ponsel di sampingku.
Kau tinggal sendiri?
Ya.
Kurasa terlalu cepat untuk mengajaknya masuk hari ini.
Terima kasih banyak tumpangannya.
Sama-sama.
Aku…
Aku mulai merasa tak nyaman.
Itu karena jantungmu berdebar.
Selamat malam,
Sayang.
Kenapa dia belum menelepon?
Pikirkanlah, Najai.
Kemarin, dia bilang menyukaimu.
Lalu dia menciummu.
Itu artinya kami bersama.
Kau bahkan bisa menyebutnya pacarmu.
Tapi dia belum menelepon sekali pun.
Apa itu bisa diterima?
Kau harus punya makanan sehat di kulkasmu.
Kau pikir aku akan menelepon, bukan?
Kiriman, Bu.
Aku tidak memesannya. Apa kau salah rumah?
- Tidak. - Apa?
Tahu, apa kau memesan sesuatu?
Kau lapar, bukan?
Kau harus makan makanan sehat.
Terima kasih.
SAYURAN SEGAR
Di mana kau? Kau sudah makan?
Kau ingin datang dan makan di sini?
Aku tak punya waktu untuk itu.
Ada apa dengannya?
Ini bagus. Lagi pula, aku tak akan keluar hari ini.
Kalau dipikir-pikir,
ini tampak seperti awal yang bagus.
Apa masih sakit?
Tapi setelah dia menghilang,
aku jadi bertanya-tanya.
Apa dia serius denganku atau hanya mempermainkanku?
Selamat malam, Sayang.
Halo, ini Mason Hotel.
Halo.
Aku ingin tahu apa ada
tamu atas nama…
Lalu aku sadar aku melakukan hal bodoh lagi.
Ini lingkaran setan hubungan.
Aku sangat sibuk hingga tak punya waktu bertemu wanita.
Di hari liburku,
- aku tak punya teman kencan. - Aku juga.
Telepon saja pria itu, Priew.
Aku tak bisa lakukan itu.
Jika kami terus saling menghubungi untuk datang,
kami akan jadi pasangan.
Maka aku akan berada di lingkaran setan hubungan.
Saling merindukan.
Meninggikan harapan. Lalu kecewa.
Lalu bertengkar dan merasa bersalah.
Lalu berbaikan, lalu bertengkar lagi.
Benar. Aku juga muak.
Hubungan seperti itu membuang-buang uang, waktu, dan perasaan.
Kita akan bertemu Kiss pukul 14.00?
Rapatku sudah selesai. Aku di kantor.
Lama tak bertemu, Kiss.
Kukira kau akan meneleponku.
Tidak ada yang ingin kukatakan kepadamu.
Tapi aku masih menunggumu.
Tidak kusangka kita akan putus semudah itu.
Kau yang memutuskanku, Kiss.
Kenapa kau tidak menghentikanku?
Kau hanya tak berani mengakhirinya.
Kupikir kau tidak suka pria yang terus menempel padamu.
Kupikir kau mengenalku lebih baik.
Kurasa aku cukup mengenalmu.
Kau pikir kau sangat mengenalku,
tapi aku akan membuatmu lebih mengenalku.
Itu alasanku menerima pekerjaan ini.
Kuanggap kau sudah membaca proposalnya,
jadi, kita akan tanda tangani kontraknya hari ini.
Tidak.
Kita akan membahas perubahan rencana kerja dahulu.
Kau ingin aku jadi duta produkmu
tanpa melibatkanku dalam prosesnya.
Aku keberatan dengan itu.
Kurasa kita setuju yang kami inginkan darimu adalah ketenaranmu.
Ketenaranku adalah diriku.
Aku tak mau menaruh namaku di sembarang produk.
Jangan cemas.
Kami menganggap serius kualitas produk kami.
Semuanya berkualitas bagus.
Mode juga melibatkan aspek selera.
Aku tidak percaya kalian.
Tapi ini jaringan saluran belanja,
bukan butik pakaianmu.
Dibandingkan pekerjaanmu,
jaringan kami punya target kelompok yang berbeda.
Tapi tertulis di proposalmu kau ingin menargetkan penonton baru.
Benar, tapi mereka jelas bukan kelompok target biasamu.
Itu tidak penting. Jika kalian ingin memakai namaku untuk menjual produk,
kalian harus melakukan dengan caraku.
Pekerjaan kami melibatkan banyak proses.
Maple.
Jadi, kau ingin terlibat dalam setiap proses,
dari ide, perencanaan, desain,
sampai pemilihan produk dan pemasaran?
Ya.
Aku tak akan mempromosikan produk yang orang pilihkan untukku.
Mari kita rapat lagi.
Sampai nanti.
Awalnya kupikir kita akan berdebat soal uang.
Apa ini artinya
dia ingin kita menyesuaikan pekerjaan sesuai seleranya?
Dasar jalang.
Apa aturan penjualan pertama?
Tetap berpikiran terbuka.
Kita tak bisa menjual barang mahal seperti yang dia jual di jaringan kita.
Itu kesalahan keduamu.
Komunikasi.
Kapan Kiss bilang
ingin barang mahal?
Itu hanya asumsimu.
Kesalahan ketigamu adalah
kau ikut bicara
dan menyela stafmu di depan Kiss.
Dia akan menganggap timmu apa?
Itu tidak penting.
Kesalahan keempatmu.
Bagaimana sikap timmu pada Kiss?
Tidak baik.
Mereka mengikuti arahanmu.
Perkataan Kiss sangat profesional.
Dia lebih baik daripada mereka yang jual ketenaran tanpa melihat kualitas produk.
Meskipun begitu,
kau tetap penjual terbaikku.
Aku yakin kau akan menemukan cara untuk bicara dengan Kiss.
Bagaimana?
Cobalah mencari tahu.
Kau tak pernah mengecewakanku.
Terima kasih.
Ini. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini dengan Kiss
atau jadwal kita akan tertunda.
Mari bertemu hari ini. Aku merindukanmu.
Aku pulang larut hari ini, tapi aku akan menemuimu nanti.
Aku juga merindukanmu.
Kau menunggu telepon?
Kau terus melihat ponselmu.
Benar.
Halo.
Halo.
Tempat ini berantakan.
Apa dia sangat sibuk hingga tak sempat bersih-bersih?
KAMAR TERSEDIA
RUMAH SABAI
Hei, kau masih jadi sukarelawan?
Tetaplah di rumah dan fokus belajar.
Baik.
Kemarilah. Biar kupijat.
No comments yet. Be the first to leave one.