The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
Tim Ping Pong Nasional Korea pertama,
yang telah menanti selama 46 tahun,
telah menyelesaikan latihan mereka
dan kini menunggu untuk menunjukkan
kekuatan persatuan mereka kepada dunia.
Sejak tanggal 25 bulan lalu,
mereka sudah melewati Jepang
dan menetap di Chiba selama sebulan...
Kamu senang ayahmu bersamamu?
Kamu cantik sekali.
Anak ibu cantik sekali.
Anak ibu yang cantik senang, ya?
Siapa anak ibu yang senang?
- Tampaknya dia senang sekali. - Di pasti sangat menyayangimu.
Do Ran.
Kamu tampak senang.
Do Ran, kamu cantik sekali.
Lihat ke arah sini.
Do Ran, kamu senang?
Kamu cantik sekali.
Satu, dua, tiga!
"Episode 1"
"Harapan dan impian ada bersamamu"
Sub by VIU Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Kasus nomor 1991,
1875.
Perampokan dan pembunuhan.
Terdakwa Kim Yong Hoon.
Saya akan mengumumkan putusannya.
Kejahatan Terdakwa Kim Yong Hoon telah terbukti.
Oleh karena itu, berdasarkan Hukum Pidana, 250-1,
Pasal 333,
37,
dan 38 akan digunakan.
Maka, saya putuskan Terdakwa Kim Yong Hoon
dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
1410 Kim Yong Hoon,
ada yang berkunjung.
Yong Hoon, lihat dia.
Lihat dia.
Dia putrimu, Do Ran.
Lihatlah dia. Kumohon.
Apa-apaan ini?
Seharusnya kamu menghubungiku.
Aku tidak tahu istrimu sakit parah.
Kenapa tidak menghubungiku? Kenapa?
Rasanya aku mau gila
karena kamu seperti ini
usai istrimu wafat.
Terlebih lagi,
kenapa kamu tega
mengirimkan anak ini ke panti asuhan?
Kamu sungguh berniat
menjadikan dia yatim piatu seperti kita?
Sebaiknya dia hidup sebagai yatim piatu
daripada sebagai putri seorang pembunuh.
Apa?
Aku bukan ayahnya Do Ran.
Aku tidak mengenal anak itu.
Jadi, kumohon, bawa dia pergi
sekarang.
Aku akan membesarkannya.
Dong Chul...
Do Ran...
Putriku Do Ran...
Jangan cemas.
Aku akan membesarkannya dengan baik.
Aku akan memastikan
dia tumbuh dengan sehat dan cantik.
Kamu tidak perlu cemas.
Seperti kamu
yang merawatku
dan membesarkanku seperti adikmu sendiri,
aku akan menjadi ayah bagi Do Ran kita.
Kumohon.
Tolong pastikan
dia tidak akan tahu aku ayahnya.
Jangan sampai dia tahu.
Do Ran,
kini kamu akan hidup bersamaku,
pamanmu.
Tidak, ayahmu.
Ya.
Ayo pulang ke rumah.
Hei!
Kenapa kamu di luar? Pasti melelahkan bagimu.
Kamu membawa apa?
Apa ini?
Ayo masuk dahulu, baru bicara.
Kamu mau ke mana?
Siapa bayi ini?
Bayi siapa dia dan kenapa kamu membawanya?
Yang Ja,
kita harus membesarkan
bayi ini mulai sekarang.
Kini dia putri kita.
Apa?
Astaga, kamu baik-baik saja?
Dong Chul, kamu berselingkuh?
Bukan begitu. Kamu tidak memercayaiku?
Ini bukan bayi kita,
jadi, kenapa kita harus membesarkannya?
Kenapa?
Hanya kita
yang bisa membesarkan dia.
Tidak bisa. Aku tidak bisa membesarkannya.
Jika tidak ada yang bisa membesarkannya,
berikan saja ke panti asuhan.
Apa?
Jika kamu tidak mau, akan kubesarkan dia sendiri.
Dong Chul!
Aku berutang seumur hidup kepada orang tuanya.
Jika tidak mengadopsinya, aku akan dihukum.
Kamu mau aku dihukum?
Tidak.
Terimalah jika kamu mencintaiku. Percayalah kepadaku kali ini.
Kamu yakin orang tuanya sudah wafat?
Kamu yakin tidak ada lagi yang bisa membesarkannya?
Ya, hanya ada aku.
Dia hanya punya kita. Sungguh.
Teganya kamu melakukan ini kepadaku.
Teganya kamu melakukan ini kepada bayi kita.
Maafkan aku, tapi aku hanya punya kamu.
Tolong terimalah sekali ini saja.
Astaga, masa bodoh.
Terima kasih.
Aku akan lebih berusaha mulai sekarang.
Aku akan memperlakukanmu dengan baik selamanya.
Aku hanya akan mencintaimu.
Do Ran sudah makan.
Ya, dia menghabiskan 170 ml susu.
Sudah.
Popok?
Menurutmu aku tidak menggantinya?
Baiklah.
Belilah sundae saat pulang nanti.
Baik, sampai jumpa.
Siapa dia
sampai merusak hubunganku dengan Dong Chul?
Menyebalkan sekali.
Astaga.
Astaga, perutku.
Astaga.
Astaga.
Astaga, dingin.
Kak Do Ran.
Cuci sepatu ruanganku juga.
Dasar... Cuci saja sendiri.
Kenapa selalu meminta kakak melakukannya?
Kamu tidak punya tangan?
Ibu melarangku mengerjakan pekerjaan rumah.
Kakak tahu, aku lemah.
Sepatu ruanganku diperiksa di sekolah,
jadi, cuci yang bersih, ya?
Cuci sendiri.
Beraninya kamu menyuruh kakakmu.
Lepaskan rambutku!
- Lepaskan! - Cuci sendiri.
Ibu!
Mi Ran.
- Kamu baik-baik saja? - Apa yang Kakak lakukan?
Ini pakaian baruku.
Awas saja...
Kakak akan mati.
Astaga, lepaskan.
- Astaga! - Lepaskan!
Kamu yang lepaskan!
- Astaga! - Lepaskan dahulu!
Astaga, kalian ini! Ada apa?
Hei. Ya, Tuhan.
- Ibu. - Ya, Sayang.
Kak Do Ran
- memukulku lagi. - Astaga.
Astaga, Mi Ran.
Lihat, kamu mimisan.
Astaga, ibu sudah muak denganmu.
Teganya kamu memukul dia sampai mimisan.
Kenapa Ibu memukulku padahal tidak tahu apa-apa?
Karena Kakak mendorongku sampai jatuh ke air kotor
dan tidak mau mencuci sepatu ruanganku.
Seharusnya cukup bilang Kakak tidak mau.
Jadi, kamu yang mendorongnya lebih dahulu.
Kenapa tidak mau mencuci sepatu adikmu?
Ibu tidak mau putri sepertimu, jadi, keluarlah.
Keluar sekarang.
Kenapa Ibu selalu membenciku?
Kenapa selalu memihak dia?
Dia putri Ibu dan aku bukan?
Lihat dirimu, Anak Nakal.
Ya, aku bukan ibumu.
Aku mengambilmu dari bawah jembatan itu.
Jadi, cari ibumu di sana.
Mengerti?
Memuakkan sekali.
Mengerti? Keluar.
Ibu.
Ibu yakin
Ibu mengambil Kak Do Ran dari bawah jembatan?
No comments yet. Be the first to leave one.