The first 200 lines.
KING THE LAND
Aku sudah lama tak merasakan kebebasan.
Aku akan merapel jadwal main setahunku ke satu hari. Jangan cegah aku.
Jangan harap bisa tidur juga.
Kau girang sekali.
Kau sesenang itu sampai lupa Cho-rong?
Cho-rong juga butuh waktu sendiri.
- Dasar aneh. - "Dasar aneh."
- "Dasar aneh." - Permisi.
- Ya, Pak. - Ya, Pak.
Dasar penyakit. Kebiasaan kalian itu tak ada obatnya.
Dia bukan memanggil kalian. Duduk.
"Ya, Pak." Itu lucu sekali.
Aku paham sekarang.
Teka-tekinya berhasil kupecahkan.
Teka-teki apa?
Aku bisa maklum kalau Pak Gu menyebut dirinya manajer,
bukan manajer umum, karena takut teman-temanmu segan.
Namun, kenapa dia menyebutku asisten manajer eksekutif,
bukan manajer atau manajer senior?
Benar juga.
Itu karena aku adalah asisten manajer eksekutif
di hatinya.
Jadi, dia berniat untuk melatihku menjadi
asisten manajer eksekutif sejak dini.
Kurasa tak ada niat sedalam itu.
Tidak, pasti ada.
- Kau serius berpikir begitu? - Tentu.
Menurutku, kau salah.
- Pak Yoo? - Ya?
Kelihatannya tiket kita tertukar.
Mestinya kau di kelas bisnis.
Sungguh? Aku di kelas bisnis?
Tentu saja kau yang harus duduk di kelas bisnis.
Pak No, kau sudah dewasa.
Tak sia-sia aku mendidikmu. Kau sudah bisa berkorban demi atasan.
Tepuk tangan.
Menurutku, ada baiknya kau segera pergi sebelum aku berubah pikiran.
Terima kasih, Pak.
Jangan pernah berubah, Pak No.
Benar kelas bisnis. Kau duduk di sini.
Aku pamit ke kelas bisnis.
Pebisnis.
Hai.
Kau bisa saja.
Kenapa? Akhirnya aku bisa duduk di tempat yang seharusnya.
Tempatku itu selalu di sampingmu.
Bagus.
Memang kau nyaman duduk di sini?
Tentu saja.
Nyaman sekal…
Kenapa ini…
Kenapa tak bisa? Jangan-jangan rusak.
Tidak, kursinya baik-baik saja.
- Itu bisa. Kenapa? - Mestinya lebih rendah.
Hei, Pak No.
Ya?
Kau mengajak bertengkar?
Bertengkar kenapa?
Ini.
Akan kutendang kursimu jika diturunkan terus.
Aku akan lebih berhati-hati.
Siapa suruh tukar kursi? Kau jadi tak nyaman.
Aku bersedia berkorban demi bersamamu.
Ini lebih menyenangkan.
Hanya aku yang senang?
Tidak.
Aku juga senang.
Senangnya.
Senangnya.
Halo!
SEMANGAT
KAU CANTIK
Kita tiba.
Mari ikut aku.
Halo.
Tentu saja. Penginapannya pasti bagus.
Luar biasa.
- Astaga. - Hati-hati.
Awas tangga.
Apa ini? Hebat.
- Astaga. - Apa ini?
Menakjubkan.
Masih ada lagi.
Ikut aku.
- Ada lagi? - Masih ada kejutan lain?
Ayo kita berfoto.
- Satu, dua, tiga. - Ya.
- Kemari, kita foto bersama. - Kalian tampak cantik.
- Satu, dua, tiga. - Satu, dua, tiga.
Kolam renangnya agak kecil.
Kecil apanya? Ini sudah sangat besar.
Benar. Kau harus bisa bersyukur.
Pak Yoo, tempatnya bagus sekali.
Pak Yoo,
terima kasih.
Jangan sungkan. Ini belum seberapa.
Mari ke lantai dua. Di sana lebih bagus.
- Hebat. Ada lantai dua juga? - Ada lantai dua?
- Ayo! - Ayo!
- Lantai dua. - Ayo!
Ada apa di lantai dua?
Cepat kemari!
Lantai dua!
- No Sang-sik. - Ada apa di lantai dua?
Astaga.
Kamar kita di sini. Kamar kalian di sebelah kanan.
Kanan?
- Ya. - Sebelah sini?
- Ini? - Ini kamar kita.
- Ada apa di kamar kita? - Ini?
Tiga, dua, satu.
Sudah kuduga mereka akan berteriak.
Tinggi sekali.
Kamarku mana?
Ayo, Pak No.
Awas, kau…
Apa-apaan ini?
Kita total lima orang. Masa, hanya pesan dua kamar?
Itu cukup.
Satu kamar pria, satu kamar wanita.
- Kau tidur di mana? - Aku…
Tentu saja…
di sini.
Jadi, maksudmu,
kau dan aku
harus tidur bersama di kasur aneh ini?
Suasana di sini bagus. Apa salahnya?
Empuk sekali.
Berbaring di sampingku.
Kau ini…
Segera ganti penginapan.
Itu mustahil karena sudah dibayar.
Lazimnya satu kamar itu
untuk satu orang.
Satu hal lagi. Biar kuperingatkan.
Aku tidak bisa tidur sekasur dengan orang lain,
jadi, ganti penginapan atau berkemasah, lalu pulang ke Korea sekarang.
Paham?
Pak Yoo!
Ingat.
Aku manajer umum, atasanmu.
Mengerti?
Baik.
SEMANGAT!
- Tolong! - Jangan.
Hentikan.
Pak Yoo!
- Penginapannya bagus sekali. - Terima kasih.
Terima kasih sudah memesankan penginapan sebagus ini.
Seleramu memang berbeda dari orang lain.
Aku suka sekali tempatnya. Penginapan terbaik.
Menurutku pun begitu,
tetapi ada sedikit masalah soal penginapannya.
Masalah apa?
Masalahnya…
Begini…
Semua suka penginapannya.
Memang ada masalah apa?
- Sungguh kau tak masalah? - Ya.
- Serius? - Ya.
Masalahnya sudah tidak ada.
Syukurlah. Kini sudah tidak ada masalah.
Kalau begitu, ayo ikut berenang.
Kolamnya segar sekali.
Boleh juga.
- Lepas sepatu dahulu. - Aku tidak ikut.
Ayo ikut. Kita main air bersama.
Kalian saja. Aku ikut lain kali.
Lain kali apanya?
Kau cocok di situ.
EPISODE 10
Bagaimana? Kalian senang berenang?
- Ya. - Ya.
Syukurlah.
Biar kujelaskan jadwal hari ini.
Kita lihat situasi, lalu kabur.
Hari ini kita akan ke pasar malam yang sedang populer di Bangkok.
Kita kemari sebagai grup. Apa boleh begitu?
Tentu saja.
Wisata adalah bentuk kebebasan.
Memang mau ke mana?
Lihat saja nanti.
Pak No?
Pak Yoo sedang bicara. Simpan ponselmu.
Lanjutkan, Pak.
Jadi, untuk mencegah bahaya, aku sudah menyiapkan sesuatu.
Apakah itu?
Jawabannya adalah kaus seragam.
Kau memang hebat, Pak.
Masing-masing pasti punya selera.
Kenapa harus pakai kaus…
Terima kasih, Pak.
Ini untukmu.
Terima kasih.
Jadi, silakan pakai kausnya dan berkumpul di sini 30 menit lagi.
- Baik. - Baik.
Pak No.
Ayo!
Mau ke mana?
No comments yet. Be the first to leave one.