Release info

현재는-아름다워-It's-Beautiful-Now-E07-NEXT
A Commentary by Anangkaswandi

Tags

other
Published on: 2022-05-02
Downloads: 29
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Kau masih bekerja?

Mungkin aku harus pergi. / - Aku sudah selesai.

Benarkah sudah selesai saat kau bilang begitu?

Hanya karena kau katakan, bukan berarti selesai.

Bu Hyeon, bisa tunggu di ruanganku?

Klienku masih ingin membahas beberapa hal.

Ayo ke ruang rapat.

Sebenarnya, aku sudah tidak ingin.

Kau mengenalku. Saat aku tersinggung,

aku cenderung meninggalkan semuanya.

Aku malu meninggalkan kesan pertama yang aneh,

tapi aku bukan psikopat.

Tentu.

Kalau begitu, aku permisi. Dan maafkan aku.

Aku gelisah belakangan ini, sikapku berlebihan.

Baiklah.

Permisi.

Jika kau memberitahuku,

aku akan menunggu di lobi.

Ini bukan salahmu, Bu Hyeon.

Kukira kami sudah membahas semuanya,

tapi kurasa dia belum selesai.

Apa bunga itu untukku?

Ya. Biar kutaruh di mejamu untukmu.

Boleh aku masuk ke kantormu?

Tentu.

Aku juga

punya hadiah untukmu.

Kau sudah memesan tempat?

Ya, atas nama Lee Hyeonjae. / - Silakan.

Aku akan mengantarmu pulang. / - Aku tak apa.

Astaga, sungguh? Kau terluka?

Astaga.

Sial.

Aku

tidak memacari banyak wanita.

Benarkah?

Aku bersumpah.

Aku semurni salju.

Begitulah aku hidup.

Lihat aku sekarang.

Kenapa aku

repot-repot menjadi murni seperti salju?

Informan sialan itu.

Cobalah untuk tenang.

Terkadang dalam hidup,

kita bisa mendapat nasib buruk.

Kenapa kau melakukan itu kepadaku?

Tunggu. Apa dia tahu?

Kenapa kau melakukan itu kepadaku?

Maaf.

Aku sungguh minta maaf.

Kenapa?

Kenapa kau minta maaf?

Kenapa kau minta maaf?

Apa?

Tunggu.

Kukira dia tahu itu aku.

Kenapa kau melakukan ini kepadaku?

Nona Sun, dasar kau!

Aku harus meneleponnya. Tak bisa kubiarkan.

Astaga, tidak. Kumohon jangan.

Tapi ini tidak adil.

Baiklah. / - Ini tidak adil.

Kau tahu? Aku akan menelepon Hyeonjae untukmu.

Tidak, jangan! Kenapa kau meneleponnya?

Jangan Hyeonjae, astaga.

Baiklah. Aku tidak akan meneleponnya.

Astaga. / - Tunggu.

Apa lagi sekarang?

Setidaknya kau harus pulang.

Tidak, aku tidak akan pulang.

Aku tidak akan pulang.

Duduklah di sini.

Aku akan mencari tahu.

Baiklah, berhenti.

Aku mengerti.

Apa yang harus kulakukan denganmu?

Ayo.

Tidak, jangan. / - Aku...

Aku tidak melakukan apa yang kau pikirkan. Tunggu.

Silakan. / - Astaga.

Bangun. / - Kumohon jangan.

Cepat berdiri!

Baiklah. / - Bagus.

Bagus. Bagus sekali.

Baiklah. Ayo.

Ke sana.

Tidak, aku tidak akan pulang.

Aku tak mau pulang.

Aku mengerti. Aku takkan membawamu ke sana.

Sulit dipercaya. Mungkin kutinggalkan saja dia.

Sial, pergelangan tanganku sakit.

Nona Sun, aku meneleponmu sekarang.

Tidak, jangan telepon dia.

Ponselku tidak ada. Boleh kupinjam punyamu?

Ponsel? Pergilah ke sana denganku,

dan akan kuberikan kepadamu.

Ayo ke sana.

Aku akan menelepon Nona Sun hari ini.

Tidak. Baiklah.

Ayo ke sana dahulu. / - Aku akan meneleponnya.

Astaga.

Astaga, bagaimana ini?

Astaga. / - Sial, apa itu tadi?

Aku sangat lelah.

Dia masuk dengan memakai sepatu.

Kau bisa melepas sepatumu sendiri, bukan?

Di mana aku?

Rumahku.

Astaga.

Astaga.

Aku tidak bisa melepas ini.

Sudah lepas!

Baiklah.

Apa ini?

Tunggu, sepatumu...

Ayo bantu aku.

Terima kasih.

Baiklah. Selamat, Bu Hyeon.

Aku berutang semua itu kepadamu.

Terima kasih.

Benar juga, kuenya. Aku meninggalkannya di mobil.

Aku akan mengambilnya.

Tidak apa-apa.

Tidak, biar aku saja. Aku mengadakan ini untukmu.

Tunggu sebentar.

Kau tidak perlu ke tempat parkir.

Baiklah.

Aku harus menunggu sendirian sampai kau kembali.

Aku tidak suka menunggu.

Baiklah. Aku janji memeriahkan pesta hari ini.

Lakukan sesukamu.

Pertama, mari kita minum.

Baiklah.

Aku tak bisa makan steik setengah matang.

Aku menyukainya. Itu empuk,

jadi, renyah di luar dan kenyal di dalam.

Apa ada yang tidak kau suka?

Tidak juga. Aku suka semuanya.

Makan makanan enak membuatku merasa bahagia.

Jadi, aku tinggal mentraktirmu agar kau bahagia.

Lalu apa yang membuatmu bahagia?

Menurutku bukan makanan seperti aku.

Pasti sesuatu yang lebih mendalam.

Cinta?

Aku tidak percaya cinta.

Aku pernah mencintai hingga kehilangan diriku.

Setelah kami putus,

kukira aku tidak akan pernah bisa mencintai lagi.

Tapi ternyata aku bisa.

Meski tidak sekuat sebelumnya.

Kurasa aku

tidak pernah begitu kuat

mencintai seseorang.

Aku selalu berpikir tidak akan ada hari esok

jika aku tidak bekerja keras hari ini.

Aku hanya ingin belajar untuk masuk universitas

dan mendapatkan pekerjaan bagus.

Jika aku punya pekerjaan bagus,

kukira aku akan menikahi pria baik.

Begitulah aku menikah.

Tapi ternyata itu kosong.

Rasanya seluruh hidupku

dipertanyakan.

Jadi, aku mengubah diriku lebih dahulu.

Dahulu aku mudah memercayai orang.

Tapi setelah insiden itu,

aku tak bisa memercayai orang lain lagi.

Begitulah caramu tumbuh dewasa.

Setelah bertemu denganmu, aku berubah pikiran.

Jika aku tak memercayaimu,

kita takkan merayakan seperti ini hari ini.

Kau unik.

Kuanggap itu pujian.

Tentu. / - Baiklah.

Mau bersulang?

Apa pun yang membuatmu senang.

Ini.

Bersulang.

Kau sulit dipercaya, Bodoh.

Astaga.

Terserah.

Apa ini untuk Ibu? Akan kubawakan untuknya.

Baiklah.

Omong-omong, Mirae belum pulang.

Kurasa dia masih bersama pengacara itu.

Bukankah itu aneh?

Kenapa dia mengadakan pesta dengan pengacaranya?

Kau terlalu sensitif soal ini.

Aku gugup karena pernikahan Mirae berantakan.

Rasanya kita terjebak.

Pernikahan kita selalu lancar dan damai.

Kita belajar cara bersyukur dari insiden ini.

Terima kasih atas pelajarannya.

Kau menelepon Mirae?

Bukan, ibuku.

Kau sudah bicara dengan Ibu?

Tidak. Dia tidak menjawab.

Aku harus memanggilkan perawat.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left