The first 200 lines.
Apa?
"Episode 104"
Jadi,
Kakak akan mempertahankan Go Ya sebagai menantu?
Ya.
Aku akan berupaya untuk menerimanya.
Ada apa denganmu, Kak Sa Ra?
Jadi, Kakak lebih memilih dia,
dan mempertahankan aku?
Aku adikmu, bukan dia.
Aku tahu bahwa kamu adikku.
Itu sebabnya, ini lebih memalukan.
Kak Sa Ra.
Kamu pernah hamil.
Coba bayangkan penderitaanmu saat kehilangan bayimu.
Beraninya kamu menyuruh wanita hamil
untuk aborsi
hanya karena kamu menginginkan suaminya?
Bukan hanya itu,
Bisa-bisanya kamu kabur dengan uang untuk operasi?
Dan ternyata kamu juga
yang muncul setelah 10 tahun dan menggugat mereka demi uang.
- Kak, itu... - Kamu lebih hina daripada hewan.
- Kak, dengarkan aku. - Tidak.
Jika dipikirkan, mungkin ini semua salahku.
Seharusnya aku
membesarkanmu dengan lebih baik
menggantikan orang tua kita yang meninggal.
Ini salahku karena tidak mampu melakukan itu.
Jadi, jangan lagi membuat alasan.
Dan,
jangan melakukan hal yang lebih buruk lagi.
Aku tidak mau merasa malu
karena bersaudara denganmu.
Sa Ra.
Kuperingatkan untuk kali terakhir.
Go Ya masih menantuku.
Jangan macam-macam
dengan menantuku.
Kamu
tidak berhak melakukan itu.
Bibi baru saja pulang.
Tampaknya dia habis menangis.
Aku akan kembali besok.
Go Ya.
Sejujurnya, aku setuju dengan Bibi.
Soal apa?
Bahwa kamu harus pergi dari keluarga kita.
- San Deul. - Menurutku,
itu satu-satunya cara kamu bisa tinggal di rumah itu.
Coba pikirkan. Pikirmu kamu bisa terus berhubungan
dengan ibumu dan keluarga Oh Na Ra sekaligus?
- Aku akan berusaha. - Ada hal yang tidak bisa dilakukan.
Jangan begitu, dan lupakan kami.
Toh, ternyata Bibi bukan ibu kandungmu.
Jika kamu melupakan kami,
keluarganya mungkin akan menerimamu kembali.
Kamu pikir
kamu bisa melupakan seseorang yang selama ini
kamu anggap ibu karena ternyata dia bukan ibu kandungmu?
Semua orang berpikir ini mudah karena ini bukan urusan mereka.
Jangan terlalu memaksaku.
Tidak peduli jika orang-orang bilang dia bukan ibu kandungku.
Dia tetap ibuku,
apa pun kata orang.
Go Ya.
Bedebah itu.
Kenapa kamu menyulitkanku untuk membencimu.
- Ji Seok. - Kamu di mana?
Aku hampir sampai. Kamu di mana?
Aku selalu di sana, jika kamu ingin berbalik.
Kenapa kamu tampak sangat lesu.
Aku hanya lelah.
Mau kugendong?
Apa? Tidak.
Kenapa tidak?
- Ayo. - Banyak orang di sini.
Mungkin mereka akan cemburu
karena aku menggendong wanita cantik.
Ayolah.
Baiklah.
Aku merasa semua keletihanku hari ini sirna
karena aku bersamamu sekarang.
Maafkan aku.
Untuk apa?
Kamu berusaha keras.
Jangan bilang begitu.
Jangan merasa bersalah soal apa pun.
Aku mencintaimu.
Kamu boleh mengatakan itu.
- Apa aku tidak berat? - Kamu berat.
Aku hampir mati. Kakiku sakit.
- Turunkan aku. - Aku bercanda.
Aku bahkan tidak sadar sedang menggendongmu. Kamu ringan.
- Mau aku bernyanyi untukmu? - Tidak.
Kenapa tidak? Aku bisa bernyanyi.
Tidak.
- Kamu tidak bisa. - Apa?
- Ya. - Tidak, dengarkan lagi.
"Aku bersyukur telah bertemu denganmu"
Jangan.
"Aku pun bisa membelai rambutmu"
Rupanya kamu.
Wanita yang menghancurkan keluarga Go Ya.
Dasar perusak rumah tangga orang.
Aku yakin Ibu akan mengusirmu jika dia mengetahui
perbuatan jahatmu.
Tapi kuputuskan untuk mengusir seseorang.
- Siapa? - Itu
kamu.
Astaga.
Choi Go Ya.
Apa yang kamu lakukan kepada kakakku?
Bisa-bisanya dia memilih mengusirku?
Tidak. Ini buruk.
Aku tidak akan pernah kalah darimu.
Meski diusir,
aku tidak mau sendirian.
Ini pasti sangat sulit untukmu.
Selain keluargamu mengetahui
bahwa suamimu adalah keponakan Na Ra,
kamu bahkan mengetahui Yang Sook bukan ibu kandungmu.
Langsung ke intinya saja.
Aku harus kembali.
Kamu tidak penasaran dengan ibu kandungmu?
- Apa? - Siapa yang tahu?
mungkin saja ibu kandungmu juga sedang mencarimu.
Aku hanya punya satu ibu.
Ibulah yang sudah mendampingiku
selama ini.
Serta, hanya dia yang akan kupanggil ibu
dalam hidupku. Mengerti?
Baiklah...
Jika dia tidak mau tahu, maka tidak akan kukatakan.
Astaga.
Kenapa kamu memelototiku?
Ikut aku.
Ada apa dengannya? Dia tampak menyeramkan.
Ada apa?
Apa itu kamu?
Apa kamu
yang memberi tahu Go Ya semuanya?
Kamu yang lebih dahulu mengatakannya.
Meski itu benar,
seharusnya kamu menyangkalnya.
Jika tidak mau dia mengetahuinya,
- kamu harus lebih berhati-hati. - Pikirmu kamu berhak?
Siapa kamu sampai bisa bilang aku bukan ibunya?
Jangan khawatir.
Aku baru bertemu dengan Go Ya, dan dia bilang
kamu satu-satunya ibunya.
Dia tidak mau mencari ibu kandungnya.
Kamu bertanya kepadanya
apa dia mau mengetahui ibu kandungnya?
Aku hanya penasaran...
Kuperingatkan kamu.
Go Ya adalah putriku, tidak peduli apa pun.
Jika bicara omong kosong di depannya lagi,
aku akan menghabisimu.
Saat tinggal bersamaku, dia sangat lembut.
Apa yang membuatnya kasar begitu?
Astaga.
Tampaknya dia mau menjadi ibunya Go Ya.
Baiklah...
Aku tidak tahu lagi.
Jika kalian sangat ingin menjadi ibu dan anak,
aku akan
menutup mulutku.
Sudah ada kabar dari Tae Pyung?
Belum, Anda mau aku menghubunginya?
Tidak. Tunggu saja.
Jika terburu-buru, ini bisa berantakan.
- Maaf aku terlambat. - Tidak masalah.
- Pesan satu cappuccino. - Baik.
Halo. Bukankah Anda bibinya Ji Seok?
- Siapa kamu? - Aku sepupunya Ji Seok.
Kita pernah bertemu.
Maaf. Aku tidak mengenalimu.
- Itu sudah lama sekali. - Begini...
Anda membuat keluarga bibiku berantakan, bukan?
Bisakah kita bicara?
Begini,
aku pernah ingin kembali kepada kakakku dan Ji Seok.
Sebenarnya, aku masih ingin.
Begitu, ya.
Tapi lupakan saja.
- Kenapa... - Ji Seok tidak akan pernah
menceraikan Go Ya.
Jika memang ingin, dia tidak akan pernah mencoba
memberikan ginjalnya kepada adik istrinya.
Apa? Apa katamu?
- Ginjalnya? - Ya.
Aku mendengarnya dari Nenek.
Mereka sebegitu saling mencintai.
Sa Ra membiarkan itu?
Tentu saja tidak.
Go Ya hampir diusir karena itu.
Untungnya, ginjal Ji Seok tidak cocok.
Bayangkan jika dia menjalani operasi.
Bibi akan membunuh Go Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.