The first 188 lines.
Subtitle by iQIYI PecintaSosis
Kau suka merokok, 'kan?
Kau suka merokok, 'kan?
Kau suka hal-hal buruk seperti ini, 'kan?
Ayah tidak pernah mengajarimu terlibat dalam hal macam ini.
Kenapa kau merokok?
Kau seorang gadis, seorang pelajar!
Kenapa kau tidak belajar hal-hal yang baik?
Ayah akan memukulmu agar kau ingat!
Ingat!
- Hei, hentikan! - Ingat!
Apa kau mau membunuhnya?
Dia tahu dirinya salah.
Sudah berapa lama kau merokok?
Belum lama.
Kau dapat rokok dari mana?
- Dari seorang teman. - Siapa?
Siapa namanya?
Dia yang tepergok bersamamu, 'kan?
Dia tidak ada hubungannya dengan itu.
Aku merokok sendiri.
Bagus! Lihat sendiri hukumannya!
Kenapa kau harus berteman dengan siswi macam ini? Kenapa?
Sial!
Ibu!
Tidak apa-apa. Ibu akan pergi bersama Ayahmu besok.
- Ibu... - Tidak apa-apa.
Jika sikapmu seperti ini, kau tidak bisa tinggal bersama Ibu.
Kembalilah tinggal di Kanchanaburi bersama ayahmu.
Kau lebih cocok tinggal di sana.
Kau bisa berbuat apa pun semaumu.
Semester baru saja dimulai,
kau malah buat kesalahan besar.
Ada apa? Kenapa kau teriak-teriak?
Lihat ini.
Kau masih muda, tapi merokok?
Kau lupa kau seorang gadis?
Apa kau mau merusak reputasi kami?
Jangan seperti ini.
Ini kesalahan pertamanya.
Dia mungkin berteman dengan orang jahat.
Cepat bongkar barang-barangmu. Aku melarangmu pergi dari sini.
Tapi jangan ulangi kesalahan ini lagi.
Jika ada masalah, bahas pelan-pelan.
Jangan pakai pendekatan keras hati.
Mungkin Pu melihat temannya merokok dan dia hanya mau meniru temannya.
Jangan sering-sering memihaknya. Nanti dia sombong.
Ayolah.
Ibu!
Bu, pelan-pelan. Itu sakit.
Memang. Besok pasti akan memar.
Entah apa kau sungguh berbuat salah.
Tapi Ayah seharusnya tidak memukulmu.
Terserah! Pergi kerjakan PR-mu.
Padahal aku memihakmu. Aku pergi.
Jangan berdebat dengannya.
Mangkud hanya mencemaskanmu.
Ibu juga penasaran, seperti Ayahmu.
Sudah berapa lama kau merokok?
Jika kubilang aku tidak merokok, apa Ibu akan percaya padaku?
Tentu saja Ibu percaya putri Ibu.
Kenapa tidak beri tahu Ayahmu hal yang sebenarnya?
Dia tidak akan mendengarkanku.
Dia hanya percaya pendapatnya sendiri.
Ayah merasa dirinya selalu benar.
Seperti ketika dia mengira Ibu berhubungan dengan pelanggan itu.
Apa menurut Ibu kejujuranku akan ada gunanya?
Aku sudah menghukum mereka
dan menyuruh wali kelas mengurangi poin mereka.
Ini kesalahan pertama mereka.
Kami tidak mau menghukum mereka dengan berat.
Kami memanggil para orang tua hari ini
karena mau memberi tahu bahwa putri kalian kecanduan narkoba.
Walau hanya rokok, jangan anggap itu sepele.
Karena pengguna narkoba biasanya mulai dari mengisap rokok.
Aku mengerti.
Mulai sekarang,
aku akan menjaga dan mengawasi putriku.
Kenapa kau memakluminya semudah itu?
Sepertinya putrimu merokok tiap hari.
Makanya kau terdengar begitu toleran.
Tapi putriku tidak pernah merokok.
Kurasa putrimu mengajari putriku merokok.
Bagaimana kau bisa mengatakan itu?
Bu Guru baru saja bilang bahwa kedua putri kita merokok!
Aku tidak percaya itu. Aku mantan guru.
Aku mengajari putriku dengan baik.
Ayah, aku merokok sendiri.
Tidak ada yang mengajariku.
Tidak apa-apa, Sayang.
Kuharap para orang tua merawat putrinya dengan baik.
Aku sudah membuat catatan hukuman untuk ditandatangani orang tua.
Jika mereka mengulangi lagi kesalahannya,
sekolah terpaksa mengeluarkan mereka.
Jika kau masih menganggapku ayah,
putuskan persahabatanmu dengan gadis itu!
Jika sudah selesai, aku permisi dahulu.
Selamat tinggal.
Kau sadar akibat perbuatanmu?
Orang luar menuduh Ibu merusak putrinya.
Jika hal seperti ini terjadi lagi,
Ibu akan memulangkanmu ke Kanchanaburi untuk tinggal bersama ayahmu.
Bagaimana kondisimu?
Aku minta maaf atas ucapan ayahku.
Tidak apa-apa. Aku khawatir soal ibuku.
Aku takut akan dipulangkan ke Kanchanaburi.
Aku sudah dengar.
Seharusnya tidak masalah. Ibumu hanya marah.
Aku tidak akan kembali ke Kanchanaburi semudah itu.
Mau pergi menemui Duean dan Pam sore ini?
Kurasa tidak.
Aku mau pulang lebih awal hari ini.
- Sampai jumpa. - Baik.
Apa kau baik-baik saja?
Kenapa kau terlihat sedih?
Karena ada masalah di sekolah.
Hari ini, orang tua kami dipanggil pihak sekolah.
Itu bukan apa-apa.
Orang tuaku juga pernah dipanggil.
Kenapa mereka memanggil orang tuamu?
Karena merokok.
Aku ketahuan merokok di sekolah.
Lalu Ngoh terseret bersamaku.
Aku mungkin akan dipulangkan ke Kanchanaburi.
Hei, benarkah seserius itu?
Kurasa ibumu tidak sekejam itu.
Entahlah.
Pikiranku kosong saat ini.
Jangan memaksakan dirimu.
Biarkan waktu berlalu dan semuanya akan baik-baik saja.
Ayo.
Kita harus jalan-jalan dan merasakan angin menerpa wajah kita.
Ini membantumu merasa lebih baik.
Donat enak!
Selamat datang di toko kami untuk mencicipi donat! Terima kasih.
Halo, kami juga punya penawaran khusus.
Selamat datang di toko kami untuk mencicipi donat! Terima kasih.
Ada apa, Pam?
- Apa kau butuh balsam esensial? - Boleh.
Hei.
Ini panas sekali mungkin aku akan pingsan.
Aku akan istirahat sebentar.
Hanya sebentar.
Apa kau merasa lebih baik?
Jauh lebih baik.
Terima kasih.
Ayah, apa kau tahu aku hampir berbuat salah hari ini?
Ada pelanggan membeli donat seharga 85 baht.
Dia memberi selembar uang 100 baht dan kupikir itu uang 500 baht.
Aku memberinya uang kembalian 400 baht.
Untungnya, dia mengembalikannya padaku.
Jika tidak, aku terpaksa kerja berhari-hari untuk melunasi utang.
Kita sangat beruntung, Ayah.
Ibu mendapat pekerjaan baru.
Aku juga dapat kerja paruh waktu.
Sepertinya otot Ayah makin kuat.
Kau tampak manis dengan kostum babi itu.
Apa tidak mau diteruskan?
Jika diteruskan, aku bisa mati dalam kostum itu.
Joe, kau harus mencobanya, kau akan mati kepanasan.
Kubayangkan diriku pakai kostum itu. Aku akan terlihat mengerikan.
Aku tidak semanis dirimu.
Kupikir juga begitu.
Lalu sekarang bagaimana?
Kau tidak mau cari penghasilan tambahan?
Aku bisa berpatroli kembali untuk ibuku.
Jika dia menang banyak, aku dapat bonus tambahan, tahu?
Bagaimana jika dia kalah banyak?
Maka nasibku juga apes.
Apa kau tahu?
Jika mau punya penghasilan tambahan,
aku bisa membantumu.
Tidak perlu.
Aku belum pulih dari pekerjaan paruh waktu terakhir.
Akan kukabari jika aku sudah siap.
PR kita terlalu banyak.
Benar. Ini tiada akhirnya.
Boleh kusalin?
Aku akan menyalin darimu.
Ini, aku membelikannya untuk kalian.
Terima kasih.
Ambillah.
Kalian sudah memutuskan
kita mau membuat laporan di mana?
Belum, rumah mereka terlalu jauh.
Tidak ada toko alat tulis atau toko buku di dekat rumahku.
Apa kita boleh ke rumahmu, Ngoh?
Tapi rumahku cukup bising, terutama saat malam. Ada banyak orang.
No comments yet. Be the first to leave one.