The first 200 lines.
Ternyata benar Song Dae Hwi adalah X.
Dia kira karena dia pakai jaket aku tidak tahu?
Kau benar-benar membuatku cemas.
Jadi kau?
Ya, bodoh. Kau ini gigih juga rupanya.
Kau hampir saja membuatku tertangkap.
Kau.
- Apa? - Kau penirunya, 'kan?
Apa kau meminjamnya dari Duk Soo?
(Sesuatu yang Tidak Tercatat dalam Evaluasi Siswa)
Apa? Peniru?
Aku tidak melakukan sesuatu yang tidak orisinal.
Aku tidak suka meniru-niru.
Aku juga tidak suka orang yang suka meniru.
Oh, ya. Jadi begitu.
Astaga. X-nya ada di sini nih!
Kau sinting, ya? Apa kau sudah gila?
Kenapa banyak sekali yang meniru X?
Memangnya kau anak-anak?
- Hei. - Apa?
Apa?
Apa kau X yang asli?
Ini tidak masuk akal.
Tidak memercayai orang, itu adalah kebiasaan buruk, loh.
Kenapa juga kau jadi X?
X itu memperjuangkan keadilan, dan..
Dia juga tampan, peringkatnya bagus..
Kenapa X-nya kau?
Aku masuk ke dalam semua kriteriamu itu.
- Cocok sekali. - Apaan..
Baiklah. Ini. Senang kau sekarang?
Kau tidak punya luka di pinggangmu 'kan?
Tentu saja, lukanya bukan di pinggang.
Tapi di sini.
- Kau mau lihat? - Lupakan saja!
- Haruskah aku buka celanaku? - Lupakan saja!
Dasar mesum.
Lantas apa?
Apa itu artinya kau memang X?
Ya.
Kau ini..
Astaga, aku jantungan.
Apa-apaan ini?
Apa kau benar-benar X?
Kenapa kau melakukan hal-hal semacam itu?
Hanya karena aku kesal dan bosan.
'Hanya karena'?
Bosan?
Apa itu menyenangkan bagimu?
Tanpa tahu apa-apa,
aku ke sana-kemari mencari X.
Apa bagimu itu lucu?
Apakah kau tidak menganggapku ini bodoh dan menyedihkan?
- Ra Eun Ho. - Aku merasa benar-benar putus asa.
Kau mungkin saja melakukannya..
karena kau kesal dan bosan,
tapi karena perbuatanmu itu, aku..
menderita sekali jadinya.
Makanya aku menyelamatkanmu.
Menyelamatkanku?
Tae Woon.
Kalau mau main pahlawan-pahlawanan, main saja kau sana sendiri.
Aku tahu sekarang.
Karena ini semua bukan masalah bagimu.
Walaupun..
kau ketahuan, lagipula ini 'kan sekolah ayahmu.
Apa aku salah?
Hei, kau sudah keterlaluan.
Kalaupun kau tertangkap kau akan baik-baik saja.
Hei..
Apa barusan kau dengar sesuatu?
Tidak.
Di sini bukan tempatnya, loh.
Di sini cuma tempat penyimpanan barang bekas.
Tapi aku punya firasat tentang tempat ini.
- Aku yakin. - Dengar.
Apa kau memang tidak pernah mendengarkan orang lain?
Memang tidak.
Hei.
Kalau kita tertangkap sekarang, kau akan dianggap kaki tangan.
Di mana kuncinya? Apa kau masih belum menemukannya?
Aku sudah berusaha mencarinya.
Tapi sudah kubilang, di sini bukan tempatnya.
Kalau begitu, akan kuhancurkan pintunya.
Apa?
Aku paham.
Mari kita hentikan sekarang.
Apanya?
Kaulah yang harusnya berhenti melakukan hal kekanak-kanakan itu.
Karena kau..
Berengsek egois.
Aku tidak mau melihatmu lagi.
Laporkan saja aku kalau begitu.
Lakukan kalau itu memang maumu.
Baguslah.
Lagian aku juga mau berhenti, kok.
Ya, aku memang mau melaporkanmu kok.
Kau 'kan tidak takut pada apapun.
Karena ayahmu,
sekolah ini seperti taman bermainmu,
dan anak-anak lain adalah mainanmu, apa aku salah?
Ternyata begitu.
Jadi kau anggap aku begitu.
Kau betul-betul memahamiku.
Kalau begitu jaga kelakuanmu itu.
Aku tahu kau kesal dan kebingungan,
tapi kau cukup mengatakan apa yang kau tahu.
Tentu saja.
Tentu saja..
mana berani aku bicara sembarangan tentang anak pemilik sekolah ini.
- Aku juga tahu posisiku. - Setidaknya kau sekarang..
sadar siapa dirimu.
Sistem pelaporan dan pengurangan poin,
makan siang berdasarkan peringkat,
dan mengumumkan nilai di depan umum,
semua sudah dilaporkan ke Kementrian Pendidikan.
Mereka menganggap kita melakukan kekerasan terhadap anak-anak.
Aku tidak tahu mau mengatakan apalagi.
Kita bisa membebaskan diri kali ini,
tapi anak-anak zaman sekarang sesuatu sekali.
Terutama si kunyuk itu.
Benar, aku akan melakukan apa saja yang bisa kulakukan..
untuk menangkap X.
Dia mungkin saja bukan siswa biasa.
Kau harus mengungkap semua perbuatannya itu..
dan meminta pertanggungjawabannya.
Kau 'kan tidak takut pada apapun.
Sekolah ini adalah taman bermainmu,
dan anak-anak lain adalah mainanmu, apa aku salah?
Kau bahkan tidak tahu apa-apa.
Aku tahu kau merasa kesal dan kebingungan,
tapi katakan saja apa yang kau tahu.
Hai, Nam Joo.
Duduklah di sini.
"Dia membaca buku lagi."
Itu 'kan yang kau pikirkan?
"Kunyuk." Aku juga memikirkan itu.
Ini.. Buku ini..
Aku tahu. Kau membacanya karena sebentar lagi ada evaluasi siswa.
Kau harus membacanya agar bisa mengisi semuanya.
Sepertinya tidak ada yang perlu kau cemaskan.
Kenapa?
Maksudku..
konsultanmu akan mengurus semuanya.
Termasuk evaluasimu.
Ya, begitulah.
Apa kau juga akan magang di perusahaan ayahmu?
Perusahaan ayahku?
Bukankah perusahaan itu dulunya didirikan oleh kakekmu?
Sepertinya sejarahnya sudah lumayan panjang.
Simgang Logistics.
Aku tahu sedikit saat sedang melakukan riset.
Apa kau mencemaskan sesuatu?
Kau kelihatan tidak nyaman.
Tidak. Aku baik-baik saja.
Bandingkan dengan evaluasi tahun pertama kalian.
Tandai bagian yang harus kalian masukkan..
untuk tahun kedua kalian.
Mungkin saja ada yang Bapak lewatkan.
Kalian tahu 'kan kalau tidak dibenarkan memberitahukan pada orang lain..
tentang evaluasi semester kalian?
- Kenapa begitu, Pak. - Astaga.
Penghargaan, sertifikat, rencana pribadi..
Jangan sampai ada yang terlewat.
Buatlah rencana masa depan yang detail..
melebihi yang sudah kalian buat tahun lalu.
Kalian tahu 'kan kalau evalusi ini akan menggambarkan siapa diri kalian.
- Buatlah yang bagus. - Baik, Pak.
Kalau ada yang perlu kalian konsultasikan, silakan temui Bapak.
Bisa kau percaya ini?
Mereka bilang aku seperti ini.
"Dia memiliki banyak pikiran dan selalu ceria."
Apa aku..
banyak berpikir?
Sebaiknya mulailah berpikir dari sekarang.
Apa?
"Dia sangat terus terang dalam mengungkapkan pendapatnya."
Itu 'kan kau, Tae Woon.
"Terus terang."
Benar-benar deskripsi yang parah.
Evaluasi siswa itu untuk apa?
Anak-anak langsung heboh begitu mendengar soal itu.
Itu seperti..
catatan kehidupan mereka.
Mereka bisa masuk kuliah dengan evaluasi itu.
Mereka bisa masuk kampus..
berdasarkan seberapa bagus evaluasi mereka ditulis.
Pak Shim.
Aku harus bicara dengan Bapak.
Evaluasiku memerlukan bantuan mendesak.
Apa yang akan terjadi pada anakku?
Astaga. Apa yang harus kulakukan?
Minggirlah!
Evaluasinya sedang dalam keadaan kritis!
- Cepatlah! - Oh, tidak!
- Eun Ho! - Cepatlah.
Silakan tunggu di sana.
Dokter mohon selamatkan anak kami.
Dia harus masuk universitas bagaimanapun caranya.
- Percayalah pada kami. - Dia tidak begitu berbakat,
No comments yet. Be the first to leave one.