The first 200 lines.
Sudah dua bulan sejak aku kembali pada Jubjang.
Seperti inilah aku membayangkan kami.
Tapi kenyataannya,
dia tidak punya waktu untuk ini.
Jangan naif denganku.
Katakan mereka tak boleh terlambat.
Bagaimana jika Pengadaan mengejarnya?
Kau belum sarapan. Kau akan pergi?
Kau sudah periksa persediaan pakaian?
Jubjang bekerja terlalu keras.
Terkadang dia pulang
sangat mengantuk.
Hei.
Makanlah.
Banyak tagihannya menunggak.
Dia tidur dengan tangan mengepal.
Dia pasti sangat stres.
Lengannya penuh memar.
Saat aku bertanya padanya,
dia bilang tidak tahu bagaimana bisa begitu.
ALARM
Butuh lima alarm untuk membangunkannya.
Dia tidur kurang dari empat jam sehari.
Dia sangat sibuk
sampai tak pernah menyadari mawarku
mekar
atau layu.
Dia sangat sibuk
sampai tidak menyadari alasan dia menangis
karena dia mencintai pria itu.
Aku lapar.
Apa makan malamnya?
Astaga.
Warnanya cantik sekali.
Apa ini wanita yang menangis tadi?
Secantik apa pun dirimu, aku akan memakanmu
karena aku lapar.
Bagaimana suasana hatinya bisa berubah begitu cepat?
Kau tahu, saat aku kembali bekerja,
orang akan memanggilku Nona 5.000 baht.
Apa artinya "5.000 baht?"
Itu artinya
tingkat penjualanku 5.000 baht per menit,
yang merupakan rekor terendah.
Mereka bilang begitu?
Mereka katakan hal lebih buruk.
Tempat kerja itu seperti ring tinju.
Orang-orang menendang saat kita jatuh.
Kau tahu siapa yang menciptakan nama itu?
Baik.
Terima kasih.
Hei, Nona 8.000 baht.
Kau tidak malu di depan anak-anak?
Nilai penjualanmu 8.000 baht per menit.
Apa kabar, 7.000 baht?
Satu amerikano dingin dua seloki kopi.
Kau sudah cukup lama berdiri di sini.
Kau tak tahu mau pesan apa, 7.000 baht?
Kenapa kau tersenyum?
Liftnya penuh.
Keluar.
Aku tahu kau di sini lebih dahulu,
tapi mereka yang hanya menghasilkan 6.000 baht per menit
tak seharusnya berada di sini.
Itu tak pernah terjadi padaku.
Tapi saat itu terjadi,
itu mencetak rekor baru.
Angkaku jadi rekor terendah.
Pria bernama Kan ini,
seperti apa dia?
Dia yang melatihku.
Lihat pegawai lain.
Kau tak lihat cara mereka kerja?
Untuk apa bergadang semalaman
jika ini usaha terbaikmu?
Kau ingin lulus masa percobaan?
Kenapa kau menyerah?
Belajarlah memanfaatkan pengaruhmu untuk keuntungan terbaikmu.
Kan, ini detailnya…
Kau sakit?
Ya, dokter bilang…
Kau tak bertanggung jawab jika kau sakit.
Kau tak peduli pada dirimu.
Kenapa kau menangis di sini?
Kau tidak malu?
Jika sudah selesai menangis,
kembalilah bekerja.
Terhadapku,
dia benar-benar kejam.
Entah kenapa.
Saat berada di dekatnya,
aku merasa tenang.
Bagaimana dengan kekurangannya?
Aku yakin ada.
Ada satu.
Dia pernah mengencani Kiss.
Ya!
Selamat. Ini kali pertamamu dan terjual habis.
Terima kasih.
Itu juga berkat kau yang memperkenalkanku
ke industri saluran belanja.
Bagaimana menurutmu?
Itu menyenangkan.
Tapi aku mungkin akan segera bosan.
Kau pakai kalung itu lagi, Kiss?
Kekasihku yang membelikannya.
Meskipun kami sudah putus,
aku masih mencintainya
dan merindukannya.
Ada yang harus kulakukan.
Sampai jumpa Senin.
Masuklah.
Sampai kapan kau akan terus menghindariku?
Kan.
Kau tahu.
Aku tak pernah memohon pada siapa pun.
Tapi kau…
Kau pengecualianku.
Kalau begitu, jangan memohon.
Kau hanya menghargaiku setelah aku pergi.
Kau ingin semuanya sama?
Jangan buang waktumu.
Kau hanya tak suka kehilangan ikan yang kau tangkap.
Saat kau bersamaku,
kau terus mencari yang lebih baik.
Teruslah manfaatkan pesonamu.
Kau tahu apa kata mereka tentangmu?
Mereka bilang kau mudah dirayu.
Apa aku mudah?
Maksudku
kau harus pikirkan baik-baik
sebelum melakukan sesuatu.
Kiss.
Aku tak pernah mengira kau orang seperti ini.
Kau memanfaatkanku.
Apa maksudmu?
Kau memberiku setelan ini dan membuatku menghubungi desainernya
yang kau tahu adalah pilihan buruk.
Kau menyabotase kami.
Itu konyol.
Kau tak bisa salahkan kami atas penilaian burukmu.
Itu karena menurutmu kita tidak satu tim.
Benar. Kalian amatir.
Mudah tertipu.
Kenapa kau bilang begitu?
Kiss bukan orang seperti itu.
Aku yakin itu.
Kenapa kau tak bilang itu tidak benar?
Jika mereka mengenalku,
mereka akan tahu itu tak benar.
Aku tak tahu harus bagaimana denganmu.
Aku mungkin kalah, tapi aku tidak sedih. Aku tidak berkecil hati atau sedih.
Itu karena aku orang yang tangguh.
Kita tidak bisa sukses jika tidak pernah gagal.
Itulah kehidupan.
Kita harus berpikir positif.
Kau benar.
Jadi, aku akan terus berjuang. Aku tak akan menyerah.
- Ayo. - Tunggu!
Aku menang!
Aku harus tampil maksimal setelah kalah darinya.
Aku tidak bisa terus cemas atau memikirkannya
karena tak akan ada yang membantuku.
Ini adalah hidupku.
Yang lain adalah orang asing.
Kau sungguh bisa melupakannya?
Tentu saja. Kau belum pernah dengar
bahwa hidup adalah soal sudut pandang?
- Begitu rupanya… - Ya.
Itu bagus.
Tapi kurasa
ada yang mengganggumu.
Kau mencintai Kan.
Karena itulah kau terluka
dan itu membuatmu menangis.
Menurutmu apa yang menggangguku?
Kau mencoba mencari alasan untuk segalanya
dan mengabaikan perasaanmu.
Coba tanya dirimu
alasan kau menangis.
Cari tahu itu sebelum mencoba bahagia seperti ini.
Lalu apa yang harus kulakukan?
Haruskah aku duduk di sini dan menangis?
Tidak mungkin.
Tidak ada salahnya dengan itu.
Itulah saat kau bisa bersama dirimu sendiri
dan memikirkan yang kau inginkan.
Kau pernah melakukannya?
Ya, pernah.
Benarkah?
Kapan? Katakan.
Saat itu aku masih SMA.
Aku sendirian di sana saat itu.
Hidupku berantakan.
Aku bingung dan menderita.
Aku tak lakukan apa pun seharian
kecuali bersedih dan menangis.
Lalu aku menemukan musik.
Musik membuatku menyadari keinginanku.
Apa yang kau inginkan?
No comments yet. Be the first to leave one.