The first 200 lines.
Kawan, kau tak perlu banyak teman.
Yang kau perlukan hanyalah teman yang baik.
Seseorang pernah berkata,
..di suatu halaman web,
..hanya sahabat sejatilah temanmu.
Tapi siapa yang mau menolak, kalau punya banyak teman?
Mereka ini bukan teman-temanku.
Aku seorang yang penyendiri. Aku punya terlalu banyak kekurangan.
Aku tak punya teman, kekasih, atau pun pengagum.
Rasanya seperti ada huruf L di kepalaku.
Jadi, aku lari dari kenyataan, dan terdampar di sini.
Astaga! Temanku baikku pulang hari ini.
Tak ada yang namanya orang asing, yang ada hanya teman baru yang belum kau temui.
Yang mana ya? Jam 7 waktu Thailand atau Amerika ya?
Jack!
Jack! / Ayo pergi! / Ke mana?
Tunggu, mengapa kita lari?
Tunggu! Ah....ahhh..
Kau lari dari orang itu? / Bukan lari, tapi aku ada masalah dengannya./ Hah?
Siapa kau? / Dia sangat.. seksi... wow...
Siapa kau?! Aku Bob./ Hey, berhenti! Tunggu!
Aku tidak mengerti, mengapa mereka memanggilku? / Dia memanggilku, kawan.
Karena aku bawa ganja. / Maksudmu, ganja sungguhan? / Ya!
Ganja?! / Ya. Kalian mau?
Ayo cabut! / Ayo, ayo! / Tunggu!
Berhenti! / Bagus! Tepat sekali.
Kami beli 2 Som Tam pedas.
Sudah kubilang, tidak ada ganja. Aku hanya bercanda.
Tidak ada ganja, cuma bercanda saja.
Sedang apa kalian?!
Dia teroris! Dia punya senjata!
Tangkap dia!
Siapa kau sebenarnya? Teroris internasional?
Who..Are...You!
Aku di sini bersama temanku, Jack dan Josh. / Angkat tangan! Jangan bergerak!
Kami cuma bercanda.
Oh.. Kami mau pergi ke Phuket..
Benarkah? Kau pergi dengannya? / Ya! Ya!
Ya, kan? / Dia bilang apa? / Dia bilang dia bersama mereka.
Dapat?
Tidak ada! Mungkin mereka memang tidak bohong.
Jangan lakukan ini lagi. Kalian membuat kami tampak jahat.
Oh! Maaf, maaf..
Polisi Thailand sungguhan!/ Selamat datang di Thailand! / Terima kasih!
Ay! oh..
Ay..yah...Selamat datang, selamat datang!
Hey, aku punya hadiah untukmu. Ini.
Rokok. Aku tak merokok, tapi tidak apa-apa.
Oke..
Kurasa ini bukan rokok. Coba kau lihat.
Cium baunya.
Ya, ini rokok ganja.
Apa kau setuju membawanya bersama kita?
Kau yang bilang. Tak ada yang namanya orang asing.
Hanya teman baru yang belum kita temui.
Kita akan mengenalnya dalam perjalanan ke Phuket.
Entahlah, kawan.
Aku lebih suka membawa gadis.
Setidaknya dia akan membantu membelikan bensin.
Hey! Kau janji? Jangan buat masalah lagi, oke?
Khob Khun Krab! (Terima kasih)
Dia gila!
Lebih cepat, lebih cepat, kawan.
Hey, dia mengejar kita.
Hebat, dia ingin balapan!
Ayo, ayo, ayo! / Diam!
Jack injak gasnya! Dia semakin cepat!
Hey, jaga mulutmu lain kali!
Ingat!
Lain kali, jaga mulutmu!
Tolong, isi anginnya.
Bannya kempes, tolong dipompa.
Ban kempes seperti punyamu, akan meghabiskan semua anginku!
Aku sedang makan siang. Mengganggu saja!
Pompa sendiri, lalu bayar di sebelah sana.
Apa? Aku yang pompa? / Itu kebijakan baru tokoku.
Mulai sekarang pakai prinsip swalayan, kau yang perlu, kau yang pompa, mengerti?
Oke.
Mana Kang? / Siapa? / Kang.
Buka matamu lebar-lebar dan lihat sendiri. Dia tak di sini.
Gila!
Hey, berhenti meracuniku!
Menurutku sebaiknya kau jual saja anakmu, si Kang itu. / Kenapa?
Anakmu selalu main di Gym Kick Boxing, kalau dia tidak di sini,
..ya berarti dia di sana. Eh, mengapa perempuan itu selalu di sini?
Memangnya kenapa?
Kami tak membicarakanmu! Mengapa kau selalu kasar?
Mengapa kau tak ikut kick boxing, itu cocok buatmu.
Aku mau kalau aku bisa.
Oh ya?
Hey, jangan ikut kick boxing, ikut ini saja. Temanku di Phuket mengirimkannya padaku.
Kurasa mungkin kau tak tertarik, karena pentasnya sempit dan bayarannya kecil.
Hey! / Apa? / Berapa ongkosnya?
Kau datang ke sini tiap hari dan kau masih bertanya? 5 baht!
Tak ada diskon? / Tagihan listrik semakin mahal!
Alamak! Cuma 5 baht, mengapa kau bayar pakai uang 1000 baht?
Cuma ini yang ada.
Dasar gila! Aku tak punya waktu menukarkannya.
Heh, ini kebijakanku! / Kebijakan apa?!
Jika kau mau dibayar, kau harus menukarkannya.
Kau gila? ... Kau serius? / Iya! / Kalau begitu tunggu di sini!
Akan kutukarkan uangmu.
Paman, sudah selesai. / Oh, terima kasih.
Mengapa kau pulang lebih awal?/ Aku mau menyiapkan makanan untuk Ayah.
Oke, pergilah.
Nanti kalau Kang sudah datang, kusuruh dia ke rumahmu.
Oke, oke. Terima kasih!
Masih juga mencari si Kang.. / Hey, mana Jino?
Jino! Bawa celenganmu ke sini! Tunggu!
Ini. / Bagus, Jino. Ayo kita lihat.
Astaga, aku tak bisa menerima uang recehan..
Oh ya? Jika kau tak mau repot, jangan pakai motor, pakai mobil saja.
Lihat, banyak mobil bagus.
Sekarang orang pakai mobil.
Berapa kembalian uangmu? 995 baht. / 995 baht!
Jino, bayarkan ke dia.
1 baht, 2 baht...
Sial, kalau begini bisa semalaman menunggunya.
Ada apa dengan tanganmu?
Kesal juga membawa dia bersama kita.
Lihat, wajahmu seperti monyet!
Wajahmu lebih parah lagi!
Ah...Muay Thai! (kick boxing Thailand) Aku suka Muay Thai!
Hey, cepat! Hentikan dia sebelum dia berulah lagi!
Bob!
Tendang! Tendang lebih kuat! Tendang lebih kuat lagi!
Lebih kuat! ...ahhhh..
Ada apa denganmu? Mengapa loyo begini?
Kau harus menedang dengan kuat. Tendang aku, tendang!
Tendang dengan kuat! Tendang aku, tendang!
Oh, bagus. Seharusnya begitu kalau menendang.
Siapa kau? Beraninya kau menendangku!
Jangan hiraukan dia. Dia tak tahu apa-apa.
Hah! Kau kira aku bodoh?
Yeah! Kau mau latihan denganku? Ayo! / Beraninya kau menginjak ringku./ Turunkan dia!
Ya, kau...
Bob! Kau mau mati?
Turun!
Tunggu! Siapa yang suruh kalian turun? Kalian harus menang atau kalah baru bisa keluar.
Pilih lawanmu.
Luar biasa!
Aku?! / Bukan, yang di belakangmu.
Apa yang kau lakukan?! / Tak ada.
Kalian sangat kekanak-kanakan!
Pa!
Ah.. aku sedang bersih-bersih.
Dari tadi aku menyapu lantai.
Kau jagoan cilik, ya?
Ya, aku suka kalian, teman!
Hey, apa yang kau pikirkan? Kenapa babak belur begini?
Bukan, ini bukan seperti yang kau pikir. Aku cuma lewat.
Kami sedang dalam perjalanan ke Phuket.
Aww!
Sampa jumpa! / Hati-hati!
Apapun yang terjadi, jangan kembali ke sini./ Khob Khun Krab! (Terima kasih)/ Aku tahu.
Chok dee Mak Mak! (Semoga sukses!) / Ucapkan itu untuk dirimu sendiri!
Oke, pergilah, pergilah.
Lega sekali! Pergi sana dan jangan kembali.
Aku mau kau dan dia..
..berlatih bersama.
Ada apa denganmu? Mengapa bersuara seperti anjing?
Dasar kau wajah jelek!
781...782...783...784...785...786
Jino, sudah sampai berapa?
Oh, astaga!
Mengapa aku pakai bertanya segala? / 3..4..5
Mengapa nasibku malang begini!
Kau seharusnya ikut pertukaran pelajar.
Hey, hey,
Hey, aku ikut dengan kalian, ya!
Ayo! Apa yang kalian tunggu?
Ayo!
Hai! Aku Bob. Ini pacarku, Sarah.
Jack, ayo! / Ayo, apa yang kau tunggu?
Ayo! Ayo jalan!
Kita mau isin bensin? / Tidak, kita berhenti untuk menurunkanmu.
Situasi seperti ini sangat rawan.
Kami bertiga laki-laki, dan hanya kau sendiri yang perempuan.
Tidak ada bedanya, kan?
Kalau aku bawa mobil sendiri atau ikut bersama kalian.
Ya, jelas beda. Ini mobilku..
Jika aku membawamu,
..lalu tanpa sengaja ayahmu tahu..
Oke, aku mengerti.
Jika kau tak mau membawaku,
..aku akan ikut dengan mereka.
Hey, hey! Kau mau kemana?
Apa kau yakin membiarkannya ikut dengan mereka?
Kau bilang kau tak mau ada masalah.
Tapi kau tidak sadar kalau ini bisa menimbulkan masalah yang lebih runyam.
Kau tahu, kawan? Kau tak perlu banyak teman.
Yang kau perlukan hanyalah teman yang baik.
Khai Muk, Khai Muk! Kembalilah!
Aku datang menjemput temanku.
Tentu tak semudah itu, kawan!/ Apa yang kau mau?
Siap-siap! Ayo balapan!
Hey! Kau tidak takut, kan?
Kali ini kau tak bisa pura-pura mati seperti saat itu.
Tidak. Apa kau berani naik motorku?
Oke!
No comments yet. Be the first to leave one.