The first 200 lines.
DRAMA INI KISAH FIKTIF
SEMUA KARAKTER, ORGANISASI, LOKASI, INSIDEN, DAN AGAMA
DALAM DRAMA INI FIKTIF
ADEGAN YANG MELIBATKAN HEWAN
DIBUAT DENGAN PROPERTI DAN EFEK VISUAL
EPISODE 5
Poster pembunuhan ketiga dipasang.
Guru!
Kau tak boleh melepasnya...
Tak usah terlalu terkejut.
Hanya kau yang marah
saat kulakukan itu.
Rambutku...
Sedang apa kau? Ikuti aku!
- Kau menatapku dengan wajah manis itu? - Tidak!
Kau tak bisa katakan itu kepada pria.
Kusebut manis karena kau memang manis.
Apakah sebaiknya kusebut kau...
Jelek?
Astaga, itu sungguh tidak lucu.
Itu lelucon yang sangat buruk.
Manis.
Permisi, ada orang?
Apakah kau marah?
Kapan aku pernah marah?
- Kasim Go! - Kapan kau tiba?
Aku memanggil dari luar, tetapi tak ada orang, jadi aku masuk.
Ada yang mau kutanyakan kepadamu.
Kenapa menurutmu si pendosa itu yang memecahkan
semua kasus itu, bukan kakaknya?
Kasus pertama yang dipecahkan Min Yun-jae lima tahun lalu
bukanlah sesuatu yang bisa dipecahkannya.
Dia lulus ujian dan penasihat keenam di Akademi Sastra,
jadi bagaimana mungkin dia memecahkan kasus itu?
Jadi, tentu Min Yun-jae tak bisa pecahkan semua kasus lainnya juga.
Keinginanku adalah bertemu dengan Nona Jae-yi
dan memecahkan kasus di seluruh penjuru negeri bersama.
Namun, dia sudah mati!
- Lupakanlah saja. - Dia tak mungkin mati.
Dia masih hidup di suatu tempat. Aku yakin itu.
Tidak, dia sudah mati.
Tidak, belum.
- Kenapa kau ini? - Kenapa kau ini?
Aku tahu aku bukan nona yang kaucintai itu,
tetapi aku mau mengajakmu mengerjakan kasus.
Aku tahu kenapa kau di sini.
Lihatlah ini. Dia menyobek poster lagi.
Kau akan dalam masalah, Guru.
Kalau kau mau masuk penjara, akan kuwujudkan.
- Ini poster Kasus Mata Angin? - Kudengar Kepala Bagian Han
menamainya Kasus Mata Angin.
Dia meyakini akan ada pembunuhan keempat.
Menurutku juga.
Aku juga.
Jika pelaku mengikuti pola, pembunuhan berikutnya empat hari lagi.
Aku harus periksa lagi mayat kedua
untuk melihat apakah pelaku meninggalkan huruf,
dan kau yang terbaik di bidang ini.
Cukup bicaranya.
Kau membutuhkan itu, bukan?
Ya, itu.
Apa itu?
Aku butuh waktu untuk bersiap.
Kau pasti sudah tahu itu.
Aku percaya padamu.
Apa yang akan kalian lakukan?
Kami...
- akan menggali makam. - Apa?
Kalian akan menggali makam?
- Kenapa? - Kami harus dapatkan mayatnya.
Tak pernah kutemui orang yang berpikiran sama!
Ini membuatku senang.
Aku tak bisa melakukan itu.
Tuan.
Kami periksa daftar keluarga area timur
dan kerucutkan ke orang yang seumuran dengan korban.
- Sudah beri tahu petugas keamanan? - Ya.
Kami akan bertemu dengan para prajurit dan memulai patroli.
Baiklah.
Tuan Muda Kim dari Manyeondang menantikanku.
Seperti apa dia?
Dia terlihat konyol di luar, tetapi aku bisa tahu kalau dia genius.
Asisten barunya juga tampak berguna.
Dia cepat dan cerdas.
Kau belum pernah bertemu dengannya, Yang Mulia?
Aku hanya mendengar banyak rumor.
Kupikir bisa percaya dia, maka kukirim panah yang mengenaiku lewat Tae-gang,
dan dia langsung tahu kalau itu dariku.
Kami akan menggali mayatnya saat matahari terbenam besok.
Akan kuutus satu orang untuk menemanimu.
- Satu orang lagi? - Ya.
Siapakah itu, Yang Mulia?
Aku tak tahu
bagaimana menggambarkan dia.
- Cendekiawan Park dari Namsangol? - Matahari akan terbenam. Di mana dia?
Siapa dia?
Kau akan tahu begitu bertemu dia. Dia selalu menarik perhatian.
Dia tinggi dan tampan sampai-sampai orang tak bisa berhenti memandanginya.
Yang Mulia bilang dia tampan.
Kenapa butuh orang tampan untuk menggali mayat?
Aku benci cendekiawan yang berpikir bisa selalu lolos
karena ketampanannya.
Bagaimana dengan kemampuannya?
Dia mahir dalam sastra dan bela diri.
Dia juga talenta terbaik di Joseon yang bisa segala hal.
Kita bilang saja,
dia pria yang sempurna.
Yang Mulia bilang dia akan sangat membantu dalam penyelidikan.
Dia pasti cendekiawan yang hebat.
Aku penasaran sehebat apa dia
sampai berpikir tidak apa-apa terlambat.
Apakah itu dia?
- Itu Cendekiawan Park. - Jelas Cendekiawan Park.
Wajahnya berbinar.
Aku bisa tahu dari jauh.
Aku bisa tahu dengan mata tertutup!
Senang bertemu denganmu.
Aku Kim Myeong-jin, pemilik Manyeondang, laboratorium itu.
Aku banyak mendengar tentangmu.
Orang-orang di Namsangol tahu tentangku?
Ternyata ketenaranku tak mengenal batasan.
Apakah kau bersama orang lain?
Kau sungguh sendirian?
Yang benar saja, Kasim Go?
Dia jelas Cendekiawan Park.
Dia seperti yang digambarkan Yang Mulia.
Aku murid magang...
Guru Kim.
Senang bertemu denganmu.
Maka kau pasti Go Sun-dol, kasim Istana Timur.
Senang bertemu dirimu. Aku Cendekiawan Park dari Namsangol.
Ya, Tuan.
Aku Kasim Go Sun-dol.
KASIM GO SUN-DOL ISTANA TIMUR
ADALAH PRAJURIT YANG DIBAWA PANGERAN HWAN KE AREA BERBURU
DIA BUKAN KASIM
Apa maksudmu Yang Mulia tak ada di sini?
Aku datang karena dia juga tak menghadiri kelas hari ini.
Dia bilang ada di perpustakaan untuk membaca.
Saat ke perpustakaan, dia biasanya mengunci pintu dan membaca semalaman.
Dia memerintahkan kami tetap di sini.
- Bagaimana dengan Kasim Go? - Di perpustakaan bersama Yang Mulia.
Dia mengajak Kasim Go karena Kasus Mata Angin.
Sepertinya banyak yang dipikirkannya karena itu.
Jagalah dia dengan baik.
Tentu, Ratu.
Itu sungguh menyebalkan.
Tak kupercaya Ratu pun tahu Go Sun-dol.
Kami pasti akan menemukan pembunuhmu...
jadi kau bisa beristirahat tenang.
Bertahanlah di sana.
Sedang apa kau?
Galilah. Kita sudah tuang alkohol, jadi galilah makamnya.
- Aku? - Lalu apakah harus aku
padahal punya murid magang?
Namun...
Ya, ampun.
Guru yang dahulu kulayani sama sekali tak sepertimu.
Dia kerjakan semua pekerjaan kotor bersama dan banyak yang bisa dipelajari darinya.
Saat punya banyak guru, kau akan belajar banyak hal.
Jika sanggup untuk bicara, mulailah menggali.
Dan sekop satunya...
Cendekiawan Park, apakah kau tak punya pelayan atau murid magang?
Kau akan menggali?
- Siapa? Aku? - Ya.
Kenapa kau melihatku?
Aku bahkan belum pernah menyentuh itu.
Itu namanya sekop.
Tentu saja, aku tahu itu.
Kau belum pernah menggunakan sekop?
Ambil saja sekopnya dan mulai menggali. Tak ada lagi yang bisa.
Banyak yang harus kukerjakan begitu mayatnya sudah digali
dan dia dari istana.
Dia melayani Putra Mahkota, calon raja Joseon.
Jadi, hanya tersisa kau.
Bagaimana menurutmu, Kasim Go?
Yang Mulia bilang
kau orang yang punya banyak bakat dan sangat ahli.
Jadi, kau juga pasti mahir menggali.
Tidakkah itu benar?
Ayolah, Cendekiawan Park.
Ini, ambil sekopnya.
Mulailah menggali. Ayo.
Astaga.
Astaga, pakai tenagamu!
Memang!
Berdasarkan kecepatanmu,
butuh tiga bulan dan sepuluh hari menggali makamnya.
Sudahlah.
Biar kulakukan sendiri.
Kasim Go.
Kukira kau cuma mahir mendeduksi, ternyata juga menggali.
Selain bagi para korban,
memecahkan kasus ini mungkin paling penting bagiku.
Akan kupecahkan tak peduli apa pun.
Menggali makamnya? Mereka sungguh pergi menggali mayatnya?
Orang-orang melihatnya pergi bersama beberapa orang mencurigakan.
Bawakan kuda. Aku harus menuju ke timur.
Kabar baik.
Berkat udara dingin, mayatnya tak terlalu membusuk.
No comments yet. Be the first to leave one.