Mukidi

Mukidi

Download Indonesian Subtitle

Release info

Mukidi AMZN-2024/RT-01:31:58
A Commentary by DD_Movie

Tags

other
Published on: 2024-04-10
Downloads: 133
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Jakarta tempat di mana semua mimpi bisa terwujud.

Katanya.

Mas.

Mas, permisi. Kardus dan kakinya menghalangi pintu.

- Saya mau turun. - Maaf, Mas.

- Silakan. - Dompet saya hilang!

- Ada copet, nih! - Terima kasih, Mas, sudah bantu.

- Itu dia! - Copet!

Mas, kardusnya jangan ditaruh depan pintu, dong!

- Copet! - Copet!

Dasar.

Bukan, bukan komplotan. Saya Mukidi!

- Hei, Copet! - Copet!

- Hei! - Apa sih, nih?

Hei, Copet! Jenggo! Abang!

Aduh, bayar dululah!

Komplotan rupanya!

Komplotan itu apa, Mas?

Copet. Orang yang suka ambil dompet orang lain.

Untung aku bukan komplotan.

Banyak yang bilang kalau Jakarta itu keras.

Kejam.

Lebih kejam daripada ibu tiri.

Ayo, siap-siap!

Parman!

Yang Parman mana? Ada?

- Ya, Bang. Ada. - Turun. Ayo, Mas.

- Terima kasih ya, Bang. - Ya! Hati-hati kau.

Gas, gas!

Saya enggak tahu apakah semua itu benar.

Broto, Broto! Yang Broto ada?

- Broto, Broto! - Ada, Bang.

Ayo, Pir! Broto, Broto!

Ya, turun, Bang!

Tapi yang pasti... - Hati-hati.

...siapa pun gubernurnya, Jakarta itu kacau.

Dan menyakitkan.

Tini, Tini. Kartini ada?

- Pir, Tini! - Terima kasih, Bang!

Ya, hati-hati! Oke.

Hei, ngapain?

Yono, Yono. Haryono! Habis!

Hei. Kau kenapa enggak turun?

Aku belum dipanggil, Mas.

Apa maksudmu?

Tadi, 'kan, Mas-nya manggil Broto.

Parman, Tini. Barusan Haryono.

Ya, namaku Mukidi, Mas.

Ya...

Sudahlah.

Mukidi, Mukidi! Yang Mukidi turun!

Begitu, dong!

Terima kasih, ya.

Dan saya Mukidi.

Walah...

Adalah salah satu orang yang siap menaklukkan kota metropolitan.

Jakarta!

Aku siap sukses, nih!

Mas.

Permisi, Mas. Numpang tanya, Mas.

- Ya? - Tahu ini?

Siapa, ya? Saya enggak kenal, Mas.

Innalillahi.

Bukan. Bukan itu, Mas.

Ini maksudnya.

Ini.

Begini, Mas. Ini Mas lurus.

- Ya. - Di depan belok kiri.

Enggak jauh ada rumah gede.

- Rumah gede. - Nah, di situ ada posnya.

- Di situ alamatnya? - Bukan.

Di sana, 'kan, ada pos. Ada satpam.

Mas tanya saja sama dia.

Wedus. Sama saja!

Pus!

Minta tolong dia ini.

Sebentar.

Kamu kok bisa di sini begitu lho?

Dicari ibumu nanti.

Sini, jangan takut. Jangan takut, ya.

Sudah, bebas sana.

Ini punyaku.

Sama-sama. Terima kasih kembali.

Aduh, tangga gue ke mana, nih?

Aduh.

Tangga gue ke mana?

Mobil kok ditinggal begini, sih?

Masih berantakan, lho.

Halah, saya bantu bersihkan!

Kalau diambil orang bagaimana ini coba?

Jakarta memang aneh.

Ini ada satu lagi.

Ketinggalan.

Nah, taruh di sini. Biar kalau ada mobil dari sana...

...kelihatan, begitu lho.

- Mas. - Ya?

Tahu alamat ini enggak?

Coba saya lihat.

Betul sih, Mas. Memang ini alamatnya di sini.

Cuma, sudah tutup lama, Mas.

Walah!

Coba, itu tahun kapan, Mas, korannya?

- 2007. - Kelar.

Ya, terima kasih, Mas.

Tanah Abang!

- Ya, Mas! - Tanah Abang ada?

Tanah Abang!

Mbak, jus jeruknya satu, ya.

Mau jus segarnya, Mas?

- Ya. - 10 ribu saja.

- 10 ribu? - Ya.

Ini uangnya, Mbak. 20 ribu, ya?

Ya, taruh saja di situ, Mas.

Ini, ya.

Panasnya luar biasa!

Sudah, Mbak? Haus ini, lho!

- Sudah, sabar. - Ya.

Nih, kembaliannya ambil saja di sini.

- Di mana? Di situ? - Iya, di sini.

Kan, aku lagi megang gelas.

Maaf ini, lho.

Ya.

- Enggak ada. - Coba lebih dalam lagi.

Ada, kok.

Sebentar, ya.

Walah, susah bener ini.

Kanan enggak ada.

Kiri?

Enggak ada juga!

- Bohong kamu, ya? - Ya sudah, berarti enggak ada kembaliannya.

Lho, 'kan, kembalianku 10 ribu.

Terus, Mas pikir, sudah remas-remas jerukku, gratis?

Nih!

Jeruk? Semangka itu.

- Silakan. - Mbak!

- Satu lagi, Mbak! - Mbak!

Jakarta ini penuh dengan tipu muslihat.

Kita harus kuat-kuat iman.

Jangan sampai kita tergoda sama yang namanya wanita.

Karena wanita itu racun du...

...nia. Lho, lho.

Sebentar.

Saya Mukidi.

Markonah.

Kantor yang aku cari memang sudah tutup.

Cakep!

Tapi semoga pintu hatimu masih terbuka.

Cie!

Yang gue jual memang gado-gado.

Tapi tatapan lo, Bang...

...sangat menggoda-goda!

Masuk!

Markonah.

Maukah kau menjadi istriku?

Mau, Bang.

Ternyata Jakarta tidak sekejam ibu tiri seperti yang orang-orang bilang.

Walaupun saya tidak mendapat kerja, tapi saya mendapatkan cinta.

- 10 tahun kemudian - Sudah. Sudah ganteng ini.

Dua-duanya anak Bapak gantengnya diturunkan dari bapaknya!

Yang bagus-bagus saja, bilangnya kayak lo.

Giliran yang jelek-jelek, baru kayak gue. Ya?

Ya sudah, berangkat.

Sudah semuanya?

Sudah.

Bekal.

Nasi. Rambut rapi. Tas sudah.

Lho, bajunya sudah, celananya belum.

Daripada Babe-nya, pakai celana doang, enggak pakai celana dalam.

Awas nanti kejepit, Be!

Ini, 'kan, biar langsung. Ya, Bu?

Langsung apa, Be?

Langsung...

Langsung berangkat sekolah.

Yang rajin. Bapak mau ke WC dulu.

- Ya? - Oke.

- Pakai celana dulu! - Ya.

Aduh! Kejepit!

Serang itu!

Kejar!

Gembel banget! Kejar!

Jangan cacat, dong!

- Lo! - Gara-gara lo ini!

Gue duluan!

- Gue yang punya ponsel! - Ya sudah enggak usah main gacoan!

Kurang satu orang, nih. Rim?

Main ML, yuk! Skin!

Tapi aku enggak punya ponsel.

Masa sih enggak punya ponsel?

Kita saja punya ponsel.

Dasar miskin.

Keren, enggak? Punya ponsel.

Di Jakarta ya harus kuat kuat mental...

...selain mental ya mesti kerja, kalau nggak kerja, mau makan apa.

Bang.

- Ya? - Ini, Bang. Mi-nya.

Lho, kok cuma satu?

Gue enggak lapar.

Enggak biasa sarapan.

Suapi, ya?

Bagaimana, Bang? Sudah dapat belum?

Mukidi subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Mukidi

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left