The first 200 lines.
Pulanglah.
Ke rumah yang mana?
Rumah mana yang harus kudatangi?
Entah apa aku masih memilikinya.
Kenapa berkata begitu saat kamu memiliki ayah dan nenekmu?
Mereka lama menunggu kamu pulang.
Lalu? Itu sia-sia.
Chi Yoo.
Begitu aku kembali, hidup kami berantakan.
Entah kenapa kukatakan ini kepadamu.
Itu bukan salahmu.
Makilah aku semaumu.
Jika itu menenangkan hatimu,
perlakukan aku semaumu.
Hei, apa yang terjadi?
"Episode 65"
Bagaimana hasilnya?
Wan Seung! Astaga.
Kenapa pintunya dikunci?
Buka!
Wan Seung!
Ada apa ribut-ribut?
Dia masuk kamar dan mengunci pintunya.
Lalu kenapa?
Ada urusan apa kamu dengannya?
Bukankah sudah jelas?
Aku akan menanyakan kesehariannya dan apa ada yang dia perlukan.
Kami harus membicarakan itu.
Kenapa kamu melakukan itu, padahal dia sudah dewasa?
Tunggu.
Di mana kuncinya?
Hentikanlah.
Biarkan dia akhirnya dewasa sedikit.
Wan Seung?
Apa yang terjadi?
Dia tidak pernah mengunci pintunya, bahkan saat SMA.
Kenapa kamu tidak minum?
Ayolah.
Ada masalah?
Apa yang terjadi?
Untuk orang yang menemukan ayahnya, kamu sangat sedih dan muram.
Ayolah. Ada apa?
- Sun Hee... - Ya?
Ada banyak hal yang ingin kulakukan.
Aku ingin membangunkan suamiku
dan memintanya membelikan sundae untukku.
Aku juga ingin dia memohon
restoran naengmyeon yang sudah tutup
membuatkan hidangan untukku.
Aku juga ingin
membuang semuanya bahkan tanpa mencicipinya.
Aku ingin menjadi temperamen dan menyebalkan.
Akan ada saatnya kamu menjadi semenyebalkan itu.
Usiamu bahkan belum 40 tahun.
Selain itu, memiliki anak tidak seenak itu.
Anak-anak bisa merepotkan.
Itulah sebabnya konon, tidak punya anak itu yang terbaik.
Apa itu ikatan darah?
Apa arti hubungan itu?
Itu sesuatu yang sangat ingin kutahu.
Itulah sebabnya aku ingin anak sendiri.
Aku ingin
membesarkan bayiku dengan baik tanpa pernah kehilangannya.
Kenapa kamu berkata seperti tidak punya pilihan?
Kamu masih punya kesempatan.
Kupikir aku masalahnya.
Itu yang membuatku makin kesal
dan lebih merasa bersalah kepada suamiku.
Aku tidak tahu itu memang mustahil.
Aku bermimpi memiliki anak.
Itu membuatku tersenyum dan menangis
selama delapan tahun.
Apa maksudmu itu mustahil?
Apa maksudmu?
Ini dia.
Ini sebabnya.
Aku sangat menunggu seorang bayi.
Hubungan kita
usai.
Dasar bodoh.
Apa yang kamu lakukan?
Apa Wan Seung sudah gila?
Bagaimana bisa seorang pria melakukan itu?
Teganya dia melakukan itu kepadamu.
Mengkhianatimu tidak cukup baginya? Teganya dia.
Jadi, apa katanya?
Kenapa dia melakukan itu?
Aku tidak mau mendengar apa pun pada saat itu.
Dasar bedebah.
Bertahun-tahun, dia mengikutimu dan memohon agar kamu menikahinya.
Ini sebabnya dia membuat keributan bertahun-tahun lalu itu?
Aku seharusnya menghentikanmu.
Aku seharusnya menghentikanmu sampai akhir.
Sial.
Aku marah dan diperlakukan tidak adil. Ini membuatku gila.
Kamu merelakan waktu dan usahamu untuk bedebah itu.
Apa yang akan mengganti itu?
Aku tidak bisa berpikir sekarang.
Aku hanya tidak mau melakukan
apa pun bersamanya.
Ya, Wan Seung.
Kenapa kamu menelepon semalam ini? Apa yang terjadi?
Apa Chi Woo ada di rumah Anda?
Chi Woo? Tidak. Kenapa? Dia bilang akan datang?
Tidak.
Aku kira mungkin ini saatnya dia mengunjungi Anda.
Aku hendak menjemputnya jika dia bersama Anda.
Begitu rupanya.
Kamu akan kemari dengan cepat jika dia di sini.
Sayang sekali,
tapi kamu bisa mengejutkannya lain kali.
Selamat malam, Wan Seung.
Baik, selamat malam.
Apa itu Wan Seung?
Ya.
Dia melakukan kesalahan apa? Kenapa dia akan menjemput Chi Woo?
Kurasa dia membuat masalah besar kali ini.
Astaga. Kamu ahli membuat masalah besar.
Mendengar itu darimu terasa sangat aneh.
Jangan teralihkan.
Jika tidak melakukan kesalahan, dia pasti menelepon Chi Woo sendiri.
Kenapa dia menelepon Ibu?
Ini aneh.
Dia bilang ingin memberi kejutan kepada Chi Woo.
Kurasa tidak.
Kurasa ada masalah besar.
Jangan bicara yang tidak-tidak.
Kamu bicara yang tidak-tidak karena selalu berpikir begitu.
Bayangkan jika hanya ada bunga dalam kepalamu.
Saat kamu bicara, kata-katamu akan harum.
Jangan memarahiku.
Kenapa Ibu tidak bisa objektif dan memikirkan ini?
Berhenti bicara. Bereskan mejanya.
Tidak mau! Ibu selalu bilang aku yang buruk.
Apa-apaan itu?
Dasar anak manja.
Kubesarkan dia dan kakaknya sama.
Kenapa dia bisa menyiksaku seperti ini?
Jangan terlalu keras kepadanya.
Mungkin dia yang akan menjaga Anda nanti.
Astaga, daripada menunggunya menjagaku,
aku lebih baik menjaga diriku.
Omong-omong, ucapan Joo Ah ada benarnya.
- Apa? - Aku juga merasa ini aneh.
Kapan Wan Seung pernah bertanya apa Chi Woo ada di sini atau tidak?
Dia datang saat ingin.
Dia tidak akan pernah datang meskipun harus. Begitulah dia.
Lalu, dia diam selama beberapa hari dengan tidak datang
dan tidak menelepon karena terjadi sesuatu?
Astaga.
Aku akan pergi ke rumah ibunya jika dia ada di sana.
Aku tidak bisa langsung pergi ke rumah sebelah.
Bagaimana ini?
Aku tadinya akan berpamitan di luar pintu.
Aku masuk karena tahu tidak akan pernah bertemu dengan Anda lagi.
Aku akan pergi sekarang.
Tolong keluar kamarlah.
Pergilah ke ruang keluarga dan bersantailah.
Anda menganggapku sebagai putri sendiri.
Aku belum membalas kebaikan Anda sama sekali.
Aku hanya membuat Anda menderita.
Aku sungguh
meminta maaf.
Jaga kesehatan Anda.
Semoga Anda
panjang umur
dan hidup bahagia bersama Chi Yoo.
Bedebah itu.
Bedebah itu.
- Nenek. - Ya.
Nenek dengar kamu ada urusan. Syukurlah kamu sudah pulang.
Ya.
Nenek sudah makan malam?
Tentu saja. Ini sudah melewati waktu makan malam.
Tidak ada senyuman
di wajah cucu Nenek yang berharga ini.
Akan kubuatkan teh jika Nenek akan membaca lagi sebelum tidur.
Tidak, Nenek tidak mau teh.
Temuilah ayahmu.
Song Joo
pergi hari ini.
"Pendaftaran Proses Perceraian"
Kupikirkan ini lebih dari ratusan kali.
Apa yang akan terjadi jika aku tidak menelantarkannya?
Apa yang akan terjadi jika aku menunggu
sampai Ibu menerimaku?
Akankah dia menerima putraku, Jin Yoo?
Jika ya, kita pasti
bahagia bersama.
Jika itu terjadi, kamu pasti tersenyum kepadaku
saat kamu melihatku.
Pada akhirnya, akulah yang merusak segalanya.
Pergilah.
- Aku menghancurkan hidupmu - Jangan menoleh ke belakang.
dan hidupku.
Saat aku berjuang membesarkan Jin Yoo sendirian
tanpa keluarga atau uang,
kamu mengulurkan tanganmu.
Jin Yoo!
Hai, Paman.
No comments yet. Be the first to leave one.