The first 200 lines.
Apa kata orang jika aku setuju memacarimu?
Mereka akan menganggapku mata duitan.
Kau tidak tahu aku CEO.
Aku tidak mau ada kesalahpahaman.
Nona Sorim,
kukira kau pemberani.
Maafkan aku.
Aku ingin tetap bekerja dengan baik di sini.
Tolong pastikan orang-orang tidak tahu soal ini.
Aku ingin punya hal istimewa denganmu
entah itu di toko alat tulis
atau restoran kari.
Sepertinya tidak bisa.
Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?
Aku tidak suka
bahwa Nona Shin adalah putrimu.
Aku tak ingin menyakitinya.
Aku akan bekerja dengan baik di kantor
terlepas dari riwayat kita.
Aku doakan kebahagiaan di tahun baru.
Aku punya...
seorang putri.
Cari pria yang lebih baik.
Tak bisakah kau berkencan jika punya putri?
Perkenalkan aku kepada putrimu!
Kupromosikan jasamu kepada semua orang.
Halo.
Kau datang lebih awal. Ikuti aku.
Sudah kubilang tunggu!
Aku mengencani rekan kerja.
Ini pacarku.
Kapan kalian akan menikah?
Secepat mungkin.
Aku tak ingin menyakiti Jihye.
Aku ingin mengakui sesuatu.
Bolehkah?
Tidak.
Mengaku atau menyetir saat mabuk, keduanya buruk.
Aku akan melakukannya.
Kau boleh tidak tahu malu sekali seumur hidup.
Kau suka ubi jalar atau aku?
Halo, Pak.
Istri mudamu pasti sakit.
Dia tidak membeli ubi jalar.
Begitu rupanya. Dia bukan istriku.
Dia akan menjadi istrimu, bukan?
Apa masalahnya?
Itu...
Pak, boleh aku memberimu hadiah?
Apa?
Namsoo, kau sibuk?
Hai, Jihye. / - Pak Cho.
Tunggu sebentar. / - Yang ini.
Letakkan seperti di ruang rapat.
Kau sibuk?
Ya, aku sibuk.
Aku sedang stres.
Andai kau bisa di sini bersamaku.
Produk yang tadi di sini,
bisa letakkan beberapa di sana?
Halo?
Jihye, aku sangat sibuk. Akan kutelepon nanti.
Ambil ini dan ini, lalu letakkan di sana.
Apa yang kau lakukan?
Aku sudah meminta waktu.
Apa yang kau katakan
saat aku meminjamimu uang di kasino?
Kau bilang ada pecundang
yang akan membayarkan utangmu.
Kau hanya meminjamiku 3.000 dolar.
Menurutmu bunga 7.000 dolar masuk akal?
Kau sudah tahu suku bunganya.
Tunggu. Lee Sangjun akan mengurusnya untukku.
Telepon dia sekarang.
Telepon sekarang.
Aku ingin mendengar suaranya.
Kubilang aku akan membayarmu!
Kau sudah gila?
Aku sudah memintamu menunggu.
Tepati janjimu kali ini.
Ambil ini untuk sekarang. Ini tas asli.
Jika kau tidak membayar,
aku akan mendatangi Lee Sangjun.
Ingat itu.
Kenapa kau mengajar tengah malam di cuaca ini?
Aku harus menghasilkan lebih banyak uang.
Sayang.
Apa bibimu mengatakan sesuatu?
Tidak. Dia mengatakan sesuatu kepadamu?
Tidak. Aku hanya merasa
dia bersikap agak berbeda di sekitar kita.
Dia merasa bersalah, itu saja.
Dia pikir aku tidak tahu apa-apa.
Aku akan mendapatkan semuanya kembali.
Semua yang dia ambil dariku.
Asuransi kematian ayahku.
Keuntungan dari menjual karyanya
dan dari penjualan rumah kita.
Sayang. Jangan bertindak terlalu jauh.
Dia juga banyak membantu kita.
Dia menyombong soal menghabiskan uang
yang dia ambil dariku.
Selama bertahun-tahun, aku bersikap...
seolah-olah aku putra sulung dan budaknya.
Tetap saja, jangan tunjukkan perasaanmu.
Tidak akan, jangan khawatir.
Sampai nanti. / - Dah.
Sayang, cuacanya dingin sekali. Cepatlah kembali.
Baiklah. / - Dah.
Jaga dirimu. / - Sampai jumpa.
Halo, terima kasih menelepon Foto dan Esai.
Ini aku. Ibu kandung putramu.
Bisa kau menghentikan ini?
Bagaimana keadaan Kim Taeju?
Dia belum sadarkan diri.
Kau harus menyerahkan diri.
Apa kau memberi tahu keluarganya
dia terluka saat melawan ibu dari anak Sangjun?
Beraninya pembunuh mengancam kami?
Kau dengar perkataanmu sendiri?
Jika dia belum sadar juga,
kenapa kau belum melaporkanku ke polisi?
Tutup teleponnya. Aku enggan bicara denganmu.
Temui aku di luar. Kita harus bicara.
Tidak, sudah!
Atau aku akan pergi ke restoran kari.
Datanglah ke taman yang waktu itu.
Kau benar-benar datang.
Kau sangat patuh.
Langsung ke intinya saja.
Kembalikan tasku.
Apa?
Kim Taeju mengambil tas desainerku.
Omong kosong.
Jika kau punya waktu untuk ini, pergilah ke pulau
dan bersembunyi.
Itu benar. Tanya saja dia.
Dia belum sadarkan diri.
Dia benar-benar belum sadar?
Ya, dasar pembunuh.
Ayolah. Aku cepat menyadari sesuatu.
Dia baik-baik saja.
Kalau tidak, kau pasti cemas, tak mungkin tenang.
Taeju
mengambil tas desainermu?
Kami bertengkar di luar restoran kari.
Dia merebut tas belanja dariku.
Ambillah kembali.
Aku meminta ibu Sangjun mengambilnya,
tapi entah kenapa dia tidak bisa.
Dia tidak bisa, bagaimana denganku?
Pergi saja dari hadapanku.
Hei, kau!
Biar kuberi nasihat.
Bahkan jika Jiwoo tahu
kau ibunya,
dia akan bergeming.
Jadi, mundurlah sebelum kau makin menderita.
Kami akan terus mengirimimu uang.
Aku belum selesai bicara!
Uang?
Ini.
Ambil itu dan pergilah.
Akan kubunuh semua orang yang meremehkanku!
Sial!
Maaf. Kami tutup lebih awal hari ini.
Kau ingat aku, bukan?
Ya.
Kau putra bungsu mereka, bukan?
Ada apa ini?
Mau minum kopi?
Aku sudah punya rencana.
Apa ayahmu menceritakan
kisah menarik tentangku?
Tidak.
Kau masih di sini?
Pak! Aku akan datang lain kali!
Hubungi aku saat kau senggang.
Kau mengenalnya?
Kurasa dahulu dia penguntit Paman Sangjun.
Kenapa dia ingin bicara denganmu?
Apa yang dia berikan kepadamu?
"Ibu"?
Apa artinya ini?
Entahlah.
Aku harus menunjukkannya kepada orang tuaku.
Baiklah.
Di sini dingin. Ayo.
Pergilah.
Hei, Taeju.
Kau mau duduk?
Di mana Geonu? Dia tadi di sini.
Dia pulang setelah tahu kau baik-baik saja.
Kita juga harus pulang.
Sangjun.
Kenapa kau selalu di sini?
Karena aku wali dan perawatmu.
Aku suamimu.
Jangan konyol. Aku sedang tidak ingin bercanda.
Kau tahu betapa cemasnya aku selama kau tertidur?
No comments yet. Be the first to leave one.