Piano Forest

Piano Forest (ピアノの森)

Download Indonesian Subtitle

Release info

Piano no Mori 2007 720p BD h264 AAC-Ganool
A Commentary by Robandit
http://bandit-iseng.blogspot.com

Tags

720p
720
ganool
Published on: 2014-09-11
Downloads: 48
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Salam Hangat Dari Singkawang Kalimantan Barat

Di awal musim panas itu, aku pergi ke kota kecil ini untuk tinggal dengan nenekku.

Kita akan segera kembali setelah kondisi nenekmu membaik.

Ya.

Sungguh, sangat disayangkan kau harus pindah sekolah di waktu sepenting ini.

Aku akan baik-baik saja, sungguh.

Kalau dia mendengar kau mengatakan itu, Shuuhei-san, nenekmu juga tidak perlu merasa khawatir.

Oh, benar!

Mereka sudah selesai menyetel nada piano di ruang latihan kemarin.

Berarti aku bisa memulainya hari ini?

Ya, kita bisa memulai latihanmu!

Ya.

Kau pasti menjadi seorang pianis hebat seperti ayahmu.

Hutan.

Kau benar! Hutan yang besar, bukan?

Piano?

Ada apa, Shuuhei-san?

Ibu tadi mendengar suara piano?

Piano?

Ibu tidak mendengar apa-apa.

Oh, begitu.

Apa hanya imajinasiku?

Piano no Mori

The Piano Forest

Hari ini, Ibu akan memperkenalkan seorang teman baru kepada kalian.

Amamiya Shuuhei-kun.

Sekarang, Amamiya-kun, maukah kau memperkenalkan dirimu?

Ya, Bu.

Nama saya Amamiya Shuuhei dan saya berasal dari Tokyo.

Keahlian istimewa saya adalah saya sudah belajar memainkan piano sejak berusia empat tahun.

Cita-cita saya adalah ingin menjadi seorang pianis.

Kalian semua! Tenanglah!

Dia bilang dia memainkan piano, padahal dia anak laki-laki.

Benar.

Seorang murid pindahan seharusnya tidak menarik perhatian.

Kalau dia menarik perhatian...

Amamiya Shuuhei-kun.

Apa?

Kau tahu tentang piano di hutan itu?

Piano di hutan?

Kau tahu ada hutan besar di dekat sekolah, kan?

Oh, hutan itu.

Terdapat sebuah piano rusak yang sudah lama ada di hutan itu.

Tentu saja, karena sudah rusak, kau sama sekali tidak bisa memainkannya.

Akan tetapi, ketika malam datang, entah kenapa piano itu...

Tum! Tum! Dengan sendirinya, piano itu berbunyi tum, tum!

Mayat seorang pria pernah ditemukan di dekat tempat itu.

Ada kabar angin yang mengatakan arwahnya muncul setiap malam dan memainkan piano itu.

Amamiya-kun, ada tantangan untuk menguji keberanianmu.

Masuklah ke hutan itu dan mainkan... piano hantu itu.

Hah? I-itu mustahil.

Aku tidak bisa memainkan piano yang rusak.

Tentu saja kau bisa! Lagipula, kau sudah belajar memainkan piano sejak usiamu empat tahun.

Ya, inilah yang terjadi kalau kau menarik perhatian.

Mengertilah, ini adalah permulaan.

Sebuah permulaan untuk membuktikan apakah kau adalah laki-laki atau bukan.

Apakah kau pergi dan memainkan piano hantu di hutan itu...

Atau kau harus memperlihatkan penismu kepada kami.

Kau harus melakukan salah satu.

Itu dia. Kata-kata "Perlihatkan penismu" dari Kinpira.

Ini hanya ujian keberanian yang sederhana. Kau tidak bisa menolaknya.

Walaupun tidak mengeluarkan suara, kau masih bisa bilang bahwa kau memainkan piano itu.

Lagipula piano itu tidak akan mengeluarkan suara.

Benar, benar!

Piano tetaplah piano, jadi pasti mengeluarkan suara.

Amamiya, jangan khawatir. Kau pasti bisa membuat piano itu mengeluarkan suara.

Berhentilah mengada-ada, Kai!

Waktu aku melakukan uji keberanianku, aku tidak bisa membuatnya mengeluarkan suara.

Yah, itu karena kakimu terus-menerus gemetaran, Kinpira.

Kau terlalu takut untuk memainkan piano itu.

Mungkin akan lebih baik kalau kau memperlihatkannya kepada semua orang.

Ukuran kecil dan imut...

Aku akan membunuhmu!

... dari penismu!

Beraninya kau berkata itu!

Aduh!

Dasar keparat pembohong!

Sial kau! Sial kau! Sial kau!

Piano itu...

... tidak bisa mengeluarkan suara!

Aku tidak berbohong!

Itu pianoku, jadi aku tahu pasti!

Pianomu?!

Katakan padaku, Kai.

Bagaimana mungkin keluargamu yang miskin mampu untuk membeli sebuah piano?

Oh, aku tahu. Kau mencurinya. Aku lupa kalau lingkungan tempat tinggalmu dipenuhi dengan pencuri.

Atau mungkin salah aeorang pelanggan ibumu membelikan piano itu untuknya?

Jawab aku, Kai!

Seseorang membuangnya, jadi aku mengambilnya.

Aku akan memberitahumu sesuatu, Kinpira.

Banyak hal yang aku miliki yang tidak bisa kau beli dengan uang.

Contohnya: penis yang super gede!

Berhenti mempermainkanku!

Kau sendiri yang harus diam.

Nafasmu bau karena otakmu sudah membusuk!

Dasar keparat!

Habisi dia! Lakukan!

Ada apa ini? Selesaikan bersih-bersihnya dan pulang.

Itu Ajino si "Kuburan"!

Kau ingin mengatakan sesuatu?

Apa yang harus aku lakukan?

Aku mau pulang, tapi kakiku tidak mau bergerak.

Kalau tidak ada, pulanglah.

Uhm, apakah legenda tentang piano itu benar?

Cerita tentang piano di hutan adalah bohong.

Itu hanya cerita bohong. Sama seperti cerita "Tujuh Keajaiban Sekolah".

Oh begitu. Sampai nanti.

Ichinose Kai

Tunggu, Ichinose!

Berapa kali aku harus memberitahumu? Kalau sekali lagi kau terlibat perkelahian...

Aku tidak mau mendengar perkataan seorang pembohong!

Pembohong?

Walau sudah rusak, piano di hutan itu masih bisa mengeluarkan suara.

Karena itu adalah pianoku!

Pianomu?

Jangan bicara seolah kau tahu segalanya! Apalagi kalau perkataanmu salah.

Amamiya!

Uhm, namamu Ichinose-kun, benar?

Panggil saja aku Kai.

Amamiya, kau mau pergi sekarang dan melihatnya sendiri kalau piano di hutan itu bisa mengeluarkan suara?

Hah? Sekarang?

Ya. Ayo!

T-Tunggu dulu.

Tunggu aku, Kai-kun!

Kau lambat sekali, Amamiya!

Kau tidak bisa berlari cepat, ya?

Kai-kun, mengapa kau menyelamatkanku tadi?

Menyelamatkanmu?

Kau tahu, ketika kita sedang bersih-bersih.

Kau bisa memainkan piano, bukan?

Ya.

Aku juga bisa.

Kau juga bisa?

Itu sebabnya mengapa aku merasa senang sekali sekarang!

Ayo!

Tunggu sebentar!

Tanganku tidak boleh sampai terluka.

Aku pasti akan baik-baik saja kalau begini.

Tapi, apakah kita benar-benar akan menemukan piano di dalam hutan sebesar ini?

Kita akan menemukannya! Aku pergi ke sana setiap hari.

Walaupun dengan mata tertutup...

Amamiya, kau adalah jimat keberuntunganku.

Dengar! Piano itu juga sedang dalam mood yang bagus.

Itu sebuah piano.

Inikah piano di dalam hutan itu?

Aku tidak percaya piano itu ada di sini.

Indah sekali, terlihat seperti sedang berada di atas pentas!

Ini pertama kalinya aku melihat sesuatu seperti itu.

Bahkan akan terlihat lebih indah di malam hari.

Baiklah, Kai-kun, aku akan memainkannya.

Kau bisa menjadi saksiku.

Ternyata benar-benar rusak. Tidak ada suaranya.

Itu tidak benar. Piano itu mengeluarkan suara!

Tapi, dengar.

Cobalah memainkan lebih keras lagi.

Biar kuperlihatkan padamu.

Piano ini tidak pernah tidak mengeluarkan suara.

Sama sekali tidak pernah.

Kau lihat?

Me-Mengapa?

Mengapa piano ini bisa mengeluarkan suara?

Bagaimana kau bisa membuatnya mengeluarkan suara?

Beritahu aku, Kai-kun!

Aku tidak tahu.

Mungkin karena ini adalah pianoku, dia hanya mau membuka hatinya untukku.

Aku rasa pasti memerlukan gaya permainan tertentu.

Kai-kun, maukah kau memainkan musik untukku?

Dengan begitu, mungkin aku bisa memikirkan sesuatu.

Sepertinya aku harus melakukannya.

Kai-kun...

Luar biasa!

Benar-benar luar biasa, Kai-kun!

Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi yang tadi itu sungguh luar biasa!

Ja-Jangan konyol! Kau terlalu mendramatisir.

Aku serius!

Selain bisa membuatnya mengeluarkan suara, aku juga terkejut kau benar-benar bisa memainkannya!

Kau membuatku merasa tidak nyaman. Itu adalah kali pertama aku memainkan piano untuk orang lain.

Tidak perlu merasa tidak nyaman. Kau bisa memainkannya untuk orang lain tanpa merasa malu.

Hei, kau belajar memainkan piano dari siapa?

Belajar? Aku tidak pernah belajar memainkannya.

Sama sekali tidak pernah?

Seperti yang Kinpira katakan, keluargaku miskin.

Lagipula aku tidak akan pernah cocok dengan latihan formal.

K-Kai-kun.

Kalau kau merasa tidak apa-apa,...

... maukah kau datang dan memainkan piano keluargaku?

Hah? Piano keluargamu?

Oh, aku mengerti! Kau punya piano di rumahmu!

Ada di ruang latihan. Piano besar.

Wow! Kau punya ruang latihan di rumahmu?!

Amamiya, pianomu benar-benar mengagumkan!

Eeek! Kai-kun...

Aku bisa menggerakkan jari-jariku dengan sangat cepat.

Aku merasa seperti sedang dimantrai.

K-Kai-kun, kau harus memainkannya dengan lebih lembut, seperti yang biasa kau lakukan.

Hah? Aku selalu memainkannya seperti ini.

Apa yang terjadi dengan Kai-kun?

Kai-kun, aku mengerti. Kali ini cobalah memainkannya sedikit lebih perlahan.

Perlahan?

Ya, begitu, Kai-kun! Seperti itu...

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left