Zen

Zen (禅)

Download Indonesian Subtitle

Release info

Zen 2009 720p WEB-HD x264 950MB-Pahe in
A Commentary by Sukroco
Encoli blo nyastra dikid, byar ketuptuppan encub bawaanyea. Silakan dihidangkan selagi masih panas.

Tags

web
x264
720p
720
HD
Published on: 2018-12-07
Downloads: 48
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Monju sayang,

Waktuku sudah tidak banyak.

Ibu, janganlah engkau berkata begitu.

Saat ini sudah banyak orang...

yang menganut Buddha. Kelak, akan masuk surga...

setelah mati nanti.

Tetapi, jika memang benar Surga itu ada.

Aku tidak tahu jawabannya...

dan menurutku tidaklah mungkin...

orang langsung ke Surga setelah mati.

Yang aku percaya bahwa Surga itu adalah...

waktuku yang telah kulalui...

di sini dan bersamamu.

Engkau benar sekali, ibu.

Kita buat Surga di sini, di dunia.

Tapi kalau tempat ini adalah Surga...

mengapa orang-orang berperang...

dan menderita karena penyakit,

tidak dapat menghindari mati?

Monju, ibu ingin engkau...

mencari jalan keluar...

dari segala penderitaan ini.

Ibu akan menunggumu di langit...

sampai dirimu menemukannya.

Tahun 1223, Dogen pergi ke Cina.

Jadi, kau datang dalam sebuah misi...

mencari guru besar. Maka, aku terima tujuanmu...

Dogen, Ajaran Buddha di sini,

tidaklah ada kehadiran seorang guru.

Dirimu sendiri yang akan memahami.

Itulah yang guru kami sendiri ajarkan.

Sekarang, aku harus pergi...

menemui seorang mentri.

Karena pertemuan ini, penting sekali demi terjaganya...

kuil Buddha ini.

Engkau akan memahaminya, Dogen.

Jika yang kau lakukan itu akan melindungi kuil.

Tetapi...

Tapi, apa?

Tetapi...

apakah melindungi Buddha juga?

Perlindungan itu hanya untuk dirinya sendiri.

Kakek...

Mohon maaf, kau tidak keberatan...

kalau aku yang membawakan bawaanmu?

Terima kasih atas kebaikanmu...

tapi, ini adalah bagian tugas terpenting sebagai Juru Masak.

Yang Buddha serahkan padaku.

Sayang sekali, aku tidak bisa menyerahkan tugas ini kepada orang lain.

Jadi, pekerjaanmu adalah menyediakan makanan untuk kuil?

Benar sekali.

Aku ke kota membeli bahan baku...

membuat mie, untuk semua biarawan.

Mengapa sampai saat ini jadi tugasmu?

Menjelang umurmu, engkau seharusnya...

menghabiskan waktu untuk bertapa di taman Zen, atau mempelajari Zen Koan.

Dirimu akan menjadi pribadi yang bijak,

tetapi sepertinya kau belum tahu sama sekali tentang Praktek.

Juga belum tahu tentang Ajaran...

Apa yang kau maksud Praktek?

Apa yang kau maksud Ajaran?

Pertapa jepang, selalu ingin tahu jawabannya.

Tapi itulah jalan untuk memahami...

Ajaran dan Praktek.

Kakek. Apakah kita bisa bertemu lagi?

Kalau aku masih hidup!

Aku ini, juru masak di kuil Ayu-wan-shan Kuang-li Zen!

Kugyo?

Kugyo, itu kau!

Maaf... daku tidak berbahasa asing.

Mohon maaf.

Daku adalah pertapa yang datang dari Negeri Matahari.

Dikau mirip sekali dengan sahabatku.

Tetapi....

aku lupa, kalau dia sudah mati dan kupikir kau itu dirinya.

Dia sudah mati...

dan namanya Kugyo?

Ya.

Minamoto Kugyo.

Nama Jepangnya.

Dia adalah sahabat terdekatku.

Harapanku adalah...

menjadi Kaisar.

Aku akan menjadi Kaisar.

Kaisar?

Kalau kau dapat mendirikan Buddha yang baru,

sebagai Kaisar, aku pindah agama!

Dogen... tinggalkan Hieizan.

Aku sendiri, ingin pergi ke Cina.

Cina?

Berhenti!

Dasar maling!

Tolong aku!

Jangan! Kugyo, hentikan!

Dogen... menyingkirlah!

Kugyo, bunuh saja aku!

Apa?

Ini bukan tempat untuk menghakimi dirinya.

Sebagai Kaisar, tugasmu adalah menciptakan dunia...

di mana setiap anak, tidak ada lagi yang kelaparan.

Aku ingin berpamitan denganmu.

Pamit?

Aku akan ditugaskan menjadi Pengelola di kuil Kamakura.

Kamakura?

Kalau kita berjumpa lagi, aku sudah menjadi Shogun di Kamakura.

Shogun?

Kalau ada Shogun yang mati, akulah yang akan menggantikannya.

Dogen, semoga kita bertemu lagi.

Sampai jumpa.

Dua setengah tahun kemudian.

Aku mendengar kabar kematiannya.

Tadi, aku takut aku kehilangan arah dalam perjalananku.

Tapi, berkat bertemu denganmu, keberanianku muncul kembali.

Sepertinya...

Kugyo orang yang membuatku terinspirasi.

Dogen... perjalanan apa yang kau maksud?

Mencari guru yang sesungguhnya, demi pencerahan Buddha.

Di Tien-tung-shan, aku telah bertemu beberapa biarawan...

tapi tidak ada yang memahami Ajaran dan Praktek Buddha.

Di sini ada sekte Ta-hui,

mereka payah mengenai Ajarannya, juga keinginan Prakteknya,

Aku mulai ragu dengan pencarianku...

bahwa mencari guru yang sesungguhnya itu sia-sia.

Dogen... kembalilah ke Tien-tung-shan.

Ke Tien-tung-shan?

Kelak, kau akan bertemu guru yang sesungguhnya.

Benarkah?

Setelah wafatnya guru Wu-chi, dan sesuai berlakunya aturan...

kelak Zen Ju-ching yang akan menjadi kepala pendeta di sana.

Aku ini adalah anak didiknya.

Guru Ju-ching...

tapi, yang mana orangnya?

Praktik Zen ialah membuat pikiran dan badan terlepas.

Terlepasnya badan dan pikiran ialah...

jalan keluar dari kebodohan juga kejahatan.

Tidak ada jalan lainnya...

selain melalui jalan Zen.

Duduk, dan mulai meditasinya.

Ji-uen, ayo berangkat ke Tien-tung-shan.

Mengagumkan.

Kau sangat misterius.

Dirimu berhasil bertemu Guru.

Kuil Zen Ayu-wan-shan Kuang-li.

Kau datang.

Ajarannya adalah...

Apa Ajarannya?

Satu, dua,

tiga, empat,

lima.

Prakteknya adalah...

Apa prakteknya?

Buddha selalu hadir pada...

setiap hal yang terjadi di dunia ini...

maka haruslah terjadi...

dan tidak ada seorang pun yang dapat menentang.

Meskipun daging kalian terkulai,

tetaplah kalian duduk. Seperti Buddha yang duduk di kursi paku.

Dalam Zazen, kau seharusnya melepaskan segalanya yang duniawi.

Kau bukannya berusaha, malah tidur!

Kau mendapat pencerahan?

Ya.

Pikiran dan badan terlepas?

Terlepas badan dan pikiran.

Terlepas, terlepas.

Dogen...

lupakan saja pencerahan yang kau dapatkan.

Ya.

Anggap pencerahan itu tidak ada batasnya...

praktek juga tidak ada batasnya.

Pencerahan dan Praktek itu...

tidak akan terputus ikatannya.

Catatan Silsilah.

Setiap datangnya bulan purnama,

kita di Jepang selalu melihatnya bersama.

Bulan yang kita lihat selalu sama...

entah di sini atau pun di sana.

1227, Dogen kembali ke Jepang.

Kemari kau!

Lari!

Berhenti!

Minggir!

Murah saja, ayo.

Berangkat!

Aku dengar kau tidur dengan pelacur yang jelek.

Dogen.

Kau sudah tahu itu.

Apa?

Tidak...

Ini adalah salah satu Praktek yang sesungguhnya.

Ke mana yang lain?

Pergi ke kota.

Zazen yang kucapai saat aku belajar meditasi.

Gerbang Dharma yang menenangkan terbuka,

membuka kesadaranku kepada suatu pencerahan.

Juli tanggal 17...

tahun 1227.

Guru Zen Ju-ching...

dari kuil Tien-tung-shan. Dipanggil Nirvana.

Namaku Koun Ejo,

pelajar Bucchi Kakuan dari sekte Dharma.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left