The first 200 lines.
DESTINED WITH YOU
Ada apa?
Kau kesakitan?
Ayo ke rumah sakit.
Kau sanggup berjalan?
Tak ada waktu ke rumah sakit.
Kita harus membuat permohonan.
Kau baik-baik saja?
Hanya migrain ringan.
Lihat. Matahari hampir terbenam.
Ayo buat permohonan.
Aku tak apa-apa.
Ini curang.
Aku belum selesai memohon.
Lanjutkan. Aku tak akan mengganggu.
Kau mengganggu sekarang.
Kalau begitu, akan terus kuganggu.
Bagaimana?
Tidak.
EPISODE 11
Kenapa kau membelikanku baju?
Kita tak akan kembali.
Sesuatu terjadi, 'kan?
Ini terkait pemanggilanku oleh Wali Kota?
Itu masalah sepele.
Akan kuurus masalah itu.
Lalu, kita mau ke mana sekarang?
Rehat, lalu lihat matahari terbit.
LAPORAN KONDISI PROPERTI NEGARA
CEK SPANDUK DAPUR UMUM
LEE HONG-JO
Berita penting.
Pak Jang menarik lengan
wanita berpipi merah di depan publik
dan berjalan keluar dari lobi bagaikan pria sejati.
Apa yang terjadi?
Seharusnya tak kubilang.
Seharusnya kuurus sendiri.
Kau bilang suka seseorang.
Apa dia Hong-jo?
Jadi, kau pelakunya.
Kau memaksa Wali Kota memutasikan Hong-jo ke tempat lain.
Aku bukan "pelaku".
Aku Yoon Na-yeon.
Kau sepertinya tipe orang yang bertindak impulsif.
Lebih baik bertindak daripada diam saja.
Telitilah jika ingin melakukannya.
Jangan gegabah.
Ini bagus.
Tentu saja, kau bersamaku.
Kamarmu di sana.
Ada bak mandi. Basuh dirimu dan istirahat.
Kau mau ke mana?
Membasuh diriku.
Kenapa tiba-tiba membasuh diri?
Jangan berpikiran nakal.
Wajar membasuh diri.
Cuci tangan juga membasuh.
Pukul berapa ini?
Astaga.
Lama sekali dia membasuh.
Dia tak langsung tidur, 'kan?
Ini konyol.
Aku bukannya kesal.
Aku datang jauh-jauh.
Setidaknya dia mengucapkan selamat tidur, 'kan?
Jangan salah paham.
Kau kelihatan sakit tadi.
Jadi, aku khawatir.
Aku tak ada maksud lain.
Aku tak salah paham.
Baguslah kalau begitu.
Bagaimana keadaanmu?
Aku baik-baik saja.
Kalau begitu, aku…
Aku bisa merasa tenang untuk tidur.
Benar. Semoga tidurmu nyenyak.
Tentu. Semoga kau tidur yang nyenyak juga, Sin-yu.
Ada apa?
Aku tak bilang kau tidur sendirian.
Tidurlah.
Kau harus tidur untuk besok pagi.
Bagaimana aku bisa tidur?
Kau ada di hadapanku.
Sekarang tidak lagi.
Aku tak akan bisa tidur.
Jika kau masih bicara, aku tak akan diam saja.
Kau takkan lihat matahari terbit.
Setiap Hari Tahun Baru,
dia akan membangunkanku pukul 03.30
untuk lihat matahari terbit di Gunung Bukhan.
Aku mengeluh tak mau ikut saat mendaki
dan mengeluh lelah saat perjalanan turun.
Namun, setelah ayahku meninggal,
aku selalu memulai Tahun Baru sendirian.
Aku juga sering bangun siang.
Kurasa aku tak ingin merasakan kalau dia sudah tiada.
Jadi, awal Tahun Baru-ku selalu menyedihkan.
Terima kasih.
Kau sudah mendampingiku.
Kau tak kedinginan?
Tidak terlalu.
Karena aku beruang.
Aku kedinginan.
Aku bukan beruang.
Dasar kau ini.
Kau tak benci bergandengan tangan?
Kata siapa?
Aku…
Begini…
Tak kusangka melihatmu di sini.
Aku pun tak menyangka melihatmu di sini.
Kenapa kau kemari, Pak Kwon?
Ini tempat matahari terbitku pada Tahun Baru.
Ada banyak tempat lain. Kenapa datang kemari?
Kau juga datang kemari.
Kita sudah bertemu, jadi ayo makan tteokguk bersama.
Kenapa makan bersama? Aku tak mau.
Aku mau.
Jangan membantu. Duduk saja. Akan kubuat sendiri.
Kau tak terlihat bisa masak.
Belum pernah kucoba,
tapi seperti kubilang, aku pasti bisa.
Apa kau akan mencari resep di ponselmu?
Tanpa resep pun bisa.
Gunakan resep agar bahannya tak mubazir.
Haruskah kubantu?
Tidak perlu, Hong-jo. Duduk saja.
Ini sangat menarik.
Aku menantikannya.
CARA MEMASAK TTEOKGUK
Aku khawatir kemarin.
Syukurlah kau tak apa-apa.
Ya.
Aku tak tahu kau melihat matahari terbit di sini.
Aku punya foto tahun lalu. Mau lihat?
Tentu.
Cuacanya cerah tahun lalu.
Astaga.
Foto-fotomu bagus.
Kau beruang yang jeli menilai foto.
Apa?
Astaga.
Mau lihat yang lain?
Ini gawat.
Kukira aku pandai memasak, tapi rupanya tidak.
Bahannya mungkin mubazir.
Harus ada tteokguk hari ini, tapi aku gagal.
Astaga…
Minggir. Aku saja.
Terima kasih.
Butuh bantuan?
Tidak perlu.
Ambillah resepmu.
Selamat makan.
Kelihatannya lezat,
tapi ini biasanya tak enak.
Enak.
Rasanya gurih.
Ini tteokguk terenak yang kumakan.
Bahkan ucapanmu manis.
Hanya itu kelebihannya.
Lihat dia, dia jelek.
Semua jelek.
Semuanya cantik.
Ya.
Benar.
Itu turun-temurun.
Tak bisa dihindari.
Ayah beranggapan itu karena kutukan.
Tidak ada mantra untuk orang sakit.
MANTRA PEMBERSIHAN PIKIRAN DAN TUBUH
LEE HONG-JO
Kau sedang apa?
Aku menunggu teleponmu.
Aku sudah memikirkannya baik-baik.
Mari coba Mantra Pembersihan Pikiran dan Tubuh.
Ini tak disebut bisa menyembuhkan,
tapi membersihkan pikiran dan tubuh.
Haruskah kutemui kau sekarang?
Tidak boleh.
Tidak merindukanku?
Aku merindukanmu.
Kalau begitu, sudah dulu.
Jika kau merindukanku, kenapa… ditutup?
LEE HONG-JO
Apa…
Kenapa tak langsung kau jawab?
Aku sedang membaca buku,
jadi aku tak tahu kau menelepon.
Ini Meditasi.
Sepertinya aku menghalangi upayamu untuk menuntut ilmu.
Kututup saja?
Jangan.
Aku sudah selesai.
Kalimat mana yang paling berkesan?
Aku ingin bersamamu.
Apa itu dari Meditasi?
Bukan.
Itu dariku.
No comments yet. Be the first to leave one.