The first 173 lines.
Baiklah.
Tidak boleh lupa pakai ini.
Sekarang aku tinggal di asrama Akademi Sihir Ranoa.
Keseharianku dimulai dengan berlari sampai lelah
mengelilingi Ibu Kota Sihir Sharia.
Dengan begitu, aku dapat mengenali setiap sudut kota.
Juga untuk mengetahui batas staminaku.
Tidak ada yang mengajariku cara berolahraga seperti ini.
Jika Rudy ada di posisiku sekarang, pasti dia akan melakukan hal yang sama.
KBM terasa membosankan.
Sebagian besar sudah kupelajari dari Rudy.
Aku makin paham betapa dalamnya pemahaman sihir Rudy.
Bagaimana prinsip ilmu sihir itu?
Jika memasukkan batu panas merah ke dalam panci,
airnya akan langsung mendidih, kan?
Prinsipnya sama.
Oh, begitu, ya!
Tuan Putri sangat rajin belajar.
Aku menyukai pekerja keras dan optimis.
Apa mungkin karena pengaruh Rudy?
Aku tidak tahu ada jalan pintas begini.
Ini jalan pintas paling cepat ke toko baju.
Memang tidak nyaman dilalui, tapi ada ciri khasnya sendiri.
Mungkin bekas jalan utama yang digunakan saat kota pertama kali dibangun.
Sharia dibangun serumit ini karena lokasinya rentan diserang negara lain.
Wah, aku kira Luke tidak memperhatikan pelajaran,
tapi ternyata mendengarkan.
Aku hanya mendengarnya dari gadis yang kukencani kemarin.
Jangan terlalu main serong, nanti ditusuk dari belakang.
Apa boleh buat.
Karena aku keturunan Notos.
Keturunan Notos, ya?
Aku cukup menjaga jarak dengan gadis yang bermasalah.
Kalau tidak salah, Rudy juga keturunan Notos.
Bukan begitu kesimpulannya.
Apa dia juga suka main serong?
Kalau sudah menikah, apa dia akan tetap main wanita?
Itu sudah pasti.
Lagi pula, ayah Rudy begitu.
Rudy, ya?
Rasanya, akhir-akhir ini aku terus memikirkan Rudy.
Aku ingin hubungan seperti apa dengan Rudy?
Bagaimana ini?
Peta yang kugambar telah terkoyak
Dunia masih sama dan belum berubah
Lagi-lagi menyalahkan orang lain
Muak rasanya
Aku akan tetap berpura-pura sambil menunggu sesuatu terjadi
Apa aku boleh mengulang dari titik ini?
Dahulu aku merasa bisa pergi ke mana pun
Di mana diriku waktu itu?
Pasti diriku waktu itu sudah menjadi dewasa
Tapi rasanya tidak demikian
Dengan sedikit keberanian,
mungkin ada hari esok yang bisa diubah
Aku pun tidak menyadarinya
Karena aku muak dengan hari-hari itu
Tidak ada hal yang abadi
Sebelum semuanya berakhir,
akan kucoba melangkah ke depan
Sembari menerima fakta, kupanjatkan doa
Satu bulan berlalu sejak kedatangan Julie.
Aku memberinya pelatihan dengan menganggapnya sebagai eksperimen.
Untuk mengawali hari, aku membiarkannya menggunakan satu sihir dengan merapal.
Setelah itu, dia akan fokus membuat gumpalan tanah liat tanpa merapal.
Zanoba berpikir Julie tidak akan bisa menggunakan sihir tanpa rapal dengan cara ini.
Tapi Julie berhasil melakukannya hanya dalam satu bulan.
Dia juga dapat belajar bahasa manusia meski terbata-bata.
Julie juga anak yang cerdas.
Zanoba yang kukira hanya peduli patung figur, nyatanya, dia merawat Julie dengan baik.
Umumnya agar tidak melarikan diri,
budak akan diborgol atau dibelenggu dengan sihir khusus.
Namun, Julie bukanlah budak, melainkan muridku.
Dan juga, adik seperguruan Zanoba.
Suatu hari, terjadi sebuah kasus.
Dengar, Julie!
Tidak ada mahakarya tanpa gairah dan usaha!
Sebagai murid pertama Guru,
Zanoba ini akan menyebutkan semua kelebihan mahakarya beliau!
Malam ini, mari mengulas figur Ruijerd.
Dilihat berapa kali pun tetap luar biasa.
Pejuang yang menyeramkan, tapi sungguh tampak gagah.
Ciri khas terbaik dari figur ini ialah pada posenya!
Meski tidak bisa digerakkan,
Oh iya, bagaimana dengan figur Roxy?
patung ini memberikan nuansa...
patung ini memberikan nuansa...
Pa... Patung itu saya tinggalkan di Istana Kerajaan Shirone...
Dia berbohong.
Sebenarnya memang saya bawa.
Dibawa, ya?
Karena sudah lama tidak melihatnya, coba perlihatkan patung itu.
Hei.
Apa-apaan ini?
Hah...
Apa maksud semua ini, Zanoba?
Apa yang...
Hei, apa yang terjadi?
Bukankah aku sudah bilang padamu betapa aku berterima kasih dan mengagumi masterku?
Bukankah kamu juga tahu betapa niatnya aku saat membuat patung ini?
Jangan-jangan kamu meremehkan Roxy?
Jawab aku, apa kamu musuhku?
Bu... Bu... Bukan begitu!
Patung itu hancur saat aku berduel...
Berduel, katamu?
Iya.
Saya ditantang Linia dan Pursena di tahun pertama masuk ke sini.
Maksudmu cewek-cewek ingusan dari suku Doldia itu?
Kami bertaruh sesuatu yang berharga bagi kami dalam duel tersebut.
Lalu saya...
Saya mohon ampun, Guru!
Kamu juga ikut kesal, ya?
Guru?
Kalau ada kejadian begitu, ceritakan padaku dari awal, dong.
Jadi, aku tidak perlu cengengesan di depan mereka.
Tidak akan kumaafkan.
Beraninya menghancurkan hasil karya orang.
Sungguh perbuatan biadab!
Sama biadabnya dengan menghancurkan komputer orang dengan tongkat bisbol.
Sialan.
Betina-betina jalang. Pokoknya tidak ada ampun!
Ayo beri mereka pelajaran.
Siap, Guru!
Kita keluar selarut ini gara-gara kamu terlalu santai.
Cerewet banget, meong.
Kalian ada perlu apa, meong?
Linia, sepertinya mereka mau cari ribut.
Zanoba, kamu tidak punya urat malu?
Mau balas dendam, kok, bawa murid kerempeng tahun pertama?
Wah, arogannya sudah di luar batas.
Kamu ingin kami menghancurkan patungmu yang satu lagi, ya?
Guru, biar saya yang...
Tidak apa-apa, tidak perlu merasa malu.
Harusnya mereka yang malu karena main keroyokan.
Terlebih, mereka sudah bilang tidak bisa berbuat apa-apa sendirian.
Apa katamu?
Hei, Anak Baru. Jangan berlagak sok jago!
Aku akan membiarkanmu jika tetap di pojokan kelas,
tapi kalau masih mengumbar mulut besarmu, kubunuh kau!
Kalau sudah paham, cepat menyingkir, meong.
Kami bukan lagi murid berandalan. Kami sibuk karena sudah jadi murid teladan.
Cari orang lain saja kalau mau ribut, meong.
Meong-meong melulu, berisik banget.
Memangnya suku binatang tidak bisa bicara bahasa manusia dengan baik?
Bajingan.
Aku akan menelanjangimu dan menyiramkan air padamu!
Duh, Linia ini bersumbu pendek.
Zanoba, urus Pursena!
Hari ini celana dalam putih, ya.
Kenapa jadi lomba kejar bola?
Kenapa jadi begini? Aduh!
Kamu boleh keluar!
Guru memang jago.
Saya tidak perlu ikut bertarung.
Yah, aku sendiri juga kaget.
Ternyata gampang juga.
Jangan-jangan Paul dan Eris jauh lebih kuat.
Sudah sadar, ya?
Baiklah.
Kita mulai dari mana?
Oke.
Mungkin saja jagoanku bisa pulih dengan situasi ini.
Cukup empuk, tapi rangsangannya kurang.
Respons jagoanku yang harusnya berdiri tegak, tetap nihil.
Sudah kuduga akan gagal.
Guru, apa Anda mau memberi hukuman seperti itu untuk mereka?
Tidak, aku cuma bereksperimen.
Apa kalian tahu kenapa sampai berakhir begini?
Harusnya kami tidak melakukan apa pun padamu.
Oh, tidak melakukan apa-apa?
Yang merusaknya adalah kalian, benar?
Apa hubungannya dengan patung menjijikkan ini?
Itu adalah patung simbolisme Mahadewi-ku.
No comments yet. Be the first to leave one.