The first 200 lines.
"Episode 15"
Aku sudah tiba di hotel.
Aku harus membongkar bawaanku, tapi aku lapar.
Aku harus makan apa?
Kuhargai jika kamu menyarankan makanan,
tapi akan lebih kuhargai jika kamu kemari.
- Apa? - Rupanya kamu ada di sini.
Halo.
Kamu baik-baik saja?
Ya, aku baik-baik saja.
Aku terlalu lama bermain ayunan.
Aku sungguh baik-baik saja.
Kenapa kamu tidak bermain ayunan dengan benar?
Kenapa terus berputar-putar?
Rasanya lebih seru.
Cobalah, rasanya seru.
Kamu tidak tampak menikmatinya.
Hidupku menjadi sangat kacau.
Jadi, aku membelit ayunannya.
Terkadang tidak punya teman bicara itu berat.
Saat itu terjadi, aku berputar di ayunan
lalu kubiarkan lilitannya terurai. Aku merasa lega.
Sekacau apa pun situasinya,
aku bisa menyelesaikannya dan semua akan baik-baik saja.
Aku seperti memantrai diri sendiri.
Aku membelitnya, lalu melepasnya.
Lalu kubelit lagi dan melepasnya lagi.
Apa itu cukup untuk membuatmu merasa lebih baik?
Tunggu.
Mau kubantu?
Tidak, aku hampir selesai. Tunggu.
Selesai. Kemarilah.
Kemarilah.
Bicaralah di sini.
Soal apa?
Apa saja. Katamu tidak punya teman bicara itu terasa berat.
Katakan sepuasmu di sini dan kamu akan merasa lebih baik.
Di sana?
Ya.
Kamu
menyuruh orang yang berusia lebih dari 30 tahun
untuk melakukan hal dari buku anak-anak seperti ini?
Jika tidak mau mengatakannya,
kamu cukup melakukan ini.
Katakan apa saja sesuai keinginanmu di sini.
Cobalah.
Teriakanmu kurang lantang.
Rasanya menyenangkan.
Ya, sepertinya begitu.
Hatiku terasa sangat lega.
Aku ingin pergi ke gurun pasir.
Pasti ada banyak pasir di sana.
Setibanya di sana, aku akan membuat lubang besar dan berteriak
agar bisa membuang semua kesialanku di sana.
Nenek, aku ingin berlatih taekwondo besok.
Kamu tidak boleh pergi hingga nenek buyutmu mengizinkan.
Nenek bisa bicara kepada Nenek Buyut.
Nenek buyutmu menghukummu
karena kamu bisa saja mengikuti orang asing lagi.
Kamu akan terus bersikeras?
Dia bukan orang asing.
Aku dan Bibi Taekwondo sangat akrab.
Gi Ppeum.
Dia mendengarku saat aku bicara
dan mengizinkanku meminjam bajunya.
Hentikan!
Kenapa kamu keras kepala?
Kamu mau memakai piama atau tidak?
Berhentilah membuat nenek kesal.
Ada apa?
Kamu hendak membantunya tidur. Kenapa memarahinya?
Dia bersikap keras kepala dan enggan mendengarku.
Astaga.
Kemarilah, Gi Ppeum.
Datanglah kepada kakek.
Lihatlah dirimu. Kamu sangat sedih?
Ceritakan kepada kakek.
Kakek akan menuruti semua keinginanmu.
Tenang saja. Gi Ppeum, kamu akan baik-baik saja.
Siapa cucu pintar kakek?
Baiklah. Pakailah piamamu, lalu tidur.
Begitu rupanya.
Orang pertama yang mencetuskan ide untuk menggali lubang
dan berteriak ke dalam lubang itu
adalah ayahmu.
Ya.
Dia bilang aku tidak boleh menunggu hingga cukup dewasa
untuk menanggung hal menyakitkan di hatiku.
Sejak aku masih kecil, dia menggalikanku banyak lubang.
Dia keren.
Benar.
"Aku harus menjadi seperti Ayah."
"Setidaknya aku harus menjadi separuh dari kehebatannya."
Itulah tujuan hidupku.
Aku tidak begitu mengenalmu,
tapi kurasa kamu sudah mencapai tujuan itu.
Tidak, prosesnya masih jauh.
Kemarin kamu pasti kesal.
Nenekku terlalu kejam kepadamu.
Tidak. Aku tahu dia mencemaskan Gi Ppeum.
Aku baik-baik saja.
Nenekku
telah sering terluka.
Dahulu, setelah mengalami kejadian mengerikan,
dia menjadi agak lebih sensitif.
Aku mewakilinya meminta maaf.
Aku tahu kamu pasti terluka juga.
Maaf karena hanya memintamu yang memahaminya.
Tidak, aku sungguh bisa mengerti.
Terima kasih.
Omong-omong,
aku kemari bukan karena kejadian kemarin.
Apa terjadi hal lain?
Aku
kehilangan hal yang sangat kuhargai dalam waktu lama.
Tapi baru setelah kehilangan,
aku menyadari betapa pentingnya hal itu bagiku.
Rasanya seperti melepaskan tali yang selama ini kita pegang erat.
Itulah sebabnya aku merasa sangat hampa.
Begitulah.
Entahlah.
Kita cukup bertentangan.
Kupikir aku sudah sepenuhnya melepas tali ini,
tapi aku takut akan memegang tali itu lagi.
Kapan pun aku merasa begitu lagi, aku kemari saja
dan naik ayunan sambil membelit talinya?
Kamu bilang merasa lebih baik saat melakukan ini.
Itu juga bagus,
tapi aku akan memberimu kabar baik
untuk membuatmu lekas merasa lebih baik.
Kamu punya kabar baik?
Aku akan membayar 50 dolar yang kupinjam kemarin.
Lihat? Kamu tertawa.
Ini kabar baik, bukan?
Benar.
- Ada apa? - Aku merasa tidak nyaman.
Bagaimana? Nomor satu atau nomor dua?
Apa maksudmu?
Pilih salah satu. Nomor satu atau nomor dua?
Nomor satu.
Sayang sekali.
Hari ini kamu harus membayarku 23 dolar saja.
- Itu pilihan nomor satu? - Ya.
- Bagaimana dengan nomor dua? - Bayarlah 27 dolar besok.
Sama saja.
Benarkah?
Benarkah?
- Berikan kepadaku. - Aku akan membayarmu besok.
Kamu memilih nomor satu.
Benar juga. 23 dolar.
- Bayar aku 23 dolar. - Benar.
Jika tidak bisa ke Pulau Ulleung,
kita ke Benteng Namhan melihat daun berganti warna saja.
Kamu bisa melihat daun sepuasnya di bus.
Untuk apa jauh-jauh ke Benteng Namhan?
Lihatlah daun dalam perjalanan ke kantor.
Sayang, itu berbeda.
Ayolah, Sayang.
Aku harus segera berangkat dan membuka Kedai Kopi Paradise.
Berhentilah mengajakku bicara.
Aku juga ingin makan sup ayam lengkap.
Baiklah.
Aku akan membeli ayam dan memasak sup ayam untuk makan malam.
Lupakan saja. Aku tidak akan memakannya.
Dia sama sekali tidak romantis. Dia sungguh tidak romantis.
Bagaimana daun itu bisa sama dengan daun yang ada dalam liburan?
Yang benar saja.
Ibu akan berusaha menghibur Gi Ppeum.
Jangan cemas dan fokuslah bekerja.
Baiklah. Nanti sore aku akan menelepon Ibu.
Halo.
Hai.
Aku tetangga kalian.
Bukankah kamu membantuku selama kecelakaan mobil itu?
Benar kamu. Sulit kupercaya kita bertemu lagi di sini.
Benar.
- Hai. - Hai.
Tunggu. Apa berarti kamu kakaknya?
Maaf. Halo?
Apa? 40?
Aku permisi dahulu. Aku sangat sibuk.
- Sampai jumpa. - Ya, sampai jumpa.
Kamu memesan dari mana? Ya.
Kecelakaan mobil? Apa maksudnya?
Bukan apa-apa. Masuklah, aku akan berangkat.
Baiklah.
Halo.
Tunggu.
Ya?
Soal baju itu.
Haruskah aku membeli baju ukuran anak berusia 7 tahun?
Apa?
Anda tidak perlu membelinya.
Aku punya baju itu karena ibuku
mengemasnya untukku saat aku menikah.
Benarkah?
Ya, jika bajunya tidak sama,
aku tidak memerlukannya.
Aku merasa lebih sungkan setelah tahu itu pemberian ibumu.
Tidak, seharusnya aku memeriksanya sesekali.
No comments yet. Be the first to leave one.