The first 200 lines.
"Episode Terakhir"
"Teppei sangat mesum"
Teman-teman, ini Kanazawa, pengganti Uesugi.
Dia dipindahkan kemari dari Departemen Akuntansi.
Aku Kanazawa Harumi.
Aku tidak tahu apa pun tentang departemen ini.
Jadi, aku mungkin akan menyulitkan kalian.
Kuharap kalian bisa tahan denganku.
Tidak apa-apa. Kami bisa bertahan dengan apa pun.
Kami akan memandu kalian. Jangan khawatir.
Jangan khawatir.
Jika ada pertanyaan, tanyakan saja pada kami.
Mari mulai rapatnya. - Baiklah.
Duduk saja di sini dan dengarkan kami.
Baiklah. Mari dengar laporan kalian.
Katagiri. - Ya.
Bagaimana persiapan presentasi LIETAX?
Jangan khawatir. Serahkan saja kepadaku.
Benarkah?
Kamu selalu penuh energi.
Yoda, giliranmu. - Baiklah.
"Selamat datang di Peepolo"
Begitu rupanya. Kamu sedang bekerja.
Sepertinya kamu bekerja keras untuk melupakan kenangan sedih.
Hei.
Jangan hanya berdiri di sana. Bantu aku.
Sepertinya kamu sangat stres.
Aku yakin kamu masih belum bisa melupakan mantan pacarmu, bukan?
Lagi pula, dia sangat tampan.
Midori, kamu sangat menyebalkan. Pergilah belajar.
Ada orang di sana?
Riko, kita kedatangan tamu.
Aku datang.
Aku datang.
Hei!
Hei!
Aku datang.
Hidup seperti ini tampaknya bukan ide yang buruk.
Ini membuatku ingin kembali ke kampung halamanku.
Tinggal di Tokyo sungguh melelahkan.
Seolah-olah semua orang
bertanya kepadaku setiap hari.
"Apa arti hidupmu?"
Bisa dibilang begitu.
Erika, kurasa
kamu tidak bisa tinggal di tempat yang tidak ada toserba,
toko video, dan sinyal telepon dalam radius seratus meter.
Mungkin kamu benar.
Riko, dengar.
Ada apa?
Kamu masih marah pada Teppei?
Aku tidak marah padanya.
Aku
tidak adil kepadanya.
Kalau begitu, kamu harus meneleponnya.
Minta maaflah kepadanya dan semuanya beres, bukan?
Aku tidak bisa melakukan itu sekarang.
Aku tidak mau lancang melakukan itu.
Apa dia akan berpikir begitu?
Teppei
yang paling penting dalam hatiku.
Tapi
kubiarkan imajinasiku menjadi liar
karena masalah sepele.
Setelah kupikirkan, itu membuatku merasa malu.
Aku bahkan membenci diriku karena itu.
Bahkan jika aku bertemu dengannya sekarang,
aku terus merasa sejarah akan terulang lagi.
"Foto"
Hei, kenapa kamu kemari?
Ada yang ingin kukatakan kepadamu.
Kemarilah.
Jika kamu ingin tinggal di rumah ini mulai sekarang,
kamu harus memikirkan ini baik-baik.
Aku di sini untuk membicarakan ini.
Apa maksudmu?
"Foto"
Ambil ini.
Apa?
Kencan buta?
Tidak, tentu saja tidak.
Aku tidak membutuhkannya.
Jangan... - Tidak.
Jangan bilang begitu. Temui dia dahulu dan lihat bagaimana jadinya.
Tidak. - Dia baik.
Dia putra kedua pemilik Studio Foto Kitamura.
Ini.
Hampir sampai.
Aku. Biar aku saja!
Tentu. Silakan. - Mari kita lakukan.
Kamu... - Berikan ponselmu.
Aku akan simpan nomor kontakku.
Maaf.
Astaga, kalian.
Ada yang mau bermain?
Kalian bisa bermain. - Semuanya.
Lakukan yang terbaik.
Kami?
Aku akan menghubungimu nanti sore.
Baik.
Pak Sakai, pada dasarnya itu saja.
Kalau begitu, mari kita pakai proposal ini. Tidak apa-apa?
Bagaimana menurutmu, Teppei?
Kurasa
yang ada gadisnya ini
juga lumayan.
Tapi agar aman,
gaya alami dalam proposal ini
terasa lebih menyegarkan
dan sesuai dengan persyaratan LIETAX.
Kurasa kita bisa memakai ini.
Menurutmu ini tidak apa-apa?
Ya.
Lumayan.
Baiklah. Sekian untuk hari ini.
Baiklah.
Terima kasih. - Terima kasih.
Benar, Pak Sakai.
Bisakah kamu selesaikan sampelnya dalam dua hari?
Kurasa
kamu tampak agak berbeda.
Apa maksudmu?
Dahulu,
kamu pasti
terlalu banyak bicara dan tidak menghargai orang lain.
Ada apa?
Apa aku seperti itu?
Hal itu
tidak menyenangkan.
"Pengumuman"
Apa kabarmu belakangan ini?
Apa maksudmu? - Maaf membuatmu menunggu.
Tampaknya kamu tidak sehat. Jujur saja denganku.
Sama sekali tidak.
Aku baik-baik saja.
Benarkah? - Ya.
Tapi belum lama ini,
saat aku harus membuat keputusan,
aku menilainya
berdasarkan preferensiku.
Tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang.
Saat ada yang ingin kukatakan
dan setiap kali memikirkan pendapat orang-orang di sekitarku,
seperti Pak Ando dan Pak Sakai,
aku juga akan menganggap perkataan mereka masuk akal.
Entah bagaimana, itu menahanku.
Itu karena
kamu lebih dewasa sekarang.
Ini.
Terima kasih.
Apa yang terjadi
denganmu dan Uesugi?
Aku ingin membawanya kembali.
Tapi kamu ragu?
Tidak.
Aku tidak ragu.
Lalu?
Aku hanya berpikir jika aku pergi menjemputnya sekarang,
aku harus bertanggung jawab atas hidupnya.
Saat memikirkan itu,
aku bahkan tidak menerima diriku sendiri.
Bagaimana aku
akan bertanggung jawab atas hidup orang lain?
Kurasa itu tidak benar.
Menerima dirimu sendiri?
Kamu pikir itu bisa dilakukan olehmu sendiri?
Seseorang tidak punya kekuatan untuk melakukannya.
Andai saja
kamu diterima oleh orang-orang terdekat,
kamu akan merasa hidup di dunia ini berarti
meski kamu tidak sempurna.
Pelayan, satu botol bir lagi.
Tentu! - Dua saja.
Aku mengeluarkan kimono yang Ibu pakai saat masih muda.
Bagaimana menurutmu?
Aku tidak mau pergi ke kencan buta.
Kenapa tidak?
Tolonglah.
Kenakan ini dan pergilah. Lalu kamu boleh pulang.
Kenapa kamu enggan melakukannya?
Karena...
Kamu menyukai seseorang?
Benarkah?
Tidak.
Kamu sebenarnya
mengajakku berkencan di hari liburmu.
Angin mana yang meniupmu kemari?
Aku mengerti.
Kamu akhirnya bersedia bersamaku sekarang.
Tidak.
Kudengar kamu pergi ke Nagano.
Sudah kuduga.
Kamu mau bertanya soal Riko, bukan?
Rasanya sangat hangat setelah makan kari.
Rasanya panas sekali.
Hei.
Jangan bicarakan wanita yang tidak masuk akal itu.
Ayo pergi dan bersenang-senang.
Apa?
Tempat yang membakar gairah.
No comments yet. Be the first to leave one.