The first 139 lines.
Oke, ini dia.
Ya. Tidak, aku akan baik-baik saja dengan ini.
Oke. Aku siap.
- Baiklah. Terima kasih. -
Untuk mereka yang terpikat oleh pegunungan,
keajaiban mereka diluar semua perselisihan.
Untuk mereka yang tidak,
daya pikat mereka adalah semacam kegilaan.
Apa kekuatan aneh ini yang menarik kita ke atas?
Lagu sirene ini dari puncak?
T ranslated by: rambrr4
Tr anslated by: rambrr4
Tra nslated by: rambrr4
Tran slated by: rambrr4
Trans lated by: rambrr4
Transl ated by: rambrr4
Transla ted by: rambrr4
Translat ed by: rambrr4
Translate d by: rambrr4
Translated by: rambrr4
Translated by: rambrr4
Translated b y: rambrr4
Translated by : rambrr4
Translated by: rambrr4
Translated by: rambrr4
Translated by: r ambrr4
Translated by: r a mbrr4
Translated by: r a m brr4
Translated by: r a m b rr4
Translated by: r a m b r r4
Translated by: r a m b r r 4
Translated by: r a m b r r 4
Translated by: r a m b r r 4
Hanya tiga abad yang lalu,
bersiap untuk mendaki gunung
akan dianggap sebagai tindakan gila.
Ide itu hampir tidak ada
bahwa lanskap liar mungkin menahan
segala jenis ketertarikan.
Gunung adalah tempat dari bahaya, bukan keindahan.
Dunia atas untuk dijauhi,
tidak dicari.
Jadi mengapa gunung sekarang
membuat kita jadi terpesona,
menarik kita ke kekuasaan mereka...
sering dengan harga yang ditebus dengan nyawa kita?
Karena gunung yang kita daki
tidak terbuat hanya dari batu dan es,
tetapi juga mimpi
dan keinginan.
Gunung-gunung yang kita daki
adalah pegunungan bagi pikiran
Untuk manusia, pegunungan tinggi
pernah dianggap sebagai rumah
baik bagi yang suci
ataupun yang bermusuhan.
Tidak ada di antaranya.
Suatu alam yang dipuja dari bawah,
tetapi tidak pernah dimasuki.
Pergi berkeliling gunung jika perlu,
di sepanjang sisi mereka, tapi ke atasnya...
karena hanya dewa dan monster
tinggal di ketinggian.
Dunia atas adalah bentang suci
arah kemana kita tujukan pengabdian kita
dan ritual kekaguman kita...
... tapi selalu dari jarak yang aman.
Kehidupan sehari-hari membawa banyak kesulitan dan bahaya.
Tidak perlu untuk mencari lebih banyak.
Walau begitu, secara bertahap,
naga dan dewa diabaikan,
dan perasaan kita menuju gunung
mengalami perubahan yang mencengangkan.
Ketertarikan menggantikan rasa gentar.
Petualangan menggantikan kekaguman.
Seiring pertumbuhan kota
dan kita mengisolasi diri kita jauh dari alam,
pegunungan memanggil kita kembali.
Keajaiban pegunungan diperkuat:
kecantikan galak mereka,
kekuatan mereka untuk mempesona,
tantangan mereka.
Kita pergi mencari tempat yang mengintimidasi
dan tidak terkendali,
yang terinspirasi dalam diri kita perpaduan yang memabukkan
kesenangan dan teror,
yang kita sebut 'yang agung' (the sublime).
Pencarian 'yang agung'
menarik kita keluar dan ke atas.
Puncak hebat dunia
mulai mengerahkan kekuatan pada imajinasi.
Lagu sirene
yang mudah didengar,
sulit untuk menolak...
dan terkadang
fatal.
Tapi legenda kematian di tempat-tempat tinggi
menyebarkan mantera dari pegunungan
lebih luas lagi.
Perlahan,
ruang kosong di peta diisi.
Tujuan kekaisaran adalah untuk menjaring,
menjelajahi, dan memberi nama dunia atas.
Untuk membawanya dan orang-orangnya
dalam ranah yang dikenal
dan yang dikuasai.
Untuk mengganti misteri dengan penguasaan.
Dan misteri terbesar dari mereka semua?
Everest.
Maka dimulailah kampanye untuk manaklukannya.
Everest dikepung.
Sampai, akhirnya, ia menyerah.
Ini adalah momen
dimana pendakian gunung sebagai petualangan
memasuki imajinasi populer.
Daya tarik kita menjadi obsesi.
Sekarang kebutuhan kita akan gunung berjalan dalam dan lebar,
karena sebagian besar dari kita ada untuk sebagian besar waktu
berada di lingkungan yang diatur secara manusia
dan terkontrol.
Tapi gunung itu liar dan tak bisa dikendalikan.
Ini adalah sumber dari bahaya mereka
dan juga sumber dari daya tarik mereka.
Dan begitu, sebuah kerinduan untuk yang tidak diketahui
mengundang kita seterusnya.
Seperti Gua Echo,
yang tidak diketahui akan menjawab kembali
dengan apa pun yang kau panggil ke dalamnya.
Bepergian ke puncak tinggi adalah melewati ambang
ruang di mana waktu terpengaruh
dan melengkung,
dan sensasi diperkuat dengan mendebarkan.
Batu dan es,
jauh kurang lembut untuk sentuhan tangan
daripada mata batin.
Gunung-gunung Bumi
sudah sering ternyata menjadi lebih tahan,
nyata lebih fatal,
dari gunung yang kita bayangkan.
No comments yet. Be the first to leave one.