The first 159 lines.
Pencukur Jenggot, Menuju Sungai di Selatan
m 0 0 l -2986.5 0 l -2986.5 -13.375 l 0 -13.375 b 3.375 -12.625 5.25 -10.625 5.25 -6.625 b 5.25 -3.375 4 0 0 0
Hunter No Sekai
Now Watching
Goblin Slayer S2
Episode #05
Hunter No Sekai
Now Watching
Download di:
Maaf, permisi semuanya!
Aku datang mengirim surat.
Serius disita? ayolah kok begini!
Gara-gara lu beli perlengkapan sampai utang pinjol segala! Pekok!
Katanya adikku melahirkan.
Setelah petualangan selanjutnya selesai, aku harus menemuinya.
Hei, jangan bicara begitu.
Orang yang berkata begitu biasanya mati duluan, tahu.
Sepertinya bakal menikah.
Menikah?!
Begitu. Dengan siapa?
Sepupuku.
Aku kaget. Padahal dia keras kepala.
Selamat!
Apa kaum Elf juga merayakan upacara pernikahan?
Kalau boleh...
Tentu! Karena dia klannya ketua suku.
Pasti meriah, jadi datanglah!
Eh? Sungguh? Aku senang!
Karena putrinya ketua suku begini, kukira Elf bakal binasa dalam waktu dekat.
Itu berarti kita berpisah di sini denganmu.
Aku bakal rindu.
Hah?
Kenapa aku harus berpisah dengan kalian?
Apa suami mengizinkan berkelana dan menghadapi bahaya setelah menikah?
Sepupuku tidak mungkin mengizinkan.
Sekali lihat saja ketahuan lengket banget.
Padahal orangnya serius dan keras kepala.
Wah, dia benar-benar keras kepala.
Etto...
Jadi, siapa yang menikah?
Mbakku.
Kasih tau dari tadi kek, Cewe goblok!
Tunggu! kau apa-apaan, sih?
Tahan dikit, biar tololmu sembuh!
Jahat! Inilah kenapa aku benci Dwarf!
Tapi kami bakal merepotkan, jadi kami harus siapkan oleh-oleh.
Begitu. Aku...
Tidak boleh.
Kau sudah diundang perayaan, jadi harus datang.
Itu ada benarnya, tapi...
Ayo minta tolong Resepsionis menyerahkan pembasmian goblin ke orang lain.
Biarawati jadi lebih tegas sekarang.
Tentu saja karena aku sudah dilatih Goblin Slayer.
Pernikahan, ya? Aku ikut senang.
Iya. Untung mbakku gak jadi perawan tua.
Umurnya berapa?
Etto...
Kira-kira 8.000 tahun.
Saat mendengarkan Elf bicara, membahas umur jadi terasa konyol.
Kau cantik, kok. Tidak usah khawatir.
Terima kasih perhatiannya.
Betul, tuh.
Tidak ada gunanya membandingkan umur naga, gajah, dan tikus, 'kan?
Kira-kira begitu.
Apa itu gajah?
Kau tidak tahu?
Kaki seperti pilar.
Ekor seperti tali.
Telinga seperti kipas.
Tubuh seperti tembok.
Gading seperti tombak.
Kursi takhta.
Binatang besar dengan hidung panjang.
Binatang?
Ah, warnanya abu-abu.
Aku sama sekali tidak mengerti.
Karena itu kalian minta komisi membasmi goblin disortir, ya?
Iya. Kami ingin mengajak Goblin Slayer ke upacara pernikahan.
Kami juga tidak bisa menyerahkan semuanya ke Goblin Slayer sendiri.
Apakah bisa?
Ya, bisa, kok.
Kalau dibiarkan, orang ini tidak mau istirahat juga.
Aduh.
Kau juga sama saja.
Kapan terakhir kali kau ambil libur?
A-Aku sudah ambil libur, kok.
Kalau begitu, kau bakal ikut ke upacara pernikahan, 'kan?
Dia mengajakmu, 'kan?
Tentu, karena kami teman.
Aku senang menerimanya, tapi...
Dibilang libur sana!
Ya.
Yang jelas, kalian juga sama-sama harus menyelesaikan kerjaan yang tersisa.
Agar dia bisa liburan dengan tenang,
bisakah kau hancurkan dua atau tiga sarang goblin?
Tentu.
20.
23 ekor, ya?
Susah juga.
Dewa pun tidak serbabisa.
Kita butuh kereta atau pengangkut.
Berangkatnya besok.
Iya.
Setelah pagi datang, kita pergi ke tempat yang lebih nyaman.
Maaf dari lubuk hati terdalam.
Tenang.
Walau dewa yang kita sembah beda, monyet pun awalnya adalah kadal.
Artinya kita sama.
Kadal zimbabwe mengatakan hal aneh, ya.
Dasar goblin.
Mereka tak tahu betapa berharganya suatu benda.
Akhir-akhir ini, para goblin sedikit bertambah pintar, ya.
Setuju. Apa mereka sudah mendapatkan kecerdasan?
Adakah yang masih bagus?
Cuma yang tak dianggap sampah oleh mereka.
Mungkin para goblin tak bisa membedakannya dengan batu-batuan lain.
Yah, yang bisa membacanya cuma kau dan aku.
Lalu kita takkan tahu kalau belum diselidiki,
tapi itu harus ditunda dulu.
Tidak ada jejak goblin yang keluar.
Sudah yakin?
Yakin, kok.
Jadi kalau kita tak diincar goblin lain, kita takkan diserang di jalan pulang.
Wahai Ibu Pertiwi yang Maha Pengasih,
tolong sucikan kotornya kami dengan tanganmu itu.
Purify!
Ini enak, ya.
Rasanya seperti setelah main air.
Ini mantra baru yang kau pelajari?
Saat aku bilang naik ke peringkat baja ke kepala pendeta,
dia memberikan ritual padaku.
Tapi lumayan polos, ya.
Ada yang lebih mencolok, 'kan?
Karena mengutamakan kegunaan.
Mantra yang bagus.
Ini berguna.
Ayo, anak pintar.
Ayo masuk sini.
Selamat datang! Kerja bagus!
Ya. Aku pulang.
Kau tidak terluka, ya.
Syukurlah.
Ya.
Tapi kau agak lelah, 'kan?
Beratkah?
Tidak ada pekerjaan yang enteng.
Benar juga.
Omong-omong...
Ada upacara pernikahan.
Upacara pernikahan? Kau diundang?
Ada Elf di reguku, 'kan?
Kakaknya dan sepupunya.
Begitu, ya.
Aku diminta mengajakmu juga.
Boleh?
Ini bukan cuma keputusanku.
Bolehkah?
Aku coba bicara ke Paman.
Pernikahan, ya?
No comments yet. Be the first to leave one.