The first 200 lines.
Alih bahasa dipersembahkan oleh The Third Time's The Charm Team @ Viki
Episode 1
Selamat pagi, Bu.
Apa kau tidur nyenyak?
Ya, Bu. Aku tidur dengan sangat lelap.
Apakah kau banyak minum?
Ya. Kemarin mereka berkumpul dan pulang lebih awal.
Mereka sudah berniat untuk mabuk.
Bibi.
Amitabha Avalokiteśvara.
Avalokiteśvara.
Aku sudah memutuskan.
Untuk membawanya kembali.
Kita sudah membuat kesepakatan tidak akan membawanya kesini sampai dia menjadi dewasa.
Perempuan itu tidak membawa dia. Lalu apa?
Janjinya sudah tidak ditepati.
Kita sudah cukup berkompromi.
Sekarang, bawa dia kembali.
Ibu!
Ibumu masih waras dan aku disini.
Disaat perempuan itu tidak membawanya sendiri, lalu apa gunanya?
Meskipun dua mati 100 kali dan membawanya kembali, dia masih garis keturunan keluarga kita.
Kenapa ini tidak menjadi masuk akal?
Kenapa kau tiba-tiba melakukan ini?
Orang ini!
Walaupun kau sudah bercerai dan menjadi orang asing.
Bertemu satu sama lain dengan menjadikan anak sebagai alasan.
Aku sudah mengatakan bawa anak itu dan beberapa kali untuk mengakhirinya.
Aku sudah tidak bertemu dengannya beberapa waktu.
Jangan repot-repot dengan Han Chae Rin.
Hal ini jelas. Canggung dengan mantan istrimu.
Aku juga tidak menyukainya.
Aku sudah katakan bahwa aku sudah lama tidak bertemu dengan dia.
Jika kau tidak bisa melakukannya, aku yang akan lakukan.
Haruskah aku yang lakukan?
Tanya pada siapapun di persimpangan Stasiun Gangnam.
Kau sudah merusaknya dari awal. Dari yang paling awal.
Kenapa harus ada pembicaraan ini. Jika kita meminta mereka mengembalikan anak itu, maka mereka harus mengembalikannya.
Mereka tidak akan mengatakan apa-apa, Bu.
Aku tahu. Meskipun mulutnya adalah keranjang, dia tidak bisa menciak.
Aku akan mengurus hal ini.
Apa yang akan kau lakukan?
Aku bertanya padamu, apa yang akan kau lakukan??
Pernahkan dia melakukan hal yang benar? Kau harus melakukannya, Bu.
Aturannya adalah harus ada akhir untuk setiap situasi.
Karena kita membahasnya lagi, mari kita berikan dia waktu.
Tagihan pemeliharaan Lantai 2 dan 4 tidak datang. Apa saja yang sudah kau lakukan, Ketua Hwang?
Anak-anak selalu mengejekku.
Aku tidak tinggal dengan ayah atau pun ibu, jadi mereka memanggilku anak yatim piatu.
Sehingga mereka tidak ingin bermain denganku.
Hei!
Kau harus bertanggung jawab.
Untuk apa?
Karena hal ini karena dirimu.
Kaulah yang menempatkan kita bersama-sama.
Bukan begitu?
Apa kau tidak memotong rambut?
Aku bisa melakukannya nanti.
Rasanya canggung karena aku mengatakannya dua hari yang lalu.
Bertanggung jawablah.
Apakah aku mengunci kalian dalam sebuah kamar?
Aku melakukannya karena kau yang menyuruh. Sebenarnya, ada apa denganmu?
Karena ibuku kau harus melakukannya. Ini harus diselesaikan.
Aku melakukannya karena kau bilang itu yang paling baik yang bisa kulakukan.
Benar, bukan?
Tanggung jawab.
Baiklah, aku akan bertanggung jawab.
Bagaimana kau akan bertanggung jawab?
Jika kau berselingkuh setelah menikah, aku akan membantu membunuhmu.
Hei! Kau...
Apa kau ingin dipanggil orang gila sebelum menikah?
Lagi pula julukanku adalah si tolol gila.
Aku tidak gila. Bagaimana bisa orang gila bertanggung jawab?
Keparat gila!
Itu tidak adil.
Kau sudah datang?
Punggung ayah akan sakit.
Dia cukup kuat.
Kemarin.
Anak-anak mengolok-olok dia lagi.
Dia pulang sambil menangis dari sekolah.
Aku merasa tidak enak.
Dia bicara dengan ayahnya sangat lama.
Tapi aku rasa dia masih marah.
Kenapa anak-anak sangat jahat?
Jangan katakan apa-apa.
Baiklah.
Maaf.
Dari jumlah yang terkumpul dari sumbangan teman-teman di pemakaman, sebuah apartemen kecil di Gimpo sudah dibeli.
Kerja bagus.
Dan juga aku akan mengurus biaya sekolah anak-anak itu.
Bagaimana mereka bertahan hidup?
Ibunya mengajar les piano.
Baguslah kalau begitu.
Seperti seekor monyet yang jatuh dari pohon, (artinya: orang pintar berbuat kesalahan)
si pendaki mungkin mati di sisi gunung.
Itu sudah ditentukan.
Di umur 30 tahun, suaminya meninggal, dan anak-anaknya dibawa pergi dan dia perlu mencari nafkah untuk tetap hidup.
Betul sekali. Aigoo, Dewi Rahmat!
Daripada berpura-pura melakukannya dan kemudian menyusup di sekitarnya,
aku tidak akan memaafkan anak-anakku dari melakukan tugas mereka.
Pastikan kau bertanggung jawab.
Jika mereka butuh sekolah keluar negeri, kirim mereka kesana.
Ya.
Aku sudah melahirkan dua anak, tapi kau tidak menerima satu sumpit pun.
Orang tua tidak bicara sembarangan.
Suamimu ini adalah generasi ketiga keluarga ini satu-satunya laki-laki.
Jangan lupakan hal itu. Apakah kita akan mendengar kabar baik sebelum tahun depan?
Unnie!
Apakah kau kehabisan ingeojup?
Belum.
Ahjumma, apa kau memberi anak ini ingeojub secara teratur?
Ya, Nyonya.
Jika kau terlihat ceroboh,
saat kau tertangkap sedang mengabaikan tugasmu, kau harus pulang untuk bertemu cucumu.
Ya.
Apa kau sudah berhenti minum alkohol?
Ya. Tentu saja, Ayah.
Anak bodoh. Jangan menari di sekitarku.
Tolong berhenti sekarang.
Jook (bubur) apa ini?
Itu okdung (bubur dari ikan).
Tidak heran baunya amis.
Aku tidak bisa memukul dengan nomor 3.
Dari sepuluh kali, aku hanya berhasil satu atau dua kali.
Kau juga, Ayah. Jangan berlebihan. Santai saja.
Tuan Hwang membuatnya terbang sempurna dengan yang ketiga.
Harga diriku sering turun.
Tapi ayah, kau punya kemampuan luar biasa.
Mungkin salah satu hari latihan golf siang dan malam mencoba untuk memukul bola masuk ke lubang.
Jika aku tidak bisa melakukan itu, aku bodoh.
Kau tidak melakukan sesuatu yang penting hari ini, kan?
Tidak ada yang berkepentingan.
Kalau begitu pada akhir putaran, keluarlah sebentar. Perkenalkan dirimu pada teman-temanku.
Inilah saatnya untuk melakukan itu.
Baiklah.
Ayah Mertua!
Ya.
Masuklah. Kembali ke dalam.
Semoga sukses!
Eun.
Semoga sukses untukmu juga.
Semangat, Nak.
Ya, Ayah.
Setahun sudah berlalu sejak mereka menikah. Tidak ada 'kabar bagus' juga.
Dia bisa memeriksa.
Meskipun kau memeriksanya ratusan hari
disaat ketiga nenek kesuburan menutup matanya, itu percuma saja.
Lagi pula, mereka sedang tidur.
Itulah yang kukatakan.
Saat itu terjadi, itu akan terjadi.
Mencoba bertindak meskipun terkadang kau tidak tahu.
Tidak baik kalau menjadi stress.
Apakah aku yang akan melihat keturunanku?
Aku sedang membantumu.
Aku bahkan seseorang yang menyesal melahirkan anakku sendiri.
Di usia 34 tahun aku pasti sudah menjadi biarawati jika itu bukan untuk mereka.
Seperti yang kau bilang, saat takdir itu datang, itu akan terjadi. Siapa yang tahu?
Kalau begitu, ini bukan pertama kalinya.
Ini bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Hei...
Apa kau pikir dia akan datang jika aku meminta dia untuk berkunjung ke kuil bersamaku?
Selamatkan kami Buddha dan Kwan Yin. yang penyayang.
Hei!
Kau harus makan.
Ya, Bibi. Aku akan keluar. Aku tidak akan melewatkannya.
Ah, Manajer. Ini saya.
Bisakah anda mengganti waktu presentasi dari jam 11 siang ke jam 3 sore?
Karena ayah ingin aku menyisihkan waktu untuk dia.
Ya, saya tahu.
Ah, itu. Saya ingin mengatur jadwal ulang untuk pertemuan besok ke waktu lain.
Ganti jadwal rapat tersebut sesuai keinginan mereka.
Kekhawatiran kita sama, Manajer.
Ya.
Dimana dia?
Dia naik ke atas.
Bagaimana dengan ayahmu?
Dia ingin aku memperkenalkan diri kepada teman-temannya di lapangan golf.
Ah, untuk anak yang bekerja.
Bibi!
Baiklah, aku mengerti.
Itulah sebabnya aku dimarahi oleh ibumu.
Aku punya waktu 30 menit.
Lalu?
Kau sepertinya bersikap dingin padaku.
Jadi, kau sudah ingat?
Apakah sulit untuk mematuhi?
Aku tidak ingin seorang yang tolol tersandung di sekitarku.
Aku terjaga penuh sekarang.
Tidak!
Dari yang aku lihat kemarin, jangan sentuh aku selama 72 jam.
72 JAM?
Itu hal konyol yang melambai padamu dan mengatakan "Ayah".
Aku tidak berpikir aku semabuk itu.
Mari kita gosok gigi.
Jika kau punya waktu, mari kita berkencan di lapangan golf tempat ayah bermain. Dia akan menyukainya.
Itu tidak bisa.
Aku harus membawa pakaian ke sekolah memasak dari jam 9:30 - 11.00 siang.
Lalu aku harus mandi, menata rambutku, mengganti baju, memakai riasan dan pergi ke pernikahan jam 12 siang.
Pernikahan itu...
No comments yet. Be the first to leave one.