The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
"It's My Life"
"Episode 62"
Apa aku kebanyakan makan makanan asin? Kenapa haus sekali?
Siapa di sana?
Apakah itu hantu? Astaga. Aku takut pada hantu.
Tolong matikan lampunya.
Bidadariku.
Ada apa?
Apakah ada masalah?
Baiklah. Aku tidak akan bicara.
Menangislah. Lampiaskan saja.
Entah apa yang sedang kulakukan sekarang.
Tidak banyak orang di dunia tahu apa yang mereka lakukan.
Begitulah orang-orang hidup.
Dahulu aku ingin tinggal di rumah ini.
Orang bilang aku bertanggung jawab atas kematian Young Gyu
dan mereka berpaling dariku.
Jadi, aku sangat ingin rumah ini
menjadi milik Si Woo.
Itu sebabnya kamu meminta
agar rumah ini menjadi kepemilikan mereka berdua.
Saat Si Woo menikah dan punya anak-anak,
aku mengatakan
kami akan membaca buku
dan menggambar bersama di ruang tengah ini.
Kini Si Woo pasti tidak menginginkan itu.
Dia mengemas barang-barangnya dan pergi.
Dia bahkan tidak menjawab teleponku.
Dia satu-satunya motivasi yang kumiliki seumur hidupku.
Teganya dia memperlakukanku seperti ini?
Kamu menangis lagi.
Berhentilah menangis, Bidadariku.
Kamu akan sakit kepala jika terlalu banyak menangis.
Semua penghuni rumah ini
berhenti bicara
saat aku pulang.
Mereka memperlakukanku seolah-olah aku tidak terlihat.
Putraku, Si Woo
juga meninggalkan rumah dan tidak akan kembali.
Kamu, satu-satunya yang bicara kepadaku di rumah ini,
tidak ingin bicara lagi kepadaku.
Astaga.
Dengarlah, Bidadariku.
Entah bagaimana ini kedengarannya,
tapi orang bilang tidak ada obat untuk cinta.
Maksudku, mereka begitu saling mencintai saat ini.
Makin kuat kamu melarang hubungan mereka,
putramu akan makin menentang keinginanmu.
Terima saja hubungan mereka.
Mana bisa aku menyetujui gadis seperti dia?
Sekeras apa pun aku memikirkannya,
aku tidak bisa melakukan itu.
Jangan menentangnya dengan keras kepala seperti itu.
Berilah waktu untuk melihat bagaimana kelanjutannya.
Ada tanjakan dan juga turunan dalam cinta.
Turunan?
Tentu saja. Pikirkan ini.
Saat gairahnya memudar,
mereka akan melihat hal-hal yang saling tidak disukai
dan merasakan kebosanan dalam hubungan mereka.
Pada saat itu, Si Woo akan menyadari
bahwa kamu, ibunya, benar.
Kamu sungguh berpikir
- hari itu akan datang? - Tentu saja.
Itu juga terjadi kepadaku.
Saat mantan istriku kentut di depanku untuk kali pertama,
semua fantasiku tentang dia hancur.
Kurasa saat itulah gairah kami mulai memudar.
Terima kasih telah mendengarkanku.
Katamu, kamu takut denganku.
Kurasa hari ini kamu tidak takut.
Benarkah? Kapan aku mengatakan itu?
Sepertinya kamu bermimpi, Bidadariku.
Jika kamu memenangi kontes ini
dan menjadi penerus Hyunkang,
aku akan menyetujui hubunganmu dengan Seung Joo.
Aku akan mencobanya, Seung Joo.
Hai, Seung Joo.
Kamu mendengarku memanggilmu dari jauh sana?
Kamu memanggilku? Kenapa?
Karena aku merindukanmu.
Aku meneleponmu karena merindukanmu juga.
Jadi, seperti ini rasanya mengobrol bersama pacar.
Sedang apa kamu larut malam begini?
- Kamu tidak bisa tidur? - Ya.
Mungkin karena aku minum kopi terlalu banyak. Aku tidak mengantuk.
Astaga. Bagaimana sebaiknya aku membantumu tidur?
Temanku bilang
pacarnya menyanyikan
ninabobo untuknya tiap malam.
Kamu memintaku bernyanyi untukmu?
Kenapa? Kamu tidak mau?
Sudahlah jika kamu tidak mau.
Tidak. Bukan itu maksudku. Baiklah. Aku akan bernyanyi untukmu.
Tapi aku harus menyanyikan apa?
"Dirimu, bagiku"
"Kamu orang yang seperti itu"
"Kamu orang yang luar biasa"
"Yang perlahan-lahan mengubah orang bodoh sepertiku"
"Kukira cinta terjadi hanya sekali"
"Kukira cinta terjadi ke siapa pun dengan cara serupa"
"Tapi bagiku, yang memercayai itu"
"Bagiku, yang pernah menjadi seperti itu"
"Dirimu, bagiku"
Baiklah. Sudah selesai.
Kamu terlihat sangat tampan.
Ternyata begini rasanya
mencintai dan dicintai.
Bagaimana kalau kita mendaftarkan pernikahan kita lebih dahulu?
Aku punya kenangan buruk soal pendaftaran pernikahan.
Tapi kali ini berbeda.
Aku tidak mau melakukan itu tanpa sepengetahuan Bu Choi.
Mari kita bicarakan ini setelah kontes berakhir, ya?
Itu aneh.
Sepertinya kamu tidak mau menikah denganku jika aku kalah kontes.
Aku tidak mau orang berpikir kamu kalah karena aku.
Jadi,
pastikan kamu menang. Ya?
Baiklah.
- Kita akan terlambat. Ayo cepat. - Ayo.
Itu tidak mungkin.
Bu Choi yang tidak berperasaan itu benar-benar menangis?
Dia pasti sangat sedih karena Si Woo.
Katanya, dia sangat sedih karena Si Woo meninggalkan rumah
dan kita semua memperlakukan dia
seolah-olah dia tidak ada.
Siapa yang memperlakukan dia seolah-olah dia tidak ada?
Tiap kali kita bicara, dia berkata kejam dan membentak.
Jadi, kita hanya berhati-hati agar tidak membuat masalah.
- Si Woo tidur di luar lagi? - Ya.
Karena dia mengemas pakaiannya...
Seperti kataku, dia pasti tinggal bersama Jin Ah.
Si Woo sedang pergi berdinas.
Ada konferensi asosiasi industri pakaian.
Aku keliru dan salah paham tentang dia.
Kalian selalu bertukar pandang dan mengabaikanku.
Kalian tahu betapa itu membuatku kesal?
Aku hanya memberinya kode untuk memanaskan sup
karena itu sudah dingin, Bidadariku.
Maafkan aku jika kami membuatmu kesal.
Jangan marah dan makanlah.
Kami punya sungnyung panas. Kamu mau?
Tidak usah.
Benar juga. Bidadariku, ada yang ingin kutanyakan.
Kamu mengenal Bang Cheol Sang
yang bekerja sebagai satpam di kantor kita?
Bagaimana aku mengenalnya?
Katanya, kalian berasal dari kampung halaman yang sama.
Apa?
Kalau begitu, Bu Choi juga berasal dari Hongcheon?
Dia pasti keliru.
Di kartu keluargaku tertulis Sangdo-dong, Dongjak-gu, Seoul.
Bukankah ibumu berasal dari Hongcheon?
Kurasa itu 15 tahun yang lalu.
Aku ingat pergi ke pemakaman menggantikan mendiang pimpinan.
Dia adalah ibu tiriku.
Aku tidak bernafsu makan hari ini.
- Astaga! - Ada apa?
- Kenapa? Ada apa? - Tidak mungkin.
Ada apa, Yeon Ji?
Bagaimana ini? Beratku bertambah empat kilogram gara-gara kamu.
Kenapa ini gara-gara aku?
Kamu membuatkan sarapan dan camilan malam untukku tiap hari.
Serta camilan siang hari pada akhir pekan.
Pantas saja aku bertambah gemuk.
Tapi kamu tidak terlihat gemuk sama sekali.
Kamu terlihat sempurna sekarang.
Astaga. Sempurna, apanya.
Aku tidak akan menyarap mulai hari ini.
Tidak boleh ada camilan lagi. Ingatlah itu.
Aku berangkat.
Kamu tidak akan menyarap?
Yeon Ji, setidaknya makanlah yang kubuatkan hari ini!
Yeon Ji bertambah manis saat dia agak gemuk.
Haruskah kita berangkat kerja sepagi ini?
Kamu tahu aku sibuk dengan banyak pekerjaan.
Maka aku akan tidur lebih lama daripada sarapan mulai besok.
Tapi ini giliranmu memasak pekan ini.
Benar juga. Ini giliranku memasak.
Man Seok, bisakah kamu menggantikanku pekan ini saja?
Aku belum terbiasa dengan pekerjaan kantor.
Tidak bisa.
Kamu kejam sekali, Man Seok.
Aku kurang tidur karena mengingat klien dan poin kontak.
Kakiku bengkak dan bahuku kaku.
Kamu tahu betapa lelahnya aku?
Kamu pikir bekerja untuk digaji itu mudah?
Tapi kamu yang menggajiku.
Jadi, kamu pikir kamu bisa menghabiskan uang sesukamu?
Tidak, bukan begitu, tapi...
Kamu sudah melihatku bekerja, Yeon Sil.
Aku bekerja sekeras itu untuk menghasilkan uang.
Kamu mau menghabiskan 200 dolar
untuk kukumu sementara aku kesusahan
menghasilkan uang itu?
Kukumu...
Aku tidak punya waktu untuk melakukan perawatan kuku.
Lagi pula, itu hanya mengganggu saat aku bekerja.
No comments yet. Be the first to leave one.