The first 200 lines.
TUJUH TAHUN SEBELUMNYA
Keren.
Ibu tahu gaya nyetirmu?
Cepat ambil barangmu. Aku sudah ketinggalan nonton 90210.
Kau beruntung ada kawat di gigimu,
gigimu diperlukan untuk mengenali sisa mayatmu.
-Diam. Dasar berengsek. -Dah, Nicole.
-Waktu kita pisah. Itu saja. -Dari mana asalnya itu?
Kau bisa ikut, bukan? Ini bukan...
Sudahlah. Kalau kau tak ingin ikut, aku tak ikut.
-Baik. Pergilah. -Aku mitramu atau bukan?
Kau tak mendukungku dan band-ku.
Aku dukung band kalian. Aku suka kalian.
Masuklah ke mobil.
Jangan cepat-cepat kembali.
Ayolah.
Ada yang terlewat di sini.
Saya boleh membersihkannya?
Anda ingin tambah kacangnya?
Di dapur masih ada satu kereta.
Terima kasih.
Astaga. Aku ambilkan handuk untuk Anda.
Astaga. Maaf.
Maaf.
Aku tak apa-apa.
Ada handuk di sini. Jadi aku tak butuh...
KOSONG
TERPAKAI
RASANYA SEPERTI CINTA
-Semua baik-baik saja? -Semua... Ya.
Semua baik-baik saja.
Perhatian.
Ada perubahan pengambilan bagasi untuk penerbangan 640.
Sekarang ada di ban putar 4.
Jangan.
Aku Oliver.
-Kupikir kita bisa mengobrol... -Bla, bla, bla.
-Kau merusaknya. -Merusak apa?
Rahasia kecil kita.
Kupikir pramugarinya memperhatikan kita, jadi...
Ia harus dibunuh.
-Aku Oliver. -Kau selalu menyebut namamu.
Kau memang sulit dengan pria.
Aku sudah membuatnya cukup mudah untukmu, Oliver.
Apa kabar Bon Jovi-mu?
-Siapa? -Pacarmu.
Mantan pacar.
Ya, aku lihat itu.
Apa yang terjadi di sana?
Sekarang kita sudah berteman?
Kita sedikit lebih dari teman.
Bon Jovi dapat kontrak rekaman besar?
Namanya bukan Bon Jovi.
Ia pemain gitar.
Semua bisa bermain gitar.
Kau bisa?
Tidak.
Pukulan kedua.
Pukulan kedua?
Yang mana pukulan pertamaku?
Kau ingin duduk di sebelah pacarmu?
Terima kasih. Aku ingin sekali.
Jadi apa tujuanmu, Oliver? Kau ke New York untuk bisnis?
Aku? Terima kasih sudah menanyakan.
Sebenarnya aku ke sini untuk menengok kakakku.
Ia pengacara. Nantinya. Sekarang ia kuliah hukum, jadi...
Kau ingin pekerjaan itu juga?
Entahlah.
Aku baru tamat sekolah.
Bukankah biasanya anak sekolah tamat di bulan Juni?
Ya.
Itu sudah hampir setahun. Dan kau belum bekerja juga?
Siapa kau, ibuku?
Entahlah, waktu kau melihatku, kau lihat ibumu?
-Apa bintangmu? -Apa?
Cancer.
Pukulan ketiga.
Terima kasih.
Namaku Emily.
Aku tak menyangka namamu Emily.
Jangan sampai ditodong.
PECUNDANG
Bagaimana perjalananmu?
Baik-baik saja.
Siapa itu?
Jangan malu. Mari.
Kenalkan kakakku.
Kupikir setelah kalian ngobrol dulu.
Ini pacarku.
Hai. Aku Oliver. Senang berkenalan.
Aku juga, Oliver. Aku Carol. Sudah sering aku mendengarmu.
Maaf, kupikir kau...
Kaupikir ia tuli, kan?
Ya.
Terima kasih banyak.
-Ke mana perginya? -Apa?
Jaketku. Tadi ada di sini.
Jaket apa?
Aku tak lihat ada jaket.
Apa?
Apa yang bisa kubeli dengan 20?
20?
Dollar?
Kau tahu, mencium perokok seperti menjilat asbak.
Sungguh? Bagaimana kalau menidurinya?
-Kau mengikutiku? -Ya.
Ada yang mencuri jaketku.
Apa yang kaulakukan? Kau ingin melakukan sesuatu?
-Sekarang kita berteman? -Ini dia.
-Kupikir kau sedang ke kamar kecil. -Benar. Tapi...
-Aku keluar untuk mencari angin. -Hai, aku Brent, ayah Emily.
Hai, Oliver.
-Christine. -Ibu tiriku.
Kau siap untuk ke museum?
Ayah tahu? Bagaimana kalau aku tak ikut ke museum?
-Christine sudah cuti kerja. -Aku tahu. Maaf, tapi...
Kau keberatan kalau aku beri tahu mereka?
Tidak. Ceritakan saja.
Oliver akan terima hasil tesnya hari ini,
dan ia memintaku untuk ikut dia.
Ini saat yang menegangkan. Tidak apa-apa.
-Kami tak akan lama. -Tak usah cemas.
Tak perlu terburu-buru.
Aku yakin segalanya akan berjalan baik.
Kita lihat saja.
Semoga berhasil.
-Sampai nanti? -Baik.
Terima kasih.
Hal-hal seperti itu sama sekali tak lucu.
Kau cuma punya satu peluang memberi kesan awal.
Kau peduli pada pendapat ayahku?
Bagaimana kalau kita cocok dan berpacaran?
-Kenapa? -Kita tak akan pernah berpacaran.
Baiklah, kau terlalu sombong.
Pertama, kenapa aku mau pacaran dengan pria yang kutahu
mau bercinta di WC pesawat dengan wanita pertama yang mengetuk?
Tapi aku bersamamu.
Kau tak mau denganku karena aku tidur denganmu?
Kedua, kau sama sekali tak mendekati tipeku.
Aku juga tak sedang mencari pacar, jadi...
Dan ketiga, ternyata kau mungkin saja gay.
Maksudku, aku ingin pacar perempuan.
Terserahlah. Aku harus utamakan yang penting.
-Apa? -Entahlah.
Membuat rencana dan bariskan bebek-bebekmu.
Maksudmu menyusun rencana?
-Ya, maksudku itu. -Apa saja rencananya?
Yang normal saja. Seperti pekerjaan, karier, rumah, masa depan.
Lalu apa? Wanita impianmu akan datang mencarimu?
Ya.
Aku akan menemukannya. Kami akan saling menemukan.
Jangan cemaskan aku dengan wanita. Aku akan baik-baik saja.
Kemari.
Apa? Hentikan. Jangan.
Kau bukan tak menarik.
Kau sadar sekarang tengah hari, bukan?
Dua lagi?
Aku masih ada pekerjaan hari ini, jadi...
Aku juga.
Aku pesan dobel.
Itu dobel.
26.
Aku saja yang bayar.
-Aku tahu. -Kau tahu.
Aku tak keberatan harus membayar,
tapi aku benci kalau kau pikir aku yang akan bayar.
Maksudku, setidaknya kau bergerak.
Seperti mencari dompet, atau sesuatu.
Bagaimana kalau kau tak punya rencana?
Akan kuatur rencanaku. Berurutan.
Bagaimana jika perlu 20 tahun?
Tak perlu 20 tahun. Hanya lima tahun saja.
Mungkin enam tahun. Maksimum.
Tapi sekarang kau tak punya pekerjaan.
-Kau bahkan tak tahu arti pekerjaan. -Itu tidak benar.
Aku tertarik pada segala hal yang berhubungan dengan internet.
Bagus. Kabarnya media itu akan besar.
-Pasti. -Aku yakin.
-Kau menyindirku? -Tidak.
Kurasa usahamu akan sia-sia.
Kau yakin bahwa enam tahun dari sekarang,
pria sepertiku punya pekerjaan, rumah, mobil bagus, dan masa depan,
kaupikir aku akan kesulitan cari wanita yang cinta aku?
Kupikir kau akan dapat masalah besar.
Kau...
Apa yang kaulakukan?
Aku menulis nomor telepon orang tuaku.
-Kau tinggal bersama mereka? -Tidak.
Ya. Tapi enam tahun lagi, tidak.
Apa hubungannya dengan 6 tahun?
Kalau kaubiarkan aku selesai bicara, itulah yang kumaksud.
Enam tahun dari sekarang, telepon nomor ini,
Tanya orang tuaku, dimana bisa menghubungi aku.
Mereka akan beri nomor teleponku.
Lalu kau akan telepon rumahku, dan waktu istriku cantik mengangkat,
tanya ke mana kau harus kirim 20 dolar hutangmu itu.
20 dollar? Kupikir kau akan menjadi pebisnis kaya.
Baik. 50.
-50. -Baik.
Kapan saja sebelum Natal.
No comments yet. Be the first to leave one.