The first 200 lines.
Delirium
Ólafur, selamat siang. Silakan masuk.
- Uhm.. Tidak.. Aku Uh... - Oh.
Kau bukan Olaf?
Tidak, bukan aku.
Oh, mohon tunggu sebentar.
Tidak bisakah aku masuk saja?
Coba kulihat... Oh, ya. Ini hari Selasa, bukan Rabu.
- Oh, ya. Ingi. - Tepat sekali.
- Jam sepuluh tiga puluh, kan? - Yap.
Silakan masuk, Egill menunggumu.
Baik, terima kasih.
Halo.
Silakan duduk.
Ya, terima kasih.
Mau kopi?
Ya, silakan.
Tanpa susu!
- Ini. - Terima kasih.
Jadi...
Bagaimana kabar keponakanku?
Dia baik-baik saja. Dia di rumah bersama Lilja.
Oh?
Ya, sepertinya Lilja terkena flu.
Jangan ragu meminta Snædís meneleponku jika ada yang bisa kubantu.
Ya, tentu saja.
Aku mau memberimu...
CV-ku.
Aku baru menambahkan proyek yang kukerjakan akhir-akhir ini, dan ya.
Ya, kupikir aku akan jadi tambahan yang cukup bagus untuk perusahaan.
Ini masalahnya.
Kau tahu kenapa kau ada di sini, kan?
Kau di sini pertama dan terutama karena Snædís, keponakanku.
Dia memohon untuk memberimu kesempatan.
Kapan sidangmu berikutnya?
Minggu depan.
Kapan terakhir kali kau minum?
Tidak sejak kecelakaan itu.
Sangat sulit bagi orang untuk berubah
dan sejujurnya, aku belum pernah melihat itu.
Benar.
Aku tahu aku tidak akan dapat banyak kesempatan.
Jadi, aku berjanji aku tidak akan mengacaukannya.
Mungkin...
Mungkin.
Kau tahu jalan keluarnya.
Ya.
Hei, hei.
Hei, apa kabar?
Kita bicarakan saja nanti saat aku pulang.
Apa dia sesulit itu?
Ya.
Dia hanya mencoba menilaimu.
Ya, kuperhatikan.
- Haruskah aku meneleponnya? - Tidak, tidak perlu.
- Kau yakin? - Ya.
Satu hal lagi. Tetangga kita mengeluh tentang bau yang masuk ke lorong.
Mereka pikir itu berasal dari apartemen kita.
Bau? Kau tidak serius kan.
Oke, aku akan memeriksanya.
Kau punya kunci tambahan?
Tidak. Tidak punya.
Aku akan kembali 15 menit lagi.
- Sampai jumpa. - Ya, sampai jumpa sebentar lagi. Sampai jumpa.
Halo?
- Lilja sedang tidur. - Maaf.
Bagaimana keadaannya?
Kurasa dia baik-baik saja.
Tapi dia malah tertidur.
Apa dia masih demam?
Haruskah kita membawanya ke dokter?
- Tidak, kita tunggu saja dan lihat bagaimana keadaannya besok. - Oke.
Tapi apa kau dengar kabar pengacaranya?
- Tentu. Aku akan bicara lagi besok. - Oke.
Tapi, aku baru membuat makanan. Aku akan menunggumu.
Ya, sebentar.
Aku mendengarnya uhh...
Krona Islandia sedang menguat.
Yang berarti kita akan mendapatkan lebih sedikit mata uang asing kita.
Oleh karena itu, kita mungkin harus menaikkan sewa.
Kurasa tidak ada yang mau bayar sebanyak itu, jika menaikkan harga.
Kita harus melakukan sesuatu. Tidak berdiam diri saja.
Tidak, maksudku, kau akan segera dapat pekerjaan baru.
Aku tidak begitu yakin.
Dia bahkan tidak memeriksa CV-ku.
Tidak, dia sudah tahu siapa kau.
Ya, tapi dia tidak melakukan apa pun selain memarahiku sepanjang waktu aku di sana.
Tahu apa yang kumaksud?
Oke. Aku akan meneleponnya.
Tidak, kumohon jangan.
Aku tidak mau bekerja untuk orang yang tidak mau berurusan denganku.
Oke, kau sudah melamar di tempat lain?
Ya, tentu saja.
- Ya, benar sekali. - Benarkah?
Ya, hanya saja uhh... kau tahu.
Aku tidak mau bertemu dengan sekretaris seksi itu setiap hari.
Kau tahu apa yang kubicarakan.
Tunggu, tunggu.
Apa kau baru bilang sekretaris seksi?
- Kau mendengarku. - Baiklah.
Ada perempuan di resepsi yang tidak tahu apa yang sedang dilakukannya.
Butuh waktu sekitar 5 menit untuk mengetahui hari apa ini.
Kau bisa mengerti kenapa dia dipekerjakan.
Jelas bukan karena dia ahli dalam pekerjaannya.
Kenapa kau bilang begitu?
Kau tahu persis alasannya.
Dia mengalami krisis akhir hayatnya, aku melihatnya.
Jadi menurutmu dia berselingkuh?
Ya.
Tidak perlu dipertanyakan lagi.
Tentu saja.
- Dia pasti menidurinya. - Meniduri putrinya?
- Itu Embla, sepupumu. - Itu sepupuku, Embla. Sial.
Dia sudah ke sini berkali-kali.
Ya, sekarang aku mengingatnya.
Kau sungguh penggoda.
Jadi.
Siapa namanya?
Orang yang menyewa.
Reid apaan gitu, menurutku.
- Ada di aplikasi. - Oke.
Aku pergi dulu kalau begitu.
Kau tahu, dia mungkin...
Kau tahu mungkin dia meninggalkan kulkas terbuka atau semacamnya
- dan pergi jalan-jalan atau semacamnya. - Ya.
Sampai jumpa.
- Terima kasih atas makanannya. - Sampai jumpa.
Hei. Permisi.
Aku yang menyewakan apartemen ini.
Kau melihat lelaki tua datang dan pergi belakangan ini?
Tidak, tidak bisa bilang begitu.
Apa bau itu berasal dari apartemenmu?
Ya, dia mungkin lupa membuang sampah atau semacamnya.
Mmm, menurutku bukan bau seperti itu.
Itu lebih seperti...
Oh sudahlah.
Ah, sialan.
- Ingimundur? - Ya?
Kau kenal Reid?
Tidak, dia hanya memesan tempat pada kami beberapa minggu
setelah itu kami tidak mendengar kabar apa pun.
Siapa kami?
Ya, aku dan pacarku. Kami menyewakan apartemen itu.
Siapa namanya?
Snædis Pétursdottir.
Oke, tapi apa kau bertemu Reid untuk memberinya kunci atau semacamnya?
Tidak, pacarku biasanya yang mengurus hal-hal yang berkaitan dengan penyewaan.
Apa ada keluhan?
Tidak, hanya dapat beberapa panggilan yang mengeluhkan baunya.
Itu sebabnya aku ke sini.
Kau tahu siapa yang menelepon?
Siapa yang menelepon? Tidak.
Oh begitu, jadi Snædís juga mengurusnya.
Oke, kami akan menghubungi Snædís besok.
Tapi jika kau bisa menahan diri tidak masuk ke dalam apartemen
- sementara tim forensik menanganinya. - Tentu, tidak masalah.
Maaf, satu pertanyaan lagi.
Apa forensik biasanya membersihkannya... sebelum dibawa pergi?
- Tidak. - Bukankah pemerintah atau polisi harusnya menangani ini?
Tidak. Bukan begitu cara kerjanya.
Ini apartemenmu. Pemiliklah yang bertanggung jawab atas properti.
Jika aku jadi kau, aku akan menyewa perusahaan pembersih yang mengurus hal semacam ini.
Atau kau bisa melakukannya sendiri.
Hey.
Kau pulang terlambat?
Ya.
Aku menemukan apa yang menyebabkan bau itu.
Ya, apa itu?
Dia...
Membusuk di kamar mandi kita.
- Apa? - Yap.
Sepertinya dia bunuh diri.
Baunya...
Rasanya seperti lengket sekali di badan. Aku perlu mandi atau apa gitu.
Bagaimana dengan apartemen kita?
Kita akan kedatangan tamu baru beberapa hari lagi.
Kita tinggal memanggil perusahaan pembersih atau semacamnya.
Menurutmu berapa biayanya?
Kelihatannya tidak bagus.
Aku tidak tahan dengan semua ini, omong kosong seperti ini selalu saja terjadi.
Hei hei hei, semuanya akan baik-baik saja.
Tidurlah, kita bisa membicarakannya besok.
Tentu.
Oke...
Aku akan bicara denganmu nanti.
Oke, terima kasih. Sampai jumpa.
- Selamat pagi. - Pagi.
Bukankah seharusnya kau bekerja?
Tidak, aku menelpon dan dapat libur hari ini.
- Apa kau bicara dengan perusahaan pembersih? - Ya.
Apa jawaban mereka?
Ini akan selalu mahal.
Tapi mereka bilang mereka mau melihatnya lebih dulu sebelum memberi kita penawaran.
Oke, apa ada tawaran yang kau sukai?
Ya, ada lelaki yang sangat...
Bersemangat.
Bersemangat?
Tapi dia bisa datang hari ini.
- Kalau begitu, kita pesan dia, karena dia bisa datang hari ini. - Tentu.
- Apa Lilja sudah bangun? - Ya, dia ada di kamarnya.
No comments yet. Be the first to leave one.