The first 200 lines.
Aku mau menyelamatkanmu.
Aku mau menyumbangkan liverku.
Apa?
Liver mu?
Ibu.
Apa benar Ibu mau jadi pendonor?
Kalau bukan aku, siapa lagi?
Saudaranya gak ada yang mau.
Pergilah.
Aku tidak mau menerima liver mu.
Kamu kenapa sih, Poong Sang?
Ibu, bicara denganku.
Jangan panggil dia Ibu.
- Pergilah. - Kamu diam saja.
Kamu ngapain saja selama ini,
sudah kepala 5 belum juga punya rumah sendiri.
Selama ini uangnya dipakai untuk apa?
Ibu, apa benar mau mendonorkan livermu?
Emangnya aku tukang bohong?
Bukan keputusan yang mudah bagiku.
Ibu, selamanya kami akan berterima kasih kepada mu.
Terima kasih banyak.
Gak perlu berterima kasih. Tapi kenapa dengan Poong Sang?
Aku bisa memahami semua anakku, kecuali dia.
Aku akan menangani Poong Sang.
Aku akan membujuk dia, Ibu.
Apa kamu sudah gila?
Kenapa membuang kesempatan ini?
- Beliau ibumu. - Aku tidak punya Ibu.
Jangan bicara begitu.
Tuhan memberi mu kesempatan.
Apa kamu tidak paham perasaanku?
Tidak, dan aku tidak mau tahu.
Yang penting kamu bisa hidup.
Tidak ada yang lebih penting dari kehidupan.
Aku tidak butuh liver nya!
Aku ingin membuang semua darah nya..
yang mengalir di dalam diriku.
Tapi kamu malah menyuruh aku menerima liver nya?
Lebih baik aku mati.
Kamu lebih memilih mati?
Kenapa kamu berpikiran sempit?
Tolong pikirkanlah diriku yang sudah..
mengemis ke semua orang untuk menjadi pendonor.
Aku akan mengurus ini, kamu tidak perlu ikut campur.
Jangan lakukan itu!
Hey, Boon Sil!
Kapan kamu melakukan ini?
Kenapa kamu membaca itu?
Kenapa tidak memberitahu ku?
Liverku tidak cocok jadi untuk apa memberitahu mu?
Terima kasih.
Terima kasih banyak.
Bahkan semua saudaraku menolak.
Sebenarnya, aku tidak melakukan ini dengan mudah.
Bagaimanapun, aku hanyalah..
manusia biasa, jadi aku pun merasa takut.
Tapi aku tidak bisa hanya acuh.
Sudah tugasku melindungi istriku.
Aku tidak akan melupakan ini.
Lebih mudah berkata daripada melakukan.
Bahkan anggota keluarga merasakan keraguan..
untuk mendonasikan organ mereka.
Kamu benar.
Tidak bisakah aku sendiri saja yang menjadi donor?
Meskipun sulit..
Sangat tidak boleh.
Sebagai dokter, kamu lebih paham.
Livermu kecil, akan sangat berbahaya.
Tidak bisa menolong Poong Sang membuatku merasa..
sangat tidak berguna dan frustasi.
Tenanglah.
"Untuk sementara ini, kita lakukan kemoterapi."
Ini perkataan Jin Ji Ham kepadaku.
Kamu bertemu dengan nya?
Beberapa hari lalu.
Aku harus melakukan apapun untuk menolong mu.
Kamu memang yang terbaik.
Pertama kalinya hatiku merasa tenang.
- Hi, Boon Sil. - Jeong Sang.
Ibu mu mau jadi donor.
Dia datang dan menawarkan liver nya!
Benarkah?
Datanglah ke RS segera.
Kenapa Ibu mengambil keputusan ini?
Aku yang melahirkan dia, jadi aku harus melakukan ini.
Apakah usia berpengaruh?
Seorang yang berusia 70 tahun pernah menjadi donor.
Masalah usia berbeda untuk tiap individu.
Mari lakukan pemeriksaan.
Ibu belum makan apa-apa dari pagi kan?
Kenapa buru-buru?
Kondisi Poong Sang kritis. Kita harus buru-buru.
Tenanglah
Kita tes darah dulu.
Aku takut.
Hey.
Teknologi sudah maju, Ibu gak akan merasa sakit.
Nomor yang anda tuju tidak aktif.
Ibu.
Hati-hati.
Awas, ada lubang.
Ibu pasti lapar kan. Makanlah.
Ini pertama kalinya aku makan..
masakan menantuku.
- Ya kan? - Maafkan aku.
Aku ini ibu mertua yang terbaik.
Aku tidak pernah memarahi atau mengatur mu.
Aku sungguh beruntung.
Syukurlah kalau kamu sadar.
Aduh, kaki ku.
Kaki Ibu pasti pegal kan.
Aku kelaparan seharian, darahku diambil,
aku juga banyak berjalan.
Kupikir aku akan mati karena kecapean.
Bagaimana menurutmu?
Tunggu hasil pemeriksaan keluar baru bisa tahu.
Bukan itu maksudku.
Bagaimana rasa masakannya?
Bisa dimakan lah.
Pelan-pelan.
Maafkan.
Kenapa wanita tenaganya bisa sekuat itu sih.
Wanita itu harus lemah lembut.
Terlalu kuat gak menarik.
Wanita sejati itu harus lemah.
Kamu gak pakai make up?
Aku bekerja seharian,
jadi tidak ada waktu.
Lagi pula kosmetik itu mahal.
Kulit ibu kok bisa sangat bagus begitu?
Orang bisa mengira Ibu ini sebagai temanku.
Permisi.
Dia sudah diperiksa dan sekarang sedang makan.
Suruh dia pergi sekarang juga.
Beraninya dia masuk rumahku?
Aku sudah bilang, aku tidak sudi menerima livernya.
Aku kedinginan di luar sini.
Jangan marah-marah.
Selama ini kamu pura-pura gak bertenaga.
Suaramu terlalu sehat padahal kamu sedang sakit.
Aku membeku disini.
Bagaimana kalau terjadi apa-apa kepadaku?
Kalau begitu pulanglah.
Pulang dan beristirahatlah.
Suruh dia pergi dulu.
Jangan keras kepala.
Kenapa kamu tega pada seseorang yang baru..
melakukan banyak pemeriksaan di RS?
Apa benar kamu akan terus melakukan ini?
Kamu memihak siapa sebenarnya?
Hello?
Makanlah.
Kamu makin kurus saja.
Aku yang tambah kurus.
Jin Sang yang seharusnya kelaparan, bukan kamu.
- Kami kan teman. - Teman apaan.
Bibi.
Ibu, beli daging ini dimana? Lezat sekali.
Senang ya kamu menyiksaku.
Gitu ngakunya teman.
Sialan.
Kamu sungguh kejam.
- Satu suap saja. - Jangan banyak tingkah.
Kapan kamu akan menghilangkan lemak itu?
Pasti berat hanya bisa melihat.
Apalagi mencium baunya.
Tidak boleh.
- Biarkan aku melihat saja deh. - Pikirkan Poong Sang.
- Hey, suara apa itu? - Gak ngurus.
Kayanya ada pembeli datang.
Kita sudah tutup kok.
Satu suap saja, yaaa.
Satu suap dan kamu janji akan berolah raga?
Tentu saja. Beri aku potongan yang besar.
Ya, itu. Yang paling besar.
Akan ku kunyah pelan-pelan.
Kamu sudah makan satu, sekarang berlari lah.
Pergi.
Lari.
Lebih cepat.
Lakukan lah yang benar, Tuan Jin Sang.
Kalau begini bagaimana bisa kurus?
Kalau sudah kurus,
kubunuh kau.
Mungkin kamu akan mati duluan daripada aku.
Sialan.
Mending aku ke surga daripada diet.
Kaya yang bakal masuk surga saja.
Bangkitlah sekarang juga.
Itu barangnya?
Boss, aku beli macam-macam.
Lihat ini semua.
Kerja bagus.
Akan kutaruh disini.
Hey, kasih ini ke Wae Sang.
- Baik, Boss. - Pergilah.
Sudah kubilang tidak!
Mau jadi atlit baseball itu gak murah.
Kalau maksa kamu yang bakal susah.
No comments yet. Be the first to leave one.