The first 200 lines.
What Happens to My Family Episode 51
Sapi rebus, sosis goreng, perkedel ikan goreng, egg roll...
Seleranya seperti anak kecil.
Bibi Mertua, apa yang kau lakukan?
Tidak ada.
Katanya, dia ingin menemukan jati dirinya.
Jati diri? Bagaimana caranya?
Dia mengarang buku.
Mungkin akan ada penulis hebat di rumah ini jika dia melakukannya.
Benarkah?
Wow, Bibi Mertua, kau jenius.
Tapi buku macam apa itu? Bisa kau tunjukkan?
Bukan urusanmu. Tidak akan menarik.
Hei, hari ini kau keluar lagi?
Ya.
Wow, mertuamu luar biasa.
Bagaimana bisa mereka melakukannya?
Nah, kan? Mereka terlalu memerhatikan persiapan pernikahannya.
Tapi bukannya mereka terkesan sombong? Memangnya kita tidak bisa melakukannya?
Young Seol, jangan ikut campur. Kang Shim bisa menanganinya.
Aku pergi.
Ibu, mengapa kau begini?
Bagaimana denganku? -Mengapa kau mengacuhkan pernikahan Kang Shim?
Padahal, Ibu sudah seperti ibu kandung Kang Shim.
Hei, jika aku ikut campur, aku akan membebani Kang Shim saja.
Aku tidak bisa menyamai level besan bahkan jika aku berusaha.
Tapi, Kang Shim pasti sedih.
Apa maksudmu? Dia punya mertua yang bisa diandalkan.
Kakak, keluar! Ayah di sini!
Bibi! Ayah di sini!
Apa dia bilang?
Kurasa dia bilang Ayah Mertua di sini.
Paman?
Ayah, kau pulang?
Ya, Kang Shim. Apa kabar?
Paman!
Apa kau baik-baik? - Ya, aku baik-baik, Young Seol.
Aku sangat merindukanmu, Ayah Mertua.
Aku juga sangat merindukanmu.
Apa perjalananmu menyenangkan, Ayah?
Tentu saja.
Berkat Nona Go, perjalananku menyenangkan.
Kau pulang, Kakak?
Ya. Soon Geum, apa kau mengurus rumah dengan baik?
Tentu saja. Menurutmu sesuatu yang buruk akan terjadi?
Gurauan Soon Geum kita sangat lucu.
Daripada di luar begini, mari semuanya masuk.
OK, OK. Mari masuk.
Ya.
Mau ke mana?
Keluarga ini berkumpul setelah dua minggu. Maka orang asing harus pergi.
Sampai jumpa lagi, Nak.
Kau...
Sebaiknya minum secangkir teh sebelum pergi.
Begitukah?
Bolehkah aku masuk sebentar?
Ya. Masuklah, masuk.
Baiklah.
Ada apa denganmu, Kak? Mengapa kau bersikap ramah pada bibi itu?
Dia sudah bersama ayah selama dua minggu.
Bagaimana mungkin aku langsung mengusirnya? Itu tidak sopan.
Selama itu, wanita itu menguras uang Ayah.
Dia akan terlihat sopan jika berada di luar di hari seperti ini.
Dal Bong. -Bagaimana pun, aku tidak suka padanya.
Di rumah ini, Paman harus berada di sini.
Lihat betapa bahagianya keluarga ini saat dia kembali.
Tapi apa kau tidak masuk?
Aku akan masuk setelah minum kopi.
Kau bisa masuk duluan.
Sepupu Ipar, ada apa dengan Kang Jae? -Kau bilang kau datang dengannya.
Ah, dia bilang dia ingin minum kopi jadi dia ke kafe sekarang.
Benarkah?
Mengapa kau mondar-mandir dan lihat-lihat seperti itu?
Aku cuma mengecek apakah rumahnya terawat dengan baik tanpa aku.
Orang lain akan berpikir kau pergi selama dua tahun, bukannya dua minggu.
Satu minggu rasanya lebih lama daripada satu tahun.
Rumah ini terasa sepi tanpa Ayah Mertua.
Itulah kehadiran seorang ayah.
Kau tidak menganggapnya saat dia ada, tapi saat dia pergi,
kehadiran ayah akan terasa.
Ah, ya.
Aku akan memotong buah, duduklah Nona Go.
Bibi Mertua, kau duduk saja. Biar aku yang potong buahnya.
Benarkah? Kalau begitu, aku ingin minta tolong ya.
Ya. Kalian lanjutkan saja percakapannya.
Ada yang mau teh? Aku punya teh yang memiliki aroma jeruk yang enak.
Daripada bertanya, bawa saja tehnya kemari.
Ya, Kakak.
Seperti dugaanku, rumah adalah yang terbaik.
Rumahku yang terbaik.
Mengapa kau sendirian di sini?
Aku sedang ingin minum kopi.
Mengapa?
Apa perawatan Ayah tidak berjalan baik?
Hanya jika perawatannya sebaik yang kuharapkan.
Kau sudah bekerja keras, Kang Jae.
Yah, aku belum melakukan banyak hal.
Apa yang kau bicarakan?
Kau jarang tidur dan belum pulang. Kau selalu di sisi ayah.
Kau tidak tahu betapa senangnya aku karenamu.
Hei, tenanglah.
Kau bilang kau perlu satu bulan sebelum kita mengetahui hasilnya.
Semua akan membaik dalam bulan ini, kan?
Masih mungkin, kan?
Benar?
Kang Jae,
kita harus kuat.
Aku tahu kau satu-satunya yang mengalami hal terberat,
tapi kita harus tetap kuat.
Jadi kau ke Sokcho, Gangneung dan laut selatan?
Pasti, kami pergi ke sana.
Kami memutuskan untuk melihat semuanya selama di sana.
Bagus itu! Kau bisa melihat laut dan makan seafood yang enak.
Itu kenangan yang indah.
Bukan begitu, Nona Go?
Ya. Senang rasanya berada di sana.
Astaga, jika kalian suka satu sama lain seperti itu, menikahlah.
Ibu, apa maksudmu? - Mereka mengatakan hal-hal baik.
Mereka suka satu sama lain, jadi mengapa berhenti di sini? Buang-buang waktu saja.
Bagaimana menurutmu, Nona Go?
Soon Geum.
Kakak sedikit lebih tua darimu, tapi
dia masih tampan.
Dia juga baik hati.
Mengapa kau bersikap begitu? Apa yang merasukimu?
Saat adikmu mencoba menolong, seharusnya kau tidak ikut campur.
Hal seperti ini perlu didukung orang lain agar kau sukses.
Ah, sudah! Sudah cukup. Makan buahnya saja.
Benar, Bu. Hentikan itu.
Karena kita bicara hal ini,
daripada duduk diam di sana
katakan pendapatmu dan sarankan ayahmu menikah.
Sepertinya dia khawatir karena dia takut dengan apa yang dipikirkan orang lain.
Bibi Mertua, untuk hal seperti ini, lebih baik kakak dan Kang Jae yang mengurusnya.
Dia tidak akan melakukan apa pun. Aku sudah mengatakan banyak hal, tapi tidak ada yang terjadi.
Jadi kau harus terlibat dan...
Kau ini! Ada apa denganmu!
Mengapa? Karena kita membahasnya, aku ingin tahu akhir ceritanya!
Dasar kau! Nona Go dan aku tidak dalam hubungan seperti itu!
Apa maksudmu tidak dalam hubungan seperti itu? Kalian berlibur berdua selama dua minggu...
Lupakan, hentikan! Diamlah! Semakin aku dengarkan, anak ini semakin...
Sudahlah. Nona Go, ayo pergi.
Dasar...
Astaga...
Jangan marah, tidak baik untuk kesehatanmu.
Aku sungguh menyesal.
Adikku berkata omong kosong.
Jangan pikirkan perkataannya. Aku minta maaf.
Aku tidak apa-apa.
Apa maksudmu tidak apa-apa?
Aku khawatir bagaimana membalas kebaikanmu, sungguh.
Pernikahan kita.
Itu yang maksudku. Pernikahan kita-
Apa?
Kurasa itu bukan ide yang buruk.
Pernikahan.
Apa?
Apa yang sudah kulakukan sampai semua orang orang begini?
Mereka terlihat cocok jadi aku sarankan mereka menikah. Apa yang salah?
Tapi, mengatakan hal itu saat seluruh keluarga di sini. Itu yang salah, Bu...
Itu sangat salah.
Benar, Ibu Mertua, terutama di mata pria.
Ya, kami setuju kami merasa tidak enak.
Bukan begitu, Seo Wool? -Ya...aku juga...
Wow, kalian sangat aneh.
Apa yang memalukan tentang hal itu?
Mereka saling mencintai dan bahkan berlibur berdua.
Soon Geum, kau...
Pergi kalian dan lakukan apa yang harus dilakukan.
Hei, kau, kemari.
Ikuti aku.
Aku di sini. Ada apa?
Mengapa kau begitu?
Ada apa? Apa yang salah denganku?
Di usia begini!
Bagaimana bisa kau mengatakan itu di depan anak-anak?
Dan di depan Nona Go. Mengapa kau begitu? Memalukan.
Kau itu aneh.
Kau berkencan dengan Nona Go dan kau check-up dengannya.
Kalian bahkan berlibur bersama.
Kalian melakukan itu semua, tapi mengapa malu saat kita membahas pernikahan?
Kalian saling menyukai, wajar jika membahas pernikahan.
Bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin antara Nona Go dan aku?
Mengapa tidak?
Nona Go tidak ingin menikahimu?
Dia khawatir tentang pernikahan karena perbedaan umur?
Bahkan jika itu yang diinginkan Nona Go, aku tidak akan mengizinkannya!
Tidak akan!
Mengapa tidak?
Setelah Kang Shim menikah, kau tidak mengurus
apa-apa lagi. Kau harus bertemu seseorang yang kau sukai
dan tertawa "haha, hoho" dan bahagia.
Apa masalahnhya?
Benar, itu yang kau katakan. Pernikahan Kang Shim sudah dekat.
Ayah macam apa yang membahas pernikahannya saat putrinya akan segera menikah?
Aku tidak memintamu melakukannya sekarang.
Buka pikiranmu dan saat kau melihat bunga bermekaran...
Bahkan jika bunga mekar, aku tidak akan melakukannya! Lupakan!
Sikapmu sangat aneh...
No comments yet. Be the first to leave one.