The first 200 lines.
Kenapa kau tidak menjawab teleponmu?
Aku tahu situasimu.
Aku menelepon karena aku dalam masalah.
Ibu, Ayah ingin Ibu membaca pesannya.
Kalau begitu, bayarlah sebagian dahulu.
Ya, aku mengatakannya, tapi...
Ibu.
- Ibu! - Seon-yoo, ibu sedang menelepon.
Tidak, pesan Ayah aneh.
Kenapa dia terus meminta maaf?
Nanti kutelepon lagi.
Tolong Jangan Selamatkan Aku
- Kumohon jangan. - Lakukan!
Kalau begitu, lakukan dengan cepat.
- Aku akan menghitung sampai tiga. - Itu dia.
Satu, dua, tiga!
Dia benar-benar melakukannya.
Kalian berisik sekali.
Kalian belum pernah kedatangan murid pindahan, 'kan?
Tidak, Bapak yang belum pernah.
Bisa perkenalkan dirimu?
Aku Park Seon-yoo...
Bapak rasa perkenalan diri bisa sedikit canggung.
Ayo cari tempat duduk.
Kursi di samping Jeong-guk kosong.
Kenapa? Kau tak mau duduk di sampingnya?
Jika duduk di sampingnya, kau tidak akan bosan.
Pak Hong, aku mau menjadi teman semejanya.
Baik, karena Hyeon-ah ketua kelasnya...
Itu ide bagus.
Maaf, Jeong-guk.
Tak apa-apa. Aku lebih suka pria.
Tidak, bukan itu maksudku.
Ayo.
Apa-apaan...
Hai.
Hai.
Kalian tahu ada ujian matematika hari ini, 'kan?
Diam.
Kosongkan meja kalian.
Habislah aku.
- Habislah aku. - Aku belum siap.
Jeong-guk, kau sudah selesai?
Belum.
Bagaimana dengan pria yang kemarin?
Entahlah. Dia bilang akan datang hari ini.
Hei, dia menyukaimu.
Benar, 'kan?
Akan bagus jika dia datang hari ini.
- Aku tahu. - Itulah maksudku.
Hei, Seon-yoo.
Bagaimana sekolahmu?
Bagus. Gurunya baik...
Dan teman-teman sekelasku juga tampak baik.
Ada seorang anak laki-laki aneh...
Tapi aku bisa duduk dengan ketua kelas...
Astaga, lihat sudah pukul berapa. Kita harus makan.
Bu, boleh kucoba?
Ibu sudah bilang tidak. Kau masih anak-anak.
Tidak ada PR?
Menggunting Seru
- Kalian sudah pulang. - Ya.
Kau sedang belajar? Ada apa denganmu?
Kau tahu.
Jeong-guk, tatap mata ibu.
Tadi kau sedang bermain gim?
Sudah ibu duga.
Kau tidak terlibat masalah hari ini?
Kenapa Ibu terus menanyakan itu?
Karena kau pembuat onar.
Tidak!
Ada siswi pindahan baru di kelasku hari ini.
Tapi dia sepertinya agak aneh.
Aneh bagaimana?
Begini...
Ibu, apa kubilang?
Dia sedang dalam masa pubertas.
Apa maksudmu?
Jeong-guk masih jauh dari itu.
Baik, pergilah ke kamar kalian dan belajar.
Apa dia cantik?
Astaga, aku tidak tahu.
- Cantik, tidak? - Pergilah.
Berisik sekali, ya?
Haruskah kita pasang tirai?
Aku tidak masalah dengan suaranya.
Tapi aku cemas itu akan membuat Ibu tidak bisa tidur.
Ibu juga tidak masalah.
Orang-orang itu...
Hanya orang asing.
- Belajarlah dengan giat, ya? - Baiklah.
Hyeon-ah, 100 poin, tentu saja.
Berikutnya, Park Seon-yoo.
Seon-yoo juga dapat 100 poin.
Nilai rata-rata kelas kita naik.
Berikutnya, Ahn Jeong-guk.
Bapak tahu beberapa dari kalian memalsukan...
Tanda tangan orang tua kalian di rapor.
Jujur saja dan lakukan lebih baik lain kali.
- Ya, Jeong-guk? - Baiklah.
Ini.
- Geon! - Baik.
Cantik sekali!
Aku hanya mengikuti instruksinya.
Luar biasa.
Kurasa ini yang paling cantik.
Seon-yoo, boleh pinjam buku ini?
Tidak bisa.
Maaf. Ini hadiah ulang tahun dari ayahku.
Aku harus meminta ayahku membelikanku buku ini.
Menggunting Seru
Seon-yoo, mau ikut bimbingan belajar bersama kami?
Bahasa Inggris dan matematika.
Kita bisa makan tteokbokki setelah itu.
Aku lebih suka belajar sendiri di rumah.
Lebih mudah untuk fokus saat belajar sendiri.
Kalian mau satu?
Benarkah? Terima kasih!
Yang besar tidak cantik.
Tidak, ini cantik sekali.
Ibu!
Ibu dari mana?
Ibu menemukan pekerjaan.
Akademi seni di sana.
Ibu memberi mereka resume...
Dan mereka langsung mempekerjakan ibu.
Benarkah?
Aku dapat 100 poin pada ujian matematikaku.
Benarkah? Itu baru putri ibu!
Mau makan malam di luar?
Masih ada makanan sisa kemarin.
Kita bisa membeli daging dan menambahkannya.
Bagaimana?
- Boleh. - Baik, ayo.
Kelihatannya enak. Mari beli daging leher.
Jangan, daging bahu saja.
Lihat, harganya hanya 1 dolar per 100 gram.
Tapi daging leher lebih baik untuk digoreng.
- Ayo beli daging leher. - Tapi ini lebih murah.
Astaga, kau punya putri yang baik.
Kelak kau akan menjadi istri yang baik.
Permisi. Apa yang kau lakukan?
Singkirkan tanganmu darinya!
Seon-yoo, jangan pernah kemari lagi, ya?
Bu...
Kau sudah melihat beritanya.
Orang seperti dia menculik gadis muda...
Dan melakukan hal-hal buruk kepada mereka.
Dunia adalah tempat yang menakutkan.
Kau harus membawa ponsel lagi.
- Aku baik-baik saja. - Ibu yang tidak.
Tak apa-apa jika kau tak ikut grup obrolan.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi.
Na-hee? Ini aku, In-kyeong.
Seon-yoo, kau di rumah?
Astaga.
Hai, Bibi In-kyeong.
Kenapa kau tak menjawab?
Ambil ini.
Sesaat, kupikir aku salah alamat.
In-kyeong, seharusnya kau menelepon...
Sebelum datang.
Kemarin sudah.
Benarkah?
Kau sudah menopause?
Kenapa kau sangat pelupa?
Astaga.
Hebat.
Ini lebih luas daripada dugaanku.
Itu sebabnya kau harus pindah dari Seoul.
Aku membeli pangsit. Mari makan.
Bagaimana? Enak?
Lebih enak daripada buatan ibumu?
Buatan Ibu lebih enak.
Sudah kuduga.
Haruskah kita membuka toko pangsit?
Kau yang masak, aku yang sajikan. Bagaimana?
Ibu mendapat pekerjaan di akademi seni hari ini.
- Sungguh? - Ya.
Itu bagus.
Lalu kau bisa membuka akademi seni lagi.
Bukankah itu bagus, Seon-yoo?
Makanlah.
Hei...
Aku ingat yang ini.
Kau bilang sudah hilang.
Aku menemukannya saat berkemas di rumah.
Begitulah berlian.
Begitu berkilau.
Ini terlalu kecil untuk dijual mahal.
Hei.
Kau pikir aku akan mengambil cincin kawin...
Kau pikir aku akan memintamu menjualnya...
Dan membayarku?
Tidak, aku akan segera mendapatkan uang.
Uang asuransi suamiku.
Kenapa proses peninjauannya lama sekali?
Para bedebah asuransi itu.
Bagaimana kabar ibumu?
Tidak baik.
No comments yet. Be the first to leave one.