The first 200 lines.
Apapun yang kalian katakan...
kami saling mencintai.
Tolong izinkan kami bertemu
dan tolong izinkan aku untuk menyusui bayinya.
Aku sudah bisa menghasilkan ASI.
Aku iri.
Temui... aku sebentar.
Tunggu di sini.
Kenapa dokter datang kemari?
Ibu bayi harus duduk dengan nyaman.
Dia benar. Tunggu lah di kamar.
Maafkan aku.
Harusnya kau mengatakan ini semua kesalahanmu!
Apa ada waktu untuk itu?
Apa mereka melakukan tes DNA atau semacamnya?
Kalian mungkin sudah menduganya... tapi hasilnya benar-benar cocok.
Sebagian sel In Sang yang kita simpan saat ia lahir
cocok dengan air liur bayi yang diambil Dr. Cha.
Sejujurnya, aku tidak mengharapkan apapun.
Hanya saja hal ini sangat sulit untuk diterima.
Jadi aku menggantungkan harapanku di sini.
Terima kasih atas kerja keras anda.
Apa ada lagi yang bisa kubantu?
Ini...
Tolong musnahkan ini.
Kami... tidak pernah mengajukan tes ini.
Aku mengerti.
Rencana B.
Tentu saja kami menanyakan tentang kondisi kesehatan ibu dan bayinya.
Dr. Eom adalah dokter keluarga kami.
Jaman sekarang, kau bisa mengetahui banyak hal hanya dari tes darah.
Jika ada masalah, kita harus segera tahu dan mengurusnya.
Untungnya, ibu dan bayinya baik-baik saja.
Kita harus bersyukur.
Yang terpenting menurut kami adalah...
hanya kesehatan kalian dan masa depan yang akan datang.
Tentu saja.
Itulah alasan aku membuat keputusan yang terlihat kejam ini.
Bagaimana bisa aku tidak tahu betapa kalian ingin bertemu?
Kami juga pernah mengalaminya. Hanya saja...
kami berharap kalian bisa mengontrol diri kalian demi masa depan.
Jalan kalian masih panjang.
Kalian harus menganggapnya sebagai investasi, sebagai tabungan.
Kami juga berpikir bahwa masa depan itu penting...
Tapi bagi Bom, ini merupakan masa tersulit dalam hidupnya, secara lahir dan batin.
Jadi ada beberapa hal yang harus kulakukan untuk Bom.
Sebagai seorang lelaki.
Sebagai seorang ayah.
Ibu mengerti, kan?
Tentu saja.
Duduk di sini saja merupakan hal sulit untukmu, bukan begitu?
Pemulihan pasca melahirkan sangat penting.
Kami akan memikirkan dirimu, menghormatimu dan mendukungmu apapun yang terjadi.
Kami juga akan menyampaikan niat kami kepada orang tuamu.
Kami harus menemui mereka sesegera mungkin.
Benarkah?
Maksud anda, orang tuaku?
Menurutku sudah kewajiban kami untuk mengunjungi mereka di rumah.
Terima kasih! Terima kasih banyak!
Hei, cepat pergi dan belajar.
Uh, baiklah. Setelah aku melihat bayinya sebentar.
Ikut aku.
- Aku akan benar-benar mendengarkan kalian mulai sekarang. - Aku juga.
Aku boleh menyusui bayinya, kan?
Tentu.
Terima kasih!
Mereka hanya anak-anak.
Karena itulah kita harus berkepala dingin.
- Aku sudah mendapat izin. - Itu bagus.
Hati-hati.
Hati-hati!
Tenang saja. Aku bisa melakukannya.
- Kau ayah bayinya? - Benar.
- Lewat sini. - Terima kasih.
In Sang, hubungi ibuku.
Rumah kami sangat kotor, jadi mereka harus segera bersih-bersih.
Oh, baiklah.
- Ponselmu... - Di sana.
Ke... ke mana?
Rumah?
Siapa? Apa itu Bom?
Jam berapa? Jam berapa?
Jam berapa?
Tidak, tidak masalah.
Bagaimana dengan Bom? Bagaimana dengan bayinya?
Mereka baik-baik saja.
Ya, ya.
Ya.
Bayinya sedang makan...
Ya, Bom melakukannya sendiri...
Hati-hati pintunya. Ini kamar bayi.
Ya, ya. Tunggu sebentar.
Hai, ibu.
Ya, dia sedang makan sekarang.
Tapi rasanya sakit.
Ya, apa ibu terkejut karena mereka akan mengunjungi kalian di rumah?
Ini menakjubkan.
Benar-benar!
Kenapa mereka datang ke rumah kita?
Kita bisa menemui mereka di luar atau mereka bisa mengundang kita ke rumahnya.
Harusnya kita bersyukur mereka mau datang kemari.
Mulai lagi.
Kita harus bersyukur?
Hilangkanlah pemikiran bahwa kita lebih lemah!
Aku harus meletakkan ini di kamar.
- Jam berapa mereka datang? - Mereka akan menghubungi lagi.
- Kau harus membuang ini! - Apa itu?
Oh, itu? Letakkan itu di ruang pembakaran.
- Aku lapar. - Hei, kamar mandi! Bersihkan kamar mandi!
- Ada apa pagi-pagi? - Selamat pagi, Paman!
- Hai, kau mau pergi? - Ya. Sampai jumpa!
- Sampai jumpa, Noo Ri! - Semoga harimu menyenangkan!
- Semoga beruntung! - Aku pergi dulu!
Hei hei, kau cantik. Kau akan mendapatkan pekerjaannya. Semoga beruntung!
- Terima kasih! - Sama-sama.
Aku harusnya di sini bersama kalian!
- Semoga perkenalannya berjalan dengan baik! - Cepat pulang, ya!
- Aku mengerti. - Bagus.
'Perkenalan'?
Bukan begitu...
- Keluarga In Sang... - Di sini?
Kurasa mereka penasaran bagaimana kehidupan kita.
Wah, mereka tidak punya sopan santun. Harusnya mereka menunjukkan kehidupan mereka lebih dulu.
Kau ini...
- Aku akan melaporkan padanya dulu. - Baiklah.
Aku harus meminta nasihat Pengacara Yoo dulu.
Mereka orang sibuk.
Kapan mereka punya waktu untuk mencari nafkah?
Ya, namanya terdaftar di 4 kelas gugatan.
Tolong beri saya nasihat selagi anda minum ini.
Saya merasa malu, tapi keponakan saya membuat suatu masalah.
Ya ampun.
Saya memeriksa kasus keluarga Youngjin Group yang sudah diatasi sebelum mengajukan gugatan.
Anda melakukan total 13 kali pertemuan dengan orang tua si gadis.
Tapi kami tidak punya cukup waktu, jadi kami harus mempersingkat prosesnya.
Untuk melakukan hal itu...
semua hal yang bisa terjadi pada bayi dan ibunya harus dipikirkan
dan setiap hal harus diberi makna dan harga.
Saat kau menawarkan sebuah penyelesaian, jika kau menawarkan sejumlah tertentu
pembicaraannya... akan jadi sangat membosankan dan akan berlarut-larut.
Kau harus menentukan alasan perhitungannya secara rinci.
Biaya pesta ulang tahun sang anak, pertama kalinya berhasil mengendarai sepeda
dan seberapa sering ia jatuh saat bermain ski dalam satu hari, dll...
'Biaya untuk hal-hal ini akan meningkat sebesar 30% per tahunnya.'
Rincian seperti ini menyentuh hati.
Terutama pihak laki-laki tidak bisa melakukan hal seperti ini.
Apa mungkin... mengambil kembali bayinya di masa yang akan datang
atau menikahi ibu si bayi...
Apa tidak masalah jika tidak memikirkan hal-hal seperti itu?
Itu tidak akan pernah terjadi.
Bagus sekali karena alasan perhitungannya sudah dijelaskan dengan rinci.
Saya melihat dari kasus keluarga Youngjin yang ditangani Pengacara Yoo.
Mari kita selesaikan dengan cepat.
Ibu!
Apa... kau ingin mengatakan sesuatu padanya?
Ya. Sebelum anda pergi ke rumahku, aku ingin mengatakan beberapa hal.
Apa...
Kamar mandi di rumah kami... biasanya baik-baik saja
tapi terkadang, menimbulkan suara seperti ada sesuatu yang meledak.
Kalau-kalau anda terkejut saat menggunakannya.
Oh, begitu.
Dan... langit-langit di bagian tangga agak sedikit rendah.
Karena tubuh ayah cukup tinggi, jadi mungkin beliau bisa terbentur.
Aku mengerti.
Kami akan berhati-hati.
Jangan khawatir. Naik dan istirahatlah.
Aku ingin melihat bayinya.
Kalau begitu, selamat jalan.
Terima kasih.
Jangan mencoba untuk mengambil hati dari anak-anak.
Lihat apa yang terjadi tadi malam.
Kenapa kalian berani menipu kami dan melakukannya?
Bertindaklah sepantasnya.
Jika kalian tidak ingin mengubah pekerjaan di usia kalian saat ini.
Apa yang kau lakukan, Sekretaris Lee? Harusnya kau mengatur para pegawai dengan benar.
Baik, nyonya.
In Sang, aku merasa tiba-tiba cahaya terang menyinariku.
Sekarang aku sudah menyusui bayinya, segalanya terasa baik-baik saja.
Berkat pengasuh yang handal, aku bisa istirahat tanpa khawatir.
Aku merasa bersalah telah meragukan orang tuamu.
Sejak aku hamil sebagai seorang remaja dengan perut besar
Kurasa aku menjadi rendah diri.
Sekarang harusnya pikiranku yang bermasalah sudah lebih tenang, bukan?
Apa kau sedang membayangkan masa depan yang cerah?
Masa depanmu ada di Teori Umum Hukum Perdata. Konsentrasi.
Aku benar-benar berpikir bahwa manusia akan menjadi dewasa saat mereka jatuh cinta.
Aku hanya akan tersenyum.
Saya sekretaris ayah In Sang.
Saya sedang dalam perjalanan dari Gwanghwamoon.
Tiba-tiba aku merasa minder. Seorang sekretaris?
Apa dia mempunyai sebuah perusahaan?
Itu artinya dia membawa serta sekretarisnya.
Turunlah. Jika mereka datang dari Gwanghwamoon, mereka akan tiba kurang dari 10 menit.
Oh, baiklah.
- Kau sudah menyiapkan buah, kan? - Ya.
- Aku akan berada di dalam. - Baiklah.
- In Sang... - Benar, orang tua In Sang mengutus saya ke sini
jadi saya datang mengunjungi anda.
Kalau begitu mereka tidak datang...
Saya mohon maaf, tapi bolehkah kita bicara di dalam?
No comments yet. Be the first to leave one.