The first 200 lines.
Pegunungan.
Jalanan sepi.
Jalanan sepi lagi.
Jalanan sepi dengan traktor.
Kotak pos.
Rumah dengan antena parabola.
Halaman belakang markas pemuda.
Domba-domba bodoh. Tumpukan jerami bodoh.
Gadis kecil di trampolin yang bodoh.
Selamat datang di Skoddeheimen.
TURN ME ON, DAMMIT!
Oh haleluya!
Kau harus lihat betapa keras besarnya pelirku ini.
Besar, hangat, dan kekar...
Luar biasa sekali. Kau mau aku memasukkannya ke tubuhmu?
Aku ingin memasukkanya ke tubuhmu dan membiarkannya bekerja.
Ya ampun, aku tak pernah sekeras ini.
Apa kau merasakannya? Baiklah, sekarang saatnya.
Sebentar lagi aku akan orgasme. Bagaimana denganmu?
Halo?
Alma?/ Di dapur.
Hai sayang, bagaimana sekolahmu hari ini?/ Seperti biasa.
Bagaimana denganmu?/ Tidak terlalu seperti biasa.
Wartawan surat kabar datang menemui kami.
Bosku di tempat pembibitan lobak berhasil membuat mereka terpesona.
Kenapa teleponnya ada di lantai?
Hai, Alma./ Artur?
Anjing yang bagus./ Bingo.
Boleh aku gabung denganmu?
Suatu malam aku memimpikan Artur memanjat lewat jendelaku.
Dia menatapku dengan lembut.
Dia mengantarku ke tempat tidur.
Perlahan-lahan dia membaringkanku.
Dia membuka gaun malamku dan mem- belaiku dengan kehangatan tangannya.
Dia berbaring disampingku, memelukku dengan erat.
Tidur disana hingga pagi.
Aku jalan ke arah sini./ Oke.
Kau akan datang ke pesta?
Ya./ Bagus.
Maaf./ Merokok itu tidak sehat.
Tidak, sangat tidak sehat, tapi membuatku lebih santai.
Aku serius, kita tak bisa menunggu seharian./ Kau benar.
Bagaimana dengan dia?/ Sempurna.
Permisi, hai./ Hai.
Aku tadi mau beli bir tapi KTP-ku ketinggalan di rumah.
Sayang sekali.
Dia lumayan./ Yah, mungkin.
Buruan, busnya.
Haruskah kalian begitu? Setiap saat?/ Ya.
Mimpi Basah Liar, Stig disini. / Hai, ini Alma.
Alma? Astaga, aku sempat khawatir. Kau hilang begitu saja. Ada apa?
Ibuku pulang./ Oh tidak.
Dia tidak tahu./ Yah, baguslah.
Cuma agar kau tahu saja, kutelpon kau nanti/ Silahkan, Alma.
Bagaimana menurutmu?/ Lumayan bagus.
Jogging mengurangi kemungkinan sakit./ Apa itu masalah?
Bisa jadi, kau takkan pernah tahu.
Lagipula ide yang bagus untuk tetap bugar.
Dah.
Hai Magda./ Hai.
Artur akan datang ke pesta. Aku beli baju baru.
Aku sedikit ragu. Lalu Maria datang dan berkata...
Menurutku kau terlihat cantik. Belilah.
Maria baik. Kakak tertua dari sahabatku. Dia belajar sosiologi Oslo.
Dia bilang, "Datanglah ke tempatku. Ajak Artur sekalian."
Lalu dia mengedipkan matanya dengan genit.
"Hai, Artur" "Hai, Alma"
"Mau jalan-jalan keluar?" "Oke"
Kita berlari melewati hutan.
Artur menatapku.
Dia bilang kita pasangan serasi, dan kita sejodoh.
Dia menggenggam tanganku.
Dan kita menjadi satu.
Kau pergi secepat ini?/ Tak bisa tinggal terlalu lama.
Jaga dirimu saat pesta, jangan minum sampai muntah atau hamil, oke?
Baiklah, Dah!/ Dah, Maria!
Dia bersenang-senang di Oslo. Pesta, konser, dan teman-teman keren.
Sementara kita disini, terkungkung, tertekan.
Santailah./ Aku muak dengan tempat ini.
Aku muak sekali, aku pergi./ Kemana kau mau pergi?
Ke Texas, bekerja menolak hukuman mati.
Bagaimana caranya?/ Membangkitkan kesadaran.
Seperti demonstrasi harian di luar ruang sidang.
Semoga beruntung./ Kau mau menghabiskan hidupmu disini?
Menjadi kasir toko. Berpesta terus sampai kau beruban?
Aku akan melanjutkan pendidikan./ Dalam bidang apa?
Master menyusun rak dan sarjana menempel label harga?
Itu Artur, dia memainkan gitar di band paduan suara.
Dan aku menyanyi solo./ Hai!/ Hai, Artur.
Semua pria adalah pemerkosa yang potensial. Mereka bisa melakukannya jika mereka mau.
Tapi kenyataannya tidak./ Mereka punya peralatannya.
Santai kenapa sih?/ Aku sudah santai.
Penyanyinya orang fasis./ Tidak, dia memang begitu dari dulu./ Tidak.
Masa sih./ Betul itu.
Kalian mau keluar?/ Tidak.
Tunggu sebentar lagi./ Aku juga.
Kenapa senyum-senyum?/ Artur mencolekku dengan pelirnya.
Artur./ Apa?/ Dia mencolekmu dengan pelirnya?
Apa maksudmu?/ Aku sedang di luar. Lalu Artur datang.
Dia berdiri di sampingku, membuka resleting lalu mengeluarkan pelirnya.
Dia menyodorkannya ke selangkanganku. Seperti ini.
Kau yakin itu pelirnya?/ Ya.
Aku tadi sedang cari angin diluar, lalu itu terjadi./ Sadarkan dirimu!
Itu seperti...Halo, Alma! "Dia mencolekku dengan pelirnya!" Yang benar saja.
Kau tahu apa yang Alma barusan katakan?/ Tidak/ Aku butuh rokok.
Kau mencoleknya dengan pelirmu?/ Terima kasih, Alma.
Tapi, dia memang mencolekku dengan pelirnya.
Aku sudah melihat banyak pelir untuk tahu mereka akan loyo saat bertemu denganmu.
Jadi pergilah.
Alma, kau sudah bangun?
Ya.
Boleh aku masuk?/ Tidak.
Alma, kau masih terlalu muda untuk minum bir.
Aku hampir 16./ Alma, kumohon...
Kumohon apa? Kumohon jadi 16, atau kumohon jangan?
Kau tahu maksudku./ Aku sedang demam.
Bagaimanapun juga aku takkan mengizinkannya.
Alma ada dirumah?
Pagi, Alma./ Hai.
Apa yang kemarin terjadi di luar markas pemuda?
Aku tidak ingat. Aku mabuk.
Kau tidak takut ketularan?
Aku akan melepas celanaku.
Kau akan ke bawahku, kemudian aku akan ke bawahmu. Oke?
Artur datang, dia mencumbuku. Dia suka sekali.
Tapi aku mau lebih. Aku mau lebih!
Peganglah.
Oh yes, Alma.
Sekarang ke bawahku, atau akan kupukul kepalamu dengan martil.
Sekarang ambilkan martil. Sekarang!
Halo?
Semua orang tahu apa yang kau katakan. Tak ada yang mau bicara denganmu.
Ingrid mampir untuk menemuiku. Dia mengeluarkan lip-glossnya.
Aku menginginkan martil di dalam tubuhku.
Aku bangun, mengkhayal tentangnya sambil memegang payudaraku. Dia teriak...
Sialan!/ ...lalu pergi.
Aib pribadiku telah muncul ke permukaan.
Alma! Kita kesiangan. Bangun! Aku akan mengantarmu.
Maafkan aku.
Semoga harimu menyenangkan.
Sini aku lihat.
"Siapapun yang mencolekmu dengan..."
Diam.
Hari ke-1: Kertas catatan.
Hari ke-2: Aku dan tong sampah.
Hari ke-3...
"Pikk-Alma"
Misi untuk dikucilkan selesai.
Aku mau rokok ganja./ Rokok ganja?
Ya./ Baiklah.
Nanti kita urus saat makan siang. 100 kroner, oke?
Ada yang mencolek Alma dengan pelirnya hari ini?
Ada yang mau menghisap ini bersamaku? Artur, bagaimana denganmu?
Huh?
Hari itu, Artur mengantarku pulang dari bus stop. Dia bilang...
Aku tak suka kakak beradik itu, setidaknya yang pirang, Ingrid.
Menurutku dia bodoh./ Benarkah?
Aku sangat suka kau, Alma. Tapi sulit sekali untuk mengungkapkan apa yang sedang kurasakan.
Kau sangat...
Kurang populer./ Betul.
Mulai kini, cuma ada kita. Aku akan selalu membelamu.
Sudah terlambat, aku akan pindah ke New York untuk menjadi model.
Tapi...
Apa itu?
Kami bergegas pulang. Ibu tak ada disana.
Kami melompat ke atas kasur, melepas baju kami lalu berhubungan seks.
Lalu kami merokok ganja.
Artur jago meniup asap cincin.
Aku melunak, sementara Artur mengeras.
Kemudian kami terus melakukan seks sampai matahari terbit.
Pikk-Alma! Pikk-Alma!
Ke mana saja kau?/ Kotak pos di depan toko kelontong.
Baiklah.
Memang terlihat mustahil, tapi kau bisa mencium baunya sampai ke atas sini.
Sebentar lagi istirahat.
Ingrid akan memakai lip-gloss yang banyak. Lalu dia akan menghampiri Artur dan berkata...
"Kau harus lihat ini"/ Dia menariknya ke dalam gudang sapu.
Membiarkannya meraba payudaranya yang besar dan gemuk itu.
Mereka berciuman, sepakat untuk menikah dan punya anak.
Pelacur paduan suara sialan.
Sudah cukup?
Hai.
Jaket yang keren./ Terima kasih.
Ini menyebalkan sekali.
Aku tahu. Tak ada harapan.
Ada apa ini?/ Kau mencium baunya?
Tidak./ Ganja.
Jaketku berbau ganja./ Bau yang tercium disini hanyalah keringat.
Bukan, itu ganja. Sumpah./ Baiklah.
Aku tidak gila./ Tentu saja tidak.
Kepada Steve, namaku Sara. Umurku 15 tahun...
...dan aku tinggal di tempat terpencil.
Saat ini, ada drama besar sedang terjadi karena Alma bilang Artur menyodorkan...
...pelirnya di pinggulnya saat pesta.
Semua orang memanggilnya "Dick-Alma". Dan kemudian dia dikucilkan.
Alma sahabat baikku, tapi kakakku sedang jatuh cinta pada Artur.
Aku tak tahu apa yang harus dilakukan. Aku tahu ini terdengar sepele...
...saat kau harus menghadapi hukuman mati.
Tapi mungkin ini berarti hidup tidaklah mudah.
Omong-omong, aku ingin menjadi sahabat penamu.
No comments yet. Be the first to leave one.