The first 200 lines.
Indonesian subs by chocomochilatte
Selamat datang.
Aloha.
Berikan sambutan hangat untuk
Kontes Idola Tomei!
Selanjutnya peserta no. 5, dengan tinggi 183 cm,
hobi bermain futsal,
makanan kesukaan peperoncino,
tipe gadis idaman...
rahasia!
Ini dia dari kelas 1-B, Yamato Kurosawa!
Tampannya!
Gunting kertas batu.
Selamat datang!
Apa kalian semua sudah menentukan pilihan?
Pilihan para penonton akan menentukan pemenang tahun ini.
Kemarin parah sekali!
Seino bilang banyak gadis manis yang datang,
ternyata jelek semua!
Dan yang paling cantik justru menyukaimu.
Maaf, maaf.
Kurosawa-kun.
Dia memenangkan kontes itu dengan mudah.
Kau terkenal, ya.
Bukan apa-apa.
Kau sudah bertukar alamat surel dengan gadis itu?
Dia tidak memberitahuku
dan aku juga sengaja tidak bertanya padanya.
Dasar DoS.
Apaan itu.
Kau ini.
Kenapa kau ini.
Yamato.
Maaf. Ada orang ternyata.
Menarik, kan? Tidak seorangpun pernah mendengarnya bicara.
Siapa dia?
Mei Tachibana, satu kelas denganku.
Benar-benar suram.
Dia pasti belum pernah punya pacar.
Ya, menurutku dia bukan gadis biasa.
Aku lapar.
Apa gunanya apel pagi, sih?
Kau ketiduran, ya?
Seperti biasa.
Kalau masih berusaha menutupi pantatmu, untuk apa memendekkan rok?
Padahal kau suka melihatnya, seperti kakek mesum.
Tachibana.
Hei.
Hentikan itu.
Tidak apa-apa.
Menyebalkan, tahu.
Sakit.
Yamato!
Mati kau, bodoh!
Kau baik-baik saja?
Kau berlebihan, Tachibana.
Padahal Nakanishi yang melakukannya.
Ada apa?
Sakit...
Kau sudah dengar?
Tentang Yamato, bukan?
Aku dengar Yamato ditendang.
Dia ditendang Tachibana.
Benarkah?
Dan dia melihat celana dalamnya.
Siapa yang menendang Yamato?
Kau tidak tahu? Tachibana Mei dari kelas D.
Yamato ditendang lalu terluka dan masih harus melihat celana dalamnya.
Celana dalam motif belang zebra.
Menakutkan.
Itu orangnya.
Mei Tachibana.
Terima kasih yang tadi pagi.
Aku minta maaf atas kejadian tadi pagi.
Meskipun temanku yang melakukannya, bukan aku.
Kau pasti marah. Maaf, ya.
Mau jadi temanku?
Apa maksudmu?
Berteman denganku.
Beritahu nomor ponselmu.
Tidak mau.
Kau lucu sekali.
Ini. Hubungi aku kapanpun kau mau.
Aku tidak membutuhkannya.
Ambil.
Untuk luka di tanganmu.
Terima kasih.
Tapi kalau hanya satu plester...
Segini cukup, kan?
Terima kasih.
Dah.
Apa terjadi sesuatu, Mei-chan?
Kau lama sekali menggosoknya.
Tidak ada apa-apa.
Benarkah?
Baguslah.
Selamat datang.
Selamat datang.
French toast.
Baik.
Terima kasih atas kedatangannya.
Mei Tachibana.
Mei, kenapa tidak meneleponku?
Mei...
Padahal aku menunggu teleponmu.
Aku tidak berjanji untuk menghubungimu.
Tapi harusnya begitu, bukan?
Aku tidak suka menelepon.
Tapi kau menelepon teman-temanmu, kan?
Aku tidak punya teman.
Tapi kau punya ponsel, kan?
Hanya ada nomor rumah, ibuku, dan tempat kerja paruh waktuku.
Tidak ada nomor lain.
Serius?
Aku tidak butuh teman.
Mana mungkin.
Manusia akan saling mengkhianati.
Sekolah penuh dengan orang-orang bodoh yang menindas orang lain.
Aku tidak ingin berteman dengan orang-orang seperti itu.
Tidak semua orang seperti itu.
Semua orang sama.
Saat ada yang memanggil,
mereka pura-pura tidak dengar.
Begitulah.
Mei-chan yang melakukannya.
Aku melihatnya.
Kasihan sekali.
Sampai besok.
Sampai besok.
= Ibu =
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.
Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi...
Halo?
Halo, ini Tachibana.
Ada apa?
Maaf. Tolong aku.
Mei, ada apa? Kau menakutiku.
Ada seorang pria di luar.
Akhir-akhir ini dia selalu datang ke tempat kerjaku.
Hari ini, sepertinya dia mengikutiku.
Apa? Di mana?
Sejak tadi, sampai sekarang.
Itu yang disebut penguntit, kan?
Baiklah, aku mengerti.
Ayo.
Mei.
Aku mencintaimu.
Dia sudah pergi.
Mei.
Aku melakukannya supaya dia pergi.
Aku tahu. Aku tahu, jadi...
Mei, jangan-jangan... itu ciuman pertamamu?
Maaf, aku...
Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Tidak apa-apa.
Tapi...
Sudah kubilang, tidak apa-apa.
Aku tidak menyangka kau akan benar-benar datang.
Tidak menyangka kau akan datang untuk menolongku.
Apa dulu pernah terjadi sesuatu?
Maksudku, saat kau membutuhkan, tidak ada yang datang.
Kalau kau tidak mau mengatakannya, tidak apa-apa.
Saat SD, sekolahku memelihara kelinci.
Suatu hari, teman-temanku membiarkan kelinci itu memakan rumput di sekitar sekolah.
Aku hanya melihat saja.
Besoknya, kelinci itu mati.
Kami tidak tahu penyebabnya.
Sensei bertanya pada semua murid
apa yang sebenarnya terjadi.
Seorang temanku bilang
aku yang melakukannya.
Dia bilang kau melakukannya?
Aku memanggil nama mereka semua.
Bertanya kenapa? Aku tidak melakukan apapun.
Tolong aku.
Tapi tidak ada seorangpun yang menolongku.
Tapi hari ini berbeda.
Kalau aku membutuhkanmu, aku juga akan meneleponmu.
Nomor ini.
Mei, ayo.
Aku pulang.
Mei, kau tiba-tiba meneleponku.
Apa terjadi sesuatu?
Jangan khawatir, aku baik-baik saja.
Benarkah?
Mei.
Selamat pagi.
Selamat pagi.
Kok bisa? Kok bisa?
Yamato, kau berteman dengannya?
Mengagetkan sekali!
Orang ini benar-benar, deh.
Kalian bisa terlambat.
Oh, tidak. Bergegas, Asami-chi!
Tunggu aku, Nakanishi!
Yamato, ya.
Dia orang seperti apa?
Apa yang dia sukai? Musik?
Karaoke?
Ya, sepulang sekolah dengan yang lain juga.
Tidak, aku...
No comments yet. Be the first to leave one.