The first 200 lines.
Dalam kegelapan begini,
aku tak mungkin bisa lacak posisi Gotou, hanya lewat suara napasnya.
Kemungkinan menangku pun 0%.
Anehnya, semua emosiku...
Keinginan hidup atau mati, kemarahan, kesedihan...
Semuanya itu seolah mati rasa.
Tapi, entah kenapa ada yang terus mendorongku
untuk kembali lagi ke tempat itu.
Yang menggerakkanku kali ini, bukanlah keberanian,
maupun terpanggil untuk bertarung sebagai ras manusia yang mahahebat.
Kalau sampai dibiarkan besok,
mungkin aku akan kembali lihat
jatuhnya korban yang disebabkan oleh monster yang mengejarku.
Tak ada lagi lain kali untukku.
Terlalu aneh kalau hanya aku yang berhasil hidup sampai detik ini.
Aku harus berusaha selesaikan ini semua.
Meskipun pada akhirnya, hanya ajal menjemput.
Aku tak peduli lagi.
Aku sudah lelah.
Padahal ini sama saja lari dari kenyataan,
tapi, kenapa aku malah optimistis begini?
Aku sendiri juga bingung.
Rasanya, kalau aku bertindak, semuanya akan berjalan lancar.
Padahal aku sendiri tahu tak mungkin begitu.
Tapi, rasanya benar-benar aneh.
Kelima indraku memang sangat peka.
Lalu, aku pun menemukannya.
kalian tak sadar bahwa sebagai manusia, kita diberi banyak berkah
you guys do not notice that we are gifted just by being humans
kita adalah predator alami
we are absolute predators
kita pun tak mempunyai musuh
we do not even have any enemies
mungkin ada hewan lain yang memerhatikan kita
maybe there are other animals watching us
dan suatu saat berpikir, "kita akan kalahkan mereka"
and thinking that someday "we will beat them down"
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Sang Bidal
oh, kita punya otak 'tuk berpikir keras
oh, we have the brains to think hard
Sang Bidal
Parasit
Parasit
ZainuddinAri
mempersembahkan
Sang Bidal
ZainuddinAri
ZainuddinAri
mempersembahkan
mempersembahkan
Parasit
Sang Bidal
ZainuddinAri
mempersembahkan
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
Parasit
Sang Bidal
dengan berpakaian sesuka kita
wear our favorite clothes
tak ada lagi keraguan menjadi manusia
we are at no doubt human beings
akan banyaknya kehidupan kecil
many small lives
takdir mereka saat lahir adalah mati untuk orang lain
they were born with the fate of dying for someone
bayi manusia
a human baby
kapankah mereka 'kan mengetahui
when will they find out
di saat semuanya dilahirkan, maka kitalah
that at the point they were born, we are
sang penguasa bumi?
winners of earth
ah, diriku menangis seorang diri
aa hitori naiteita
karena dirimu di sampingku, terasa begitu jauh
tonari no kimi ga tooikakeru
maka dari itu, kujalani hidup ini
dakara bokura yorisoi ikiru
segemerlap mungkin
kirameku made
untuk apa aku hidup selama ini?
for what have I been living for?
kapan 'kan kutemukan jawabannya?
when will I find out the answer?
jawaban yang hanya untukmu
an answer that is only for you
akan jadi apa diriku di lingkungan sekitarku kelak
what will myself and (the) first scenery I saw
Kehidupan dan Kutukan
Dia tidur?
Ternyata dia juga perlu tidur.
Bukankah Migi juga terkadang perlu tidur?
Benar juga!
Aku harus menyerangnya selagi dia tidur.
Karena aku bukan parasit...
Karena Migi sudah tiada, dia pun tak sadar kalau aku sudah sedekat ini.
Mungkin, ini maksudnya perasaanku yang tadi bilang semua akan berjalan lancar.
Tidak, pasti ada satu hal lagi.
Migi.
Jangan-jangan, kau berada dalam tubuhnya, ya?
Kalau sekarang kupanggil namamu, kau akan menyahut, 'kan?
Migi!
Percuma!
Memangnya ini di dalam dongeng?
Sialan!
Tak berhasil juga?
Di mana kau?
Keluar kau!
Berani-beraninya seorang manusia menantangku!
Benar.
Aku akan melawanmu!
Aku juga tahu kalau takkan menang,
tapi, setidaknya aku bisa melukainya,
dan membuatnya cedera!
Meskipun tak secepat dan sekuat dia, setidaknya indraku lebih tajam!
Aku bisa melawannya!
Selama bisa atur strategi, aku sanggup melawannya!
Aku harus bagaimana?
Bagaimana cara melukainya?
Beri tahu aku, Migi!
Berpikirlah dulu sebelum melangkah, dan jangan lupakan juga yang ada di sekitarmu.
Jangan pernah menyerah bagaimanapun kondisinya,
dan jangan sekali pun ragu, ya.
Benar!
Jangan menyerah!
Pikirkan baik-baik!
Belakang lehernya.
Benar!
Saat kendalikan bagian tubuh lainnya, seharusnya di sanalah titik lemahnya!
Meskipun tak menang, setidaknya dia cedera.
Intinya, hujamkan serangan sefatal mungkin.
Fatal?
Organ paling vital miliknya berpusat di bagian dadanya.
Entah apa jadinya pelindung tubuhnya kalau dihantam dari samping,
tapi, kalau dari atas,
ada katup yang sambungkan kerongkongan dan bagian organ dalam lainnya!
Kalau kupusatkan titik berat serangan ke pisau ini...
Yang jadi masalah, adalah sudut serangannya.
Sekarang!
Goloknya masih tersangkut?
Seranganku jadi terhalang!
Bocah,
padahal sebelumnya kau lari tunggang langgang seperti celurut.
Apa kau ingin tuntaskan pertarungan kita sebelumnya?
Memangnya seorang manusia sepertimu bisa apa?
Yang namanya monster,
No comments yet. Be the first to leave one.