The first 200 lines.
Hai, Eimi.. Apakah itu beneran dia?
Ya.
Dia itu orangnya seperti itu, ya.
Anu, aku...
Dia ini Eimi, cewek yang imut. karna itu berkencanlah dengannya.
Maaf, apa kau baik-baik saja ?
Tak apa-apa, tapi dadamu..
Ah, Konpei-kun ini...
Ah, ya itu...
Biarkan aku membantumu!
Berciuman itu sangat mudah, kan.
Jari kelingking, jempol kakiku!
Apa perlu memesan pizza lagi, kah?
Tunggu!
Itu bukan urusanmu!
Tinggalkan aku sendiri!
Ini urusanku.
Aku mencintaimu.
Apaan..
Tuh!
Aku mencintaimu, Kirara.
Kenapa baru sekarang?
Kalau saja sedari awal..
Aku baru mengerti setelah mengetahuinya.
Mana kutahu jika kau tak mengatakannya!
Lepaskan aku!
Kirara...
Mungkin aja.. aku telat!
Ada panggilan.
Ada apa, Konpei?
Apa aku membangunkanmu?
Maaf.
Ada apa denganmu, Konpei?
Peluk aku.
Siapa sih kau ini?
Kenapa bisa disini?
Apaan sih?
Namaku sekarang Imai Kirara yang sebelumnya bernama Asai Kirara.
Apa kau lupa?
Imai...
Asai? Kirara?!
Mana mungkin.
Hei, apa kau bercanda?
Apanya? Bukannya kau sendiri yang bercanda.
Beraninya kau menggunakan nama Kirara itu.
Apa maksudmu?
Inilah Kirara-san yang sesungguhnya!
Foto ini...
Inilah Imai yang sebenarnya.
Dasar pembohong.
Kau berbohong selama ini.
Padahal aku mempercayaimu.
Apa sih yang kau bicarakan?
Apa kau ingat sudah berkali-kali. aku mengatakanya padamu.
Soal foto rahasia ini.
Oi, kembalikan!
Hentikan!
Lelahnya.
Oi, Konpei.
Chikahira, kami pergi.
Ya, yah..
Kami akan pulang dalam 2 minggu kedepan.
Tenang saja, biasanya juga seperti ini.
Pastikan kau tak membawa gadis ke sini, ya.
Mana mungkin aku melakukannya.
Kau sudah membawanya kesini, walaupun cuman hantu.
Tolong jaga diri, ya.
Ya, tenang aja.
Konpei, akhirnya kita berduaan.
Kenapa kau muncul dari situ?
Mirip hantu, bukan.
Karena bikin kaget, hentikanlah.
Lagipula, pakaian itu.. pakailah yang sepantasnya.
Tak apa-apa, kan. bukankah kita ini suami-istri.
Itu kan cuman sebatas masa depan saja.
Konpei, lihatlah aku!
Ini seksi, kan?
Jangan ikuti aku kesekolah, ya.
Apa mungkin lebih cocok yang hitam, kah?
Pastikan untuk melihat catatanmu selama liburan.
Dan sekarang, yang namanya dipanggil ..
Akhir-akhir ini, kau kurang bisa berkonsentrasi dengan baik.
Maaf.
Ada apa?
Yah, itu...
Palingan kau di marahi guru lagi, kan?
Tunggu, Kirara!
Kirara-san emang acuh.
Jangan pedulikan, ayo pergi.
Kalau gitu, hari Minggu tanggal 14...
Kau juga ikut kami, ya.
Ya, kudengar seluncuran air di kolamnya sudah diperbaiki.
Konpei-kun, apa kamu tahu kenapa mereka memperbaiki seluncurya?
Tidak, mana kutahu.
Karena sudah ada tiga orang yang mati disana.
Mana mungkin, kan.
Dasar, tentu saja cuman bercanda, kan?
Yah, saat kita di kolam renang, kuharap aku tak mengganggu kalian berdua.
Jangan bilang gitulah.
Eh?
Aku sangat mencintai kalian berdua!
Ah, makasih.
Kalau gitu, permisi sebentar.
Permisi, boleh pesan kue strawberrynya.
Konpei-kun...
Fotonya masih kau simpan, kan
Apa maksudmu?
Mencoba menyembunyikannya, beneran jahat.
Sudah kubilang kan aku tak memilikinya.
Pasti ada, kan.
Mana ada.
Beneran?
Beneran!
Ada kok.
Itu foto yang memalukan, kau takkan mempercayainya.
Kenapa kau bisa muncul disini?
Jangan bersikap acuh begitu, dong.
Bukankah kita sudah mengenal satu sama lain.
Dasar acuh, acuh.
O-oi.. menjauhlah!
Kau ini siapa, ya?
Kelihatanya kalian berdua sangat dekat...
A-anu..
Tukang selingkuh, cabul, penjahat.
Ah, Kau membuatnya kesal.
Eimi, ayo pulang.
Kirara, orang itu kelihatan menghilang.
Apa sih yang kau bicarakan, ayo pergi.
Kirara, lihat kesana. itu hantu atau roh.
Aku penasaran apa dia bisa melihatku?
Karena masih ada banyak waktu. kenapa tak berkencan?
Kenapa ini terjadi padaku?
Sangat mengejutkan jika memiliki rasa bersalah, ya.
Kau tahu ini pertama kalinya aku kesini, kan.
Konpei, mau kemana kau? Oi, Konpei!
Hei, masih ada waktu, kan! ayo kencan!
Kenapa juga kita harus jalan bareng.
Tidak, habisnya jalan pulang kan cuman kesini.
Kau ini hantu yang keras kepala, ya.
Sudah kuduga.
Karena diriku ini hantu, kau tak menginginkannya.
Kenapa jadi bahas yang begituan?
Aku pun..
Aku pun tak ingin jadi hantu, demi menemuimu delapan tahun yang lalu ini!
Aku ngerti, makanya jangan nangis.
Ayo kencan, mau kemana?
Kemanapun tak masalah, kan.
Aku tak menangis, kok.
Nanti aku berubah pikiran, loh.
Eh, tunggu!
Hei, hei. gimana kalau ke hotel.
Apaan sih itu, jangan... jangan... ketempat begituan.
Hei, kenapa..
Jadi..
Makanya..
Makanya..
Benar, dia bukan pacarku.
Tak ada hubungan antara kami berdua..
Aku tak peduli hubungan diantara kalian berdua.
Kirara-san!
Jangan bersikap acuh gitu, dong!
Lagipula, kembalikan fotonya, lah.
Masih juga bahas itu?
Apaan, sikap beralasanmu itu.
Dan juga k enapa kau punya fotoku.
Eh? yah, itu..
Jadi benar kau memilikinya.
Bukan gitu, tolong dengarkan aku dulu.
Dari tadi terus mengulangi alasan yang sama!
Makanya, bukan begitu maksudku!
Jadi benar kau memilikinya.
Tak ada.
Pasti ada.
Mana ada!
Pasti ada!
Makanya, sudah kubilang aku tak memilikinya lagi.
Kau mengakuinya. barusan kau mengakuinya.
Bego, aku membencimu.
Bego, aku membencimu.
Kirara-san? Halo?!
Dasar! Konpei si super idiot
Konpei pembohong. tukang selingkuh, penjahat, cabul.
Eh?
Apa?
Bukankan perkataan cabul itu terlalu berlebihan.
Selamat malam.
Diriku dari delapan tahun yang lalu.
Apa boleh buat.
Delapan tahun, kah.
Lihatlah betapa parahnya kulitku...
Bangunlah, Kirara.
Hei, bangun dong.
Kirara, tolong bangun sekarang.
Jangan coba teriak, ya.
Tenang aja, aku takkan melakukan apapun.
Anu, kau beneran hantu?
Begitulah, tapi gimana perasaanmu terhadap Konpei.
Kau ini kenapa sampai nempel dengan Konpei-kun?
Apaan sikapmu itu?
Sudah kuduga, Konpei benar-benar tipemu...
No comments yet. Be the first to leave one.