The first 200 lines.
Lourdes, aku khawatir keponakanmu sendiri terus.
Sonia, aku juga khawatir, tapi...
Dia memang seperti itu.
Aku hanya melihatnya berkebun.
Atau di sini bermain keyboard .
Oh, sedih sekali.
Aku mencoba membuatnya bergaul
dengan orang-orang di gereja, tapi...
Dia sangat pendiam, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Dia harus punya pacar.
Dan juga teman!
Karena sendirian terus itu tak baik, Lourdes.
Tuhan Bapa dan Bunda Maria akan menganugerahkan gadis cantik
untuk anak baptisku ini!
Dengar. Apa aku datang terlalu awal?
Atau mereka yang terlambat?
Dan Hezekiah, putranya
- menjadi raja menggantikannya. - Amen!
Puji Tuhan!
Dan sebagai penutup, apa ada yang mau mempersembahkan lagu selajutnya?
Aku mau mendedikasikan lagu ini untuk para anak-anak di dunia
yang sedang kelaparan.
Kalau aku untuk suamiku yang bajingan.
Si bajingan tukang mabuk itu!
- Dadah. - Dah, sampai jumpa minggu depan!
- Dah. - Dah, sampai jumpa minggu depan!
Datang lagi, ya.
Hai!
Kau memainkannya dengan indah.
Bibi Lourdes bilang kau bisa mengajariku bermain keyboard .
Oh, Sonia!
Bilang ke suamimu aku bayar tunggakan sewanya
bulan depan saja, ya? Sabarlah sedikit lagi!
- Kita bisa atur itu. - Hei!
- Aku akan kembali malam ini! - Baiklah.
- Dah, Bibi Lourdes! - Dah, sayang.
Sayangku, aku mau bicara. Ini sangat penting.
- Mau ikut aku? - Tentu, Bi!
Sayang, kamu tahu 'kan kalau ini rumah yang terberkati?
Dan Tuhan tidak menolak siapapun.
Aku tahu.
Dan kamu tahu tentang komitmenku dengan Tuhan Bapa dan Bunda Maria,
aku seorang misionaris!
Aku tahu, Bi.
Kemarin aku dapat panggilan.
Sebuah misi.
Oh, Maria Sang Penolong Abadi, aku tak ahu cara bilangnya...
Baiklah.
Aku punya sepupu, dia punya seorang putra.
Dia sepupumu juga, dua atau tiga tingkat.
Dan anak ini akan menghabiskan waktu bebersama hari di sini.
Itu bagus! Aku bahkan tak tahu punya sepupu.
Dan kalian berdua bisa saling mengenal, berteman.
- Ya, keren! - Dan dia akan di sini beberapa hari
sampai semuanya mereda.
Apa maksudnya mereda?
Sepertinya mereka punya masalah keluarga.
Ibu tirinya, yang juga seorang wanita Kristen,
kemarin meneleponku sambil terisak.
Dia bilang kalau anak itu pulang ke rumah, ayahnya akan membunuhnya!
- Wow! - Ya, keadaannya sangat buruk.
Dan aku tak bisa menolak permintaannya.
Salah satu anggota keluarga kita, sedang mengalami keadaan sulit ini.
Aku mengerti, Bi. Tentu saja!
Namanya Mario.
- Oh, Mario! - Ya.
Keren.
Oh, aku senang kalau kau menyukainya, sayang.
Aku sebenarnya tak mau menyusahkanmu lagi, tapi...
ada tambahan kasur di kamarmu.
Oh tidak, Bi. Tidak masalah sama sekali.
Ah, baguslah, sayang!
Aku akan mengganti sepreinya hari ini.
Karena dia akan datang besok.
- Besok. - Ya, sangat mendadak.
Dan... yah.
Aku harus pergi ke acara spiritual dengan Bapa Ulysses.
Aku takkan ada di sini saat sepupumu datang nanti.
Tapi aku yakin kamu akan memperlakukannya dengan baik.
Dan aku akan kembali beberapa hari kemudian.
Baiklah, Bi. Jangan khawatir.
Tapi sebenarnya ada apa? Kenapa ayahnya begitu marah?
Karena anak itu...
akan keluar dari penjara besok, dan ayahnya tak mau dia ada di rumah.
Kamu percaya itu?
- Dari penjara? - Ya.
- Dari penjara? - Ya.
Tapi, Bi? Bagaimana kalau anak ini berbahaya?
Dia melakukan apa? Kenapa dia ditahan?
- Sedangkan aku akan berdua dengannya. - Sayang...
Sayang. Aku bahkan tak tahu apa yang dia lakukan.
Karena ampunan itu lebih penting daripada dosa.
- Tidak, Bi. Kita harus... - Tuhan...
Memberkati kita.
Aku tahu, tapi sebaiknya...
Aku yakin kalau Tuhan Bapa
dan Perawan Maria,
yang tinggal di rumah ini,
mereka akan mengubah hati kita masing-masing.
Tapi Bibi tak berpikir kalau sebaiknya...
Di mana Tuhan berada, di sanalah kita dilindungi.
- Bagus, 'kan? - Ya. Sangat keren.
Hanya beberapa hari, sayang.
Tuhan! Rahmatilah ruangan ini,
berkatilah anak itu,
lindungilah keponakanku yang tersayang.
Jangan, Bi. Jangan di keyboard !
Malaikat suci utusan Tuhan, pelindungku yang perkasa.
Sialan! Sini kau! Dasar menjijikan!
Yang satu ini sudah ada di neraka.
Bagus! Bagus! Bagus! Kau sungguh musisi yang hebat.
Aku puas! Terasa seperti...
Tuhan ikut memainkannya bersamamu.
Terima kasih!
Kau tahu, aku bisa bayangkan Tuhan menciptakan setiap nada
dengan sangat mendetail.
Masing-masing lebih indah daripada yang lainnya!
Mengenai latihan itu,
aku biasanya mengajar dua kali seminggu, kepada setiap murid.
Dan biasanya aku meminta mereka membawakan lagu...
Kau bisa main yang ini?
- Putri Keajaiban? - Benar.
Baik. Biar kucoba.
Oh, cantik! Oh, jaya!
Haleluya, Tuhan! Jaya!
Jaya, Jaya! Amen!
Lucas tersayang,
Aku tak berniat membangunkanmu, kau tidur seperti malaikat.
Aku bawa banyak makanan.
Dan aku membuat kue wortel, yang ada di dalam oven.
Aku harap kamu dan Mario akur.
Aku mengunci kamarku.
Kuncinya ada di bawah Bunda Maria, di atas kulkas.
Kalau butuh sesuatu, seperti keadaan darurat, ambil saja.
Salam manis. Aku sayang padamu.
Aku boleh mengunciku sendiri di kamar, Bi? Bagus.
Hai!
Hai!
- Oh, kau pasti... - Mario!
- Oh, tentu. - Hai sepupu!
Hai, Mario! Apa kabar? Kau baik-baik saja?
Aku tak pernah tahu aku punya sepupu!
Nama belakangku juga Hantz!
Oh keren,
ada Hantz yang lain!
Terima kasih sudah menerimaku.
Tidak apa-apa. Ini sangat keren.
Aku juga tak tahu aku punya sepupu.
Ini pelukan untuk yang bertahun- tahun kita tidak bertemu.
Ah, sepupu!
Bagaimana perjalananmu ke sini?
Bagus.
Sangat sepi.
- Benar. - Sejujurnya...
Aku tidak mengamatinya.
Dan bisa kau lihat sendiri, tempat ini sangat tenang.
Benar. Sangat damai.
Oh, dan mengenai bibi.
Dia tak ada di sini karena sedang bepergian.
Harap maklumi
- keadaannya... - Oh tidak! Tidak apa-apa!
- Tidak apa-apa? - Tidak apa-apa.
Santai saja.
Mau masuk? Akan kutunjukkan dalamnya.
- Mau masuk? - Keren!
Ayo ikuti aku.
Bisa kau lihat sendiri, rumahnya sederhana tapi...
cukup.
Kamarku ini...
jadi milik kita berdua.
Oh, kita tidur bersama?
Maksudku, sekamar?
- Ya. - Ini keren!
Dan rumah ini sangat indah.
Ini lebih baik daripada tempatku sebelumnya.
Tentu.
Kau tahu aku dari mana, 'kan sepupu?
Ah! Iya. Aku tahu. Ya, sepupu.
Penjara.
Tempat terburuk di dunia.
Bisa kubayangkan.
Tidur dengan satu orang mudah.
Coba bayangkan tidur dengan lima belas orang
Terima kasih lagi sudah menerimaku.
- Oh... - Aku tak mau menyusahkanmu.
Jangan khawatir. Tidak apa-apa.
Lihat, bibi kita menyiapkan kasur ini untukmu.
Tidak terlalu empuk, tapi... kurasa kau akan menyukainya.
Omong kosong. Ini luar biasa!
Kalau kau bilang kau punya kamar mandi di rumah ini,
aku akan menciummu tepat di mulut.
Ya, ada. Ayo, akan kutunjukkan.
Oh, bagus! Aku mau mandi.
Aku mudah berkeringat.
- Tentu. Mandilah. - Oh, keren.
Ini kamar mandinya. Lumayan lega, besar.
Untuk air panas,
kau harus membuka kerannya pelan-pelan.
Kalau tidak, dia takkan memanas.
Baiklah.
No comments yet. Be the first to leave one.