The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
- Ini hadiahmu. - Ayo berfoto.
- Cantik sekali. - Senyum!
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun, Tae-o Selamat ulang tahun
Ayolah.
Bagus...
Cepat tiup lilinnya. Ayo.
Ini ulang tahunku, tapi tak ada kartu ucapan atau hadiah.
Aku kecewa.
Kau punya kartu. Kartu kredit Ayah.
Daripada hadiah, Ayah mau bicara.
Kini usiamu 20 tahun, harus mandiri.
Benarkah?
Tunggu, kalian akan membelikanku rumah?
Hanya apartemen studio kecil.
Kemandirian harus dimulai dari dasar.
Yang benar saja, Ayah mulai dari atas berkat kekayaan Kakek.
Tae-o!
Sial! Astaga!
Aku mau makan, bukan jadi steik!
Maaf.
Astaga, apinya. Enyahlah!
Tak apa-apa.
Kalian harus lebih hati-hati.
Kini steik Ayah terbakar!
Ayah, jadi...
Berikan rumah Kakek kepadaku.
Rumah itu?
Ayah perlu orang untuk membersihkannya.
Rumah yang dirawat bertahan lebih lama.
Lebih baik putra Ayah yang rawat, 'kan?
Lebih baik daripada dibiarkan kosong.
Astaga, dia belum siap mandiri.
Jika dia bawa pulang gadis dan menghamilinya?
Tak boleh. Itu terlalu cepat.
Sial.
Salahku. Ibu tiri kita...
Bukan, maksudku...
Mestinya tak kukatakan karena kau dihamili ayah, lalu dinikahi.
Benarkah?
Aku lahir tak direncanakan?
Aku menghormati tekad kalian.
Astaga! Kenapa kau berbohong?
Cukup!
Ayah akan mampir mendadak tiap pekan.
Harus rumah Kakek, tak mau rumah lain.
Jika ada sehelai saja rambut wanita,
kau tinggal di rumah lagi, paham?
Aku tak akan bawa pulang wanita, sumpah demi nyawaku.
Sial. Kau todongkan pisau ke Ayah?
Ayah, makan udangnya.
Ini, silakan.
Taruh saja.
Ayo, cobalah.
Taruh dan duduk.
Tentu.
Ayah bilang mau mampir tiap pekan.
Tapi sudah bulanan dia tak datang.
Aku tak keberatan, karena itulah yang aku mau.
Pria umur 20 tahun tak boleh hidup kesepian.
Aku mau tinggal bersama...
Maksudku,
andai aku bisa tidur dengan pacar.
21 TAHUN
Kini aku siap menikmati hidup bebas.
Aku hanya butuh gadis cantik.
Kau siapkan semua ini untukku?
Terima kasih banyak.
Kau tahu betapa mahalnya itu?
Kenapa di sini? Sekolahmu bagaimana?
Aku berhenti dan orang tuaku mengusirku.
Karena itu,
boleh aku menemanimu malam ini?
- Sayang. - Jangan begini!
Sayang, ada apa? Ayolah.
Jiwa mudaku,
datang membalas dendam kepadaku.
22 TAHUN
Kau menakutiku!
Do-hyeon, kenapa kemari tanpa memberi kabar?
Dapur kami direnovasi, aku tak bisa konsentrasi.
- Aku juga ujian dua hari lagi. - Pergilah ke ruangan lain.
Keterlaluan.
Kau keterlaluan.
Sial .
Aku ingin gadis cantik,
tapi yang kudapat teman tak berguna.
23 TAHUN
Tapi aku tak mau menyerah.
KENCAN BUTA PUKUL 19.00
Kini, sesaat sebelum kencan buta yang kunantikan,
seorang gadis
muncul di dalam benakku.
PESAN DARI TAE-O
Tiba sepuluh menit lagi di depan.
BARANG SITAAN
TEMAN DEKAT—YANG HANYA SEKADAR TEMAN
Tinggalkan pesan setelah nada berikut.
Mau terus menghindari teleponku?
Putri tunggal Ibu tinggal di rumah tanpa air.
Ibu tak cemas?
Aku bahkan memakai toilet di restoran dekat sini.
"Ibu,
maaf, boleh aku menumpang toilet?"
Apa pantas gadis 23 tahun menanyakan itu?
PEMBERITAHUAN PENGUSIRAN
Stiker merahnya tampak mengerikan.
Pengadilan terus mengirim surel.
Tentang lelang dan jumlah transfer.
Tapi aku tak mengerti.
Aku ketakutan di sini, Bu.
Jadi, tolong jawab teleponnya!
Aku tak tuli, tahu?
Astaga.
Bisa keringkan rambutmu? Kau seperti hantu.
Aku sangat ingin menjadi hantu.
Song-i, dengar baik-baik.
Ini hari terakhirku memberi tumpangan di belakang skuterku.
Kenapa?
Karena hari ini...
- Hari ini... - Kenapa aku tak bisa naik skutermu lagi?
Kau yang menjemputku setiap pagi.
Aku akan naik skutermu sampai aku lulus.
Kita tak berangkat?
Baik, berangkat.
BERISTIRAHAT DENGAN TENANG
SEDANG BERDUKA
- Astaga. - Song-i.
- Apa yang terjadi? - Song-i!
Astaga.
Apa yang terjadi?
Aku harus bagaimana?
Saat itulah aku sadar
aku harus temani Song-i.
PANDUAN PROGRAM PERTUKARAN BUDAYA
Guru memintaku menyerahkannya untuk berjaga-jaga.
Pendaftaran sudah ditutup,
tapi mereka menunggu jika kau tertarik.
Bagaimana aku bisa pergi saat ibuku kini sendiri?
Tak perlu.
Aku memang tak mau pergi.
Song-i...
Aku tak tahu
cara menghiburmu...
Tak perlu repot.
Ada orang
yang kehilangan ayahnya dahulu.
Tampaknya hujan, Song-i.
Astaga, sama sekali tak bagus.
Kenapa harus hujan sekarang?
Bisa berhenti bicara? Suaramu bising.
Lihat, tanganmu basah semua.
Hujan menetesi matamu juga.
Kenapa hujan hanya menetesimu?
Song-i.
Dahulu Ibuku juga wafat di musim ini.
Kau bilang dia wafat saat kau kecil, 'kan?
Kau bahkan tak ingat.
Benar.
Lebih baik tak ingat.
Kenangan menyulitkan.
Aku lebih baik amnesia saat ini.
Jika kenangan dicuri juga tak bagus.
Walau tak punya kenangan,
tak punya ibu menyakitkan.
Seolah aku tak pernah punya ibu.
Tapi tetap aneh dan pedih.
Tapi aku sudah terbiasa tanpa dia.
Kau juga akan terbiasa.
Tanpa ayah, maksudku.
Selain itu,
kau bisa cepat melupakannya karena ada aku.
Menyebalkan.
Bodoh.
Kau cantik saat tersenyum.
Yun Tae-o!
Kau beli roti sosis?
Tidak?
Ini!
Cepat, naik!
Hujan.
- Tae-o, kau punya payung? - Ya. Biar kuambil!
Ini uangnya.
Siapa?
Yun Tae-o?
Mau bilang Tae-o bahwa kau suka dia?
Kenapa butuh izinku?
Kau yakin kalian tak ada sesuatu?
Apa ada sesuatu?
Kalian biasanya sangat akrab.
Semua orang berdebat apa kalian pacaran.
Kami tak pacaran. Kalian tak percaya?
Tae-o sangat tampan.
Bagaimana kau bisa tak menyukai wajah seperti itu?
Hei.
Karena kalian tak melihat dia saat kecil.
Nilainya nol sampai rata-rata.
Kau tak pernah punya perasaan kepadanya?
No comments yet. Be the first to leave one.