The first 200 lines.
"Episode 67"
Paman dari keluarga ibumu?
Ya.
Aku ingin tahu apa Ibu tahu apa pun soal mereka.
Kurasa aku pernah melihat mereka sekali
saat masih kecil.
Tapi aku tidak yakin apa ingatanku benar.
Kenapa kamu mau tahu soal paman dari keluarga ibumu?
Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal mereka?
Itu...
Bukankah katamu kamu tidak sering bertemu dengan ibumu?
Katamu kamu tidak sering melihatnya di rumah.
Aku tidak melihatnya di rumah,
tapi ada masalah di perusahaan.
Soal apa?
Adik-beradik Bu Jeon membuat masalah
dan mengacaukan perusahaan.
Astaga.
Apa mereka merecoki perusahaan?
Apa?
Kenapa ini tidak mengherankan?
Mereka benar-benar menguasainya.
Mereka sungguh bedebah.
Apa maksud Ibu?
Kamu tidak perlu tahu. Semua sudah berlalu.
Kamu tidak perlu tahu.
Itu hanya akan membuatmu cemas.
Kamu sebaiknya tidak bertemu lagi dengan mereka.
Lupakan saja.
Tapi Tae Ju harus menuntaskannya karena itu berhubungan dengan kerja.
Kenapa dia yang harus menuntaskan? Mereka seharusnya dipenjara.
Tae Ju terlalu baik. Kenapa dia yang menuntaskan?
Tapi pamanmu yang lebih muda agak lebih baik.
Setidaknya dia merasa bersalah.
Tahukah kamu bagaimana ibu kali pertama menemui yang tua?
Saat Ibumu kali pertama mengunjungi rumah kita untuk menikah,
bedebah itu tiba-tiba muncul
dan menyeretnya dengan menjambaknya.
Apa?
Dia mau menjual adiknya yang cantik dan terkenal,
tapi karena adiknya mau menikahi pegawai insinyur miskin,
dia menerobos rumah kita secara tiba-tiba
dan menyeret ibumu dengan menjambaknya.
Saat ibumu memaksa dia tidak mau pergi,
kakaknya menghantam dan menghancurkan barang-barang.
Ibu tidak pernah melihat sampah semacam itu.
Astaga.
Begitu rupanya.
Serta nenekmu.
Ibu mertua ibu terjatuh, dengan mulut berbusa.
Itu kacau sekali.
Begitu rupanya.
Mereka masih menempeli ibumu?
Kurasa begitu.
Ibu rasa dia sumber penghasilan mereka.
Tidak heran mereka tidak mau melepaskannya.
Mereka alasan ibumu amat kejam dan pendendam.
Ya, tapi dia dari awal memang pendendam.
Mereka hanya membuatnya makin seperti itu.
Itu sudah mengalir dalam darah mereka.
- Jangan pernah - Apa?
bicara atau terlibat dengan mereka.
Paham?
Kenapa kamu peduli dengan mereka?
Baik. Aku tidak peduli soal mereka.
Hanya saja, Tae Ju terpojok.
Dia seharusnya tidak merasa begitu. Masukkan saja mereka ke penjara.
Baiklah, aku mengerti.
Ibu tenanglah dan jangan marah.
Kamu membuat ibu marah tanpa alasan.
Jika mau bicara omong kosong, jangan datang ke rumah ini.
Astaga, Bu Park Sun Ja, makin cantik saja belakangan ini.
Hei.
Dahulu ibu lebih cantik.
Saat ibu menikah,
banyak pria di dekat rumah yang tidak tahan menahan sakit.
Ibu mertua ibu menolak
pernikahan kami karena ibu terlalu cantik.
Lalu Jeon In Suk datang ke keluarga ini
dan ibu kalah darinya.
Kamu tertawa? Kamu menertawakan ibu?
Apa itu lucu? Dasar...
Ibu cantik.
Ibu amat cantik.
Seorang putri?
Bukan apa-apa.
Itu bukan apa-apa. Jangan dipikirkan.
Ibu punya seorang putri?
Kubilang itu bukan apa-apa.
Paman.
Aku berhak tahu semuanya soal Ibu.
Lagi pula dia ibuku.
Kamu benar.
Kenapa paman harus merahasiakannya darimu?
Jika kamu membaca artikel lama,
beberapa koran menerbitkan mungkin satu baris soal itu
dan beberapa tidak.
Bagaimanapun, dia punya anak sepantaranmu.
Tidak, bukan itu.
Dia agak lebih tua darimu.
Namanya
Seung Yeon.
- Seung Yeon? - Ya.
Di mana dia sekarang?
Dia seharusnya baik-baik saja di mana pun dia berada.
Tapi
kenapa dia meninggalkan putrinya?
Bagaimana bisa dia membawa putrinya ke keluargamu?
Ibu dan Paman sama-sama menikah kembali.
Ayolah.
Tapi keluargamu punya perusahaan besar terhebat.
Bagaimana bisa dia membawa putri yang tidak berkaitan?
Itu konyol.
Lantas, apa yang terjadi
kepada putri itu?
Paman
tidak berhak bicara soal Seung Yeon.
Paman tidak bisa bicara lagi.
Maaf, Tae Ju.
Hei, lalu,
bawa istrimu untuk makan di sini nanti.
Itu saja
yang bisa paman lakukan untukmu.
Baik, Paman.
Aku akan membawanya bersamaku.
Yang paman bilang hari ini,
jangan pernah
beri tahu ibumu.
Paham?
Seung Yeon?
"Penerbitan dan Toko Buku Dol Dam Gil"
Pak Kim.
Kim Woo Jin.
Kang Mi Hye.
Apa-apaan kamu?
Kukira kamu akan berteriak atau mendorongku. Jadi, aku bersiap.
Bukan itu yang kutanyakan.
Untuk berjaga-jaga kamu mendorongku saat aku menciummu,
aku berlatih teknik jatuh aman.
Tapi kamu tidak mendorongku.
Serta pipimu merona.
Apa kamu sungguh menyukaiku?
Kamu kira ini lucu?
Kamu suka bermain-main dengan hatimu?
Apa mencium semacam permainan observasi bagimu?
Bukan begitu.
Aku menciummu karena sungguh-sungguh menyukaimu.
Lupakan saja.
Aku tidak mau bicara lagi.
Lantas, jawab satu pertanyaan saja.
Aku tidak mau bilang apa-apa.
Apa kamu menyukaiku?
Kamu sungguh menyukaiku juga?
Bukan seperti itu.
Lantas, seperti saat kamu mencampakkanku sebelumnya,
tatap mataku dan katakan itu.
Bahwa kamu tidak menyukaiku dan aku bukan tipemu.
Intinya, tidak.
Aku tidak menyukaimu.
Kamu menghindari mataku.
Artinya kamu menyukaiku juga, bukan?
Aku menyukaimu.
Aku amat menyukaimu untuk waktu yang lama.
Jadi, jangan malu atau tersipu.
Malu tidak akan bertahan lama.
Tenanglah.
Ini gila.
Min Ho, keluarkan kardus lobak.
Baik.
Lupakan, bawang bombai dahulu.
Bawang bombai, baik.
Ini berat.
Si pria obsesif.
Hei, Berandal! Berapa usiamu?
- Apa? - Panggil aku Pria Berhati Tulus.
Apa?
Apa Bu Park ada di restoran?
Ya, dia di dalam.
Astaga.
Kurasa aku makin tua.
Kini terasa sulit membawa dua kantong kubis napa.
Kamu mati saja jika itu sulit.
Ayolah. Jangan depresif begitu.
Ini, berikan ini ke Pak Kim.
Apa ini 200 dolar?
Ya, bilang ini sekaligus bayaran kali terakhir.
Baik.
Hai, Jae Bum.
Ada apa kemari pagi-pagi sekali?
Kamu kemari, Jae Bum.
Halo.
Ikut aku.
Baik.
Apa ada yang tidak beres?
Dia menghampiriku dan membawa bawangnya begini.
Kenapa dia kemari pagi-pagi benar?
Aku tidak tahu.
Dia tidak bilang apa-apa kepadamu?
Dia menyuruhku memanggilnya Pria Berhati Tulus.
Apa? Pria Berhati Tulus?
No comments yet. Be the first to leave one.