The first 200 lines.
Siapa orang ini?
Namanya Szczuka.
Sekretaris Partai Komunis wilayah provinsi.
- Pak. - Pergilah.
Bisa bukakan kapelnya?
Terkunci.
Pergi!
- Ada apa? - Mereka datang.
Aku sudah biasa menunggu kejadian besar.
- Cepat! - Semut sialan!
Pergi dari sini! Cepat!
Cepat! Mereka datang! Cepat!
- Ambil surat-suratnya! - Tak ada.
Yesus! Maria! Ayo pergi dari sini!
Berhenti!
Mau ke mana kau?
Tunggu!
Apa yang terjadi?
Dua orang kita dibunuh.
Smolarski dari Serikat Buruh pabrik semen.
Dan dia?
Gawlik, dari pabrik semen juga. Usianya belum genap 20.
Dia baru kembali dari kamp Jerman dua minggu lalu.
Kembali hanya untuk mati.
Jadi dari sana para bajingan itu menembaknya!
Kurasa kita berdua yang sebenarnya mereka incar.
- Benarkah? - Pasti.
Itu tak penting.
Maaf, Kamerad.
Namaku Szczuka.
Jadi kau Sekretaris Partai yang sedang kami tunggu?
Benar.
Aku punya pertanyaan untukmu. Kami semua punya pertanyaan.
Sampai kapan orang-orang akan dihabisi seperti ini?
Mereka bukan yang pertama.
Dan bukan yang terakhir. Kau takut?
Semua orang ingin hidup.
Kita sudah kehilangan banyak orang.
Smolarski sudah kehilangan kedua putranya.
Seorang pada tahun 1939, yang satunya ditembak Jerman tahun 1943.
Dan sekarang dia.
Apa alasannya? Siapa yang membunuhnya?
Orang Polandia?
Sampai kapan ini akan berlangsung?
Sebagai komunis, aku tak akan menenangkan kalian seperti anak kecil.
Perang memang sudah berakhir, tapi perjuangan kita belum usai.
Perjuangan untuk masa depan negara kita baru saja dimulai.
Hari ini, besok atau lusa, salah satu dari kita bisa saja terbunuh.
Kami mengerti.
Tapi apa yang akan kami katakan pada istrinya?
Apa yang akan kami katakan?
Tak mudah bagiku, Kamerad,..
..karena sebenarnya akulah yang mereka incar,..
..bukan dua orang ini.
Sekarang tenanglah!
Kita harus menunaikan kewajiban kita selagi masih hidup.
Itu yang terpenting.
Pengumuman penting.
Hari ini, 8 Mei,..
..di reruntuhan Berlin,..
..Komando Tertinggi Angkatan Bersenjata Jerman...
..menandatangani penyerahan tanpa syarat.
Komando Tertinggi Angkatan Bersenjata Jerman...
..diwakili oleh...
..Keitel, Friedeburg dan Stumpf.
Perwakilan Komando Tentara Merah,..
..diwakili oleh Marshal Zhukov.
Di mana dia?
Seharusnya dia sudah datang.
Dari mana dia mendapat informasi ini?
Dari atasannya.
Siapa atasannya?
Wali kota. Si bodoh itu jadi sekretarisnya.
Jadi dia agen ganda? Aku benci itu.
Dia bisa dipercaya?
Memangnya ada yang bisa dipercaya?
Lihat tank-tank itu. Lumayan juga.
Tank-tank Polandia siap bertempur.
Lihat!
Halo, Bung.
- Kau terlambat. Ada masalah? - Tidak, aku harus ganti pakaian.
- Kau mau menikah? - Tidak.
Aku mengurusi jamuan makan malamnya.
Berikan padaku.
Fotonya tak jelas, terlalu terang.
Jangan mengikutkan aku untuk aksi seperti ini.
Baik, jangan cemas.
Untuk informasi tak masalah. Tapi aku tak mau ikut aksi seperti ini.
Cukup. Maciek?
- Apa? - Ayo pergi.
- Ke mana? - Kami diundang jamuan makan malam.
Serius?
Jangan cemas. Aku tahu yang kulakukan.
- Risikonya besar. - Jangan menggangguku.
- Sampai jumpa. - Sampai jumpa.
Selamat malam, Pak.
Lihat siapa yang datang!
- Apa yang membawamu ke sini? - Tugas, Tn. Kotowicz, tugas.
Oh, jamuan makan malam. Kau mencari Tn. Slomka?
Dia ada di dalam.
Luar biasa! Percayalah padaku!
Selamat malam. Apa kabar?
Kuharap Pak Wali Kota puas.
Dia berharap semuanya akan berjalan lancar.
Aku mengerti. Ini akhir peperangan. Momen yang sangat spesial.
Jalan khusus menuju toilet.
Bagaimana keadaannya?
Terima kasih, Pak. Sangat tenang.
Kelihatannya bagus.
Tenanglah, Pak Sekretaris,..
..rasanya lebih enak saat dicicipi.
Ayo pergi.
- Kau lihat gadis cantik itu? - Ayolah.
Kita minum dulu.
Selamat malam. Bisa pesan minuman?
Minum apa?
Vodka dua.
Nona Krystyna!
Ya?
Krystyna, nama yang cantik.
- Jangan bercanda. - Tidak.
Kita minum lalu pergi.
Vodka dobel dan soda.
Bar yang bagus, 'kan?
Tutup jam berapa?
Pukul 3 pagi.
Kau suka violet?
Sangat suka.
Aku juga.
- Kau lihat itu? - Apa?
Seperti gadis-gadis Warsawa. Seandainya aku bisa tinggal.
- Tinggal saja. - Mudah mengatakannya.
Tak ada yang menunggumu di sana.
Itu sebabnya tak ada gunanya tinggal.
- Aku tak mengerti. - Aku juga.
Mungkin untuk atasan kita.
Tunggu. Biar aku saja.
Halo. Ya. Ini Ny. Staniewicz.
Akan kusambungkan.
Mayor! Telepon untukmu.
Ini Andrzej.
Sudah beres, Pak.
Semuanya lancar.
Tak ada masalah.
Ya.
Selamat malam.
Sudah ada kamar untuk Kamerad Szczuka?
Sudah dipesan oleh Balai Kota.
Kamar 18 di lantai dua.
Silakan.
Ya.
Ya.
Sebentar.
Ada apa? Kau masih di sana?
Aku tak mengerti.
Jadi belum terlaksana.
Ya, aku mengerti.
Sayang sekali. Segeralah datang kemari.
- Ada rokok? - Buatan Amerika atau Hungaria?
- Amerika saja. - Silakan.
Terima kasih.
Tunggu aku di bar.
Tak masalah. Aku sudah biasa menunggu kejadian besar.
Kenal dengan keluarga Staniewicz?
Kenal, Pak.
Mereka belum pindah?
Belum. Tempatnya tak jauh dari sini.
Mereka punya telepon. Mau kusambungkan?
Ini.
Terima kasih.
Ini nomor mereka, 1214.
Ini kuncinya, Pak.
Jam berapa perjamuannya? Pukul 11 malam?
Ya. Mobilnya akan menunggu kita.
Ada yang bisa dibantu?
Tolong sebungkus rokok.
- Rokok Amerika atau Hungaria? - Hungaria, rasanya lebih keras.
- Ini. - Terima kasih.
- Ini. - Akan kuambilkan kembaliannya.
Tidak, ambil saja.
Mau merokok?
Tidak, terima kasih.
Sudah tak kuat merokok. Seusiaku ini, batuk...
Berapa umurmu?
- Mendekati enam puluh. - Tak tampak berumur 50 tahun.
Kau baik sekali. Sendirian?
Untuk saat ini.
Gadis pirang?
Kenapa tidak?
Kami kekurangan kamar ukuran dobel.
Kamar ukuran tunggal juga tak masalah. Terasa lebih akrab.
- Kau dari Warsawa? - Ya.
Aku juga. Dulu bekerja di Hotel Savoy.
- Di Jalan Nowy Swiat? - Ya.
Selama 25 tahun kurang dua bulan.
Kau ada di sana saat terjadi pemberontakan?
Ada di pusat kota sampai hari terakhir. Kalau kau?
Pertama di Kota Lama, lalu ke pusat kota.
Tanpa Warsawa, keadaan tak akan sama.
Rasanya seperti kehilangan sebelah tangan.
No comments yet. Be the first to leave one.