The first 200 lines.
"Episode 85"
Paman!
Paman.
Tae Ju...
Ada apa?
Mungkinkah
Na Do Jin kemari?
Itu...
Inilah alasanku bilang jangan bilang apa-apa.
Sudah kubilang jangan bilang siapa-siapa soal putri Ibu.
Paman tidak punya pilihan.
Karena dia bilang akan menuntaskan masalah paman jika paman bilang.
Kenapa?
Apa masalahnya?
Paman, tetaplah di sini.
Aku akan segera menghubungi Paman.
Tae Ju.
Tae Ju!
Kemari, tolong kemari.
Sayang.
"Putriku Seung Yeon"
Ibu kira apa yang Ibu lakukan?
Sayang.
Ini aku.
Tae Ju.
Kamu sekarang di mana?
Apa terjadi sesuatu kepada Ibu?
Tolong segera pergi ke Jembatan Dongjak! Cepat!
Ibu!
Tidak.
Kumohon.
Tolong jangan lakukan itu.
Tidak! Hentikan.
- Tidak. - Lepaskan.
- Kamu tidak bisa hidup sepertiku. - Tidak.
Kamu tidak boleh menjadi sepertiku. Lepaskan.
Ibu.
Siapa ibumu?
Aku bukan ibumu.
Aku tidak boleh menjadi ibumu. Lepaskan.
Aku hamil.
Aku mengandung.
Ibu setidaknya harus memasak untukku setelah aku melahirkan.
Ibu belum berbuat apa-apa untukku.
Jika mau bunuh diri,
ibu setidaknya harus menjadi seorang ibu bagiku walau sebentar.
Bagaimana dengan Kang Mi Ri?
Di mana dia?
Astaga. Sudah kubilang sabar. Aku mengutus orang mencarinya.
Kamu mengutus orang itu ke mana?
Mungkinkah kamu mengutus orang ke restoran sup tulang sapi?
Lantas ke mana lagi? Kudengar dia pergi ke ibunya.
Dungu!
Suruh mereka segera kembali.
Keluarganya tidak boleh tahu soal ini.
Kenapa?
Aku yakin mereka bersekongkol.
Kita harus membawa mereka kemari dan menyuruh mereka berlutut.
Jika ini tersebar ke media,
harga saham perusahaan jatuh. Nanti keadaannya kacau.
Perusahaan tidak penting sekarang.
Ibu dan putri yang keji itu membodohimu.
Kita harus menangkap dan membuat mereka mendapat ganjarannya.
Lebih baik kita menyingkap ini ke media dan mempermalukan mereka.
- Perusahaan itu segalanya bagiku. - Astaga.
Kamu mengejutkanku.
Tidak apa-apa mencoreng namaku.
Tapi aku tidak bisa membiarkan siapa pun mencoreng perusahaanku.
Entah itu istri atau putraku,
aku tidak akan memaafkan mereka. Tidak akan pernah.
Baik, akan kuhentikan mereka.
Jadi, kumohon...
Rahasiakan ini dari siapa pun.
Jika ini sampai tersebar,
semua orang di sini akan mati.
Paham?
Tulis dengan akurat dan cepat.
Yang penting adalah
memutuskan secara objektif siapa yang lebih berguna
bagi keluarga kita sebagai menantu bungsu.
- Tulis. - Baik.
Diamlah, Bu.
Ibu membuat mereka bingung.
Tidak ada yang perlu dibingungkan.
Keluarga dan wajah ramah.
Tubuh familier dan suara manis.
Nafsu makan yang tinggi. Itu yang harus kamu pikirkan.
Ibu, itu bertentangan dengan aturan pemungutan suara.
Berhenti mengingatkan mereka akan kandidat tertentu.
Jangan bertingkah.
- Ibu. - Ya?
Bagaimana aku menulis "Jae" dalam Bang Jae Bum?
J, A, E. Akan ibu tunjukkan.
Begini.
- J... - Da Bin, jangan.
- Ada apa denganmu? - Jangan.
- Dasar... - Dia tidak berhak memberi suara.
Kembalikan itu kepadanya.
Tentu saja dia berhak memberikan suara.
Dia belum 20 tahun.
Untuk berpikir matang dan membuat keputusan soal kehidupan bibinya,
dia menerima terlalu banyak permen dan kudapan dari Jae Bum.
Astaga.
Seluruh hidupnya seperti pemungutan suara yang dimanipulasi.
Dia mendapat gaun dari Jae Bum bahkan sebelum dia lahir.
Tidak akan pernah.
Tidak apa-apa.
Da Bin, tidak apa-apa. Jangan menangis.
Konyol.
Baiklah.
Untuk mencegah keluhan lain, mari lakukan di antara orang dewasa.
Dengan begitu, semua akan menerima hasilnya.
Lima orang dewasa tanpa Da Bin.
Lebih baik menyimpulkan seperti itu juga.
Baik. Mari lakukan ini di antara orang dewasa.
Berandal, tunggu dan lihat saja.
Kak, kumohon.
"Kim Woo Jin"
Minum ini dan tenanglah.
Jin Soo membuatku menggila.
Kenapa aku harus menikahinya
dan repot-repot seperti itu?
Aku juga tidak memahami Kak Jin Soo.
Jika menikahi orang seperti Kakak, akan kuperlakukan bak tuan putri.
Kakak cantik, kompeten, cerdas, dan pintar.
Di mana lagi dia bisa menemukan wanita seperti itu?
Hentikan, Jae Bum. Kamu membuatku malu.
Jangan malu karena itu benar.
Kakak sungguh berkarisma.
- Selamat menikmati. - Terima kasih.
Sayang, kamu menyiapkan ini?
Apa?
Kamu bahkan menulis surat.
Kakak, selamat atas ulang tahun pernikahan kelima.
Kak Jin Soo adalah pria paling beruntung di dunia.
Kenapa aku paling beruntung?
Apa ini hari ulang tahun pernikahan kita?
Aku seharusnya tidak mengharapkan apa pun darimu, bukan?
Sayang, aku pulang lembur.
Baik, Jae Bum.
Kamu naik sepeda melewati Sungai Han sebelum pulang.
Apa? Tidak.
Kamu kira aku tidak akan tahu?
Kamu sedang apa, Jin Soo?
Apa? Ya...
Berhentilah berpikir dan cepat tulis.
- Kamu menunggu apa? - Baik.
Baik, mari mulai menghitung suara.
Tepuk tangan.
Da Bin, tulis pilihanmu juga.
- Baik. - Baik?
Baiklah.
Bang Jae Bum.
Jae Bum akan mendapat semua suara.
Kim Woo Jin.
Apa kamu yang menulis itu?
Baiklah, selanjutnya...
Bang Jae Bum.
Maju, Jae Bum.
- Bang Jae Bum. - Bang Jae Bum.
Cepat baca.
Cepat.
Kim Woo Jin.
- Apa? - Apa?
Apa itu kamu?
Ibu, tenanglah.
Keduanya seri dua suara, bukan?
Ya, seri.
Paman, buka suara terakhir.
Baik, suara terakhir.
Bang Woo Jin.
Bang Woo Jin?
Apa?
Siapa Bang Woo Jin?
Siapa yang salah menulis nama? Siapa yang dungu?
Kamu, bukan?
Astaga, ada apa denganmu?
Astaga, kamu bahkan tidak bisa menulis nama dengan benar.
Tapi aku sungguh tidak tahu, Bu.
Begini.
Aku terlalu kesal dengan Jae Bum si Beruang Besar.
Dia sering membuatku stres.
Di samping itu aku belum pernah melihat Kim Woo Jin.
Jadi, bagaimana bisa aku memilih di antara mereka?
Sejujurnya, aku juga bingung dengan nama mereka.
Aku bahkan tidak tahu apa Bang Woo Jin atau Kim Jae Bum.
Ini membuatku kewalahan, Bu.
Kamu ada benarnya.
Jika dipikir-pikir, ibu paham maksudmu.
Jin Soo.
Ikut ibu sebentar.
Ibu sedang apa?
Ibu melakukan apa dengan Kak Jin Soo?
Buka pintunya sekarang juga.
- Jangan pedulikan dia. - Keluar.
Simpan ini.
Apa ini, Bu?
Ini 300 dolar.
Ibu.
Kamu pasti kesulitan karena Mi Sun keras kepadamu.
No comments yet. Be the first to leave one.