The first 200 lines.
"Episode 37"
Terima kasih.
Kesepakatan itu
gagal.
Setelah berita itu menyebar,
mitra bisnis kami datang terburu-buru.
Tetap saja,
mereka tidak akan bertindak sejauh ini.
Apa mungkin kamu terlibat dengan rentenir?
Do Hyun
pasti putus asa.
Andai saja dia berkonsultasi denganku dahulu.
Kurasa dia ingin mengurus semuanya sendiri.
Jae Hee...
Tapi jangan khawatir.
Bagaimana aku bisa memberitahunya bahwa ini perbuatan Park Pil Hong?
Seseorang bernama Park Pil Hong menghalangi kesepakatan kita.
Tapi dia sepertinya tidak terlalu terkenal di lapangan.
Bagaimana aku bisa memberitahunya bahwa Park Pil Hong terlibat?
Moong.
Ini pasti mengejutkanmu.
Aku...
Aku baik-baik saja. Sungguh.
Kamu tidak perlu berpura-pura baik-baik saja.
Setidaknya tidak di depanku.
Kamu ada di sisiku saat aku sangat membutuhkanmu.
Jadi, kenapa kamu tidak mengizinkanku menemanimu?
Sungguh...
Aku baik-baik saja.
Aku...
Jae Hee. Jae Hee, apa rasa sakitnya kambuh?
Bu Lee, kenapa Anda membodohiku?
Kenapa Anda tidak memberitahuku
bahwa aku mencuri kesepakatan dari Jae Hee?
Itu bukan sesuatu yang harus kamu ketahui.
Seingatku, kamu melakukan segalanya demi uang.
Jae Hee adalah pria yang dicintai Seo Yeon-ku.
Dia tunangannya.
Bagaimana Anda bisa sekejam ini?
Dia cucu Anda.
Dia mungkin cucuku, tapi dia juga putrimu.
Yang mengalir di nadinya adalah
darah pria yang menghancurkan hidup putriku!
Bit Chae Woon juga menginjak-injak hati Seo A-ku.
Aku lihat Anda hanya melihat Jang Seo A sebagai cucu Anda,
sedangkan Seo Yeon-ku bukan.
Karena Jang Seo A adalah tiket Anda untuk menyimpan
- posisi Anda sebagai pimpinan? - Seolah-olah kamu tidak tahu.
Hidup Jung Won-ku bergantung di jurang karenamu,
tapi itu berubah saat dia bertemu dengan ayah Seo A.
Aku benar
memisahkan kalian berdua bertahun-tahun lalu.
Anda lupa ucapanku?
Aku punya rekaman percakapan yang pernah kita bagi.
Apa Anda mau itu didengar orang lain?
Bisakah Anda menangani seluruh dunia mengetahui
tindakan Anda yang kejam?
Apa? Berengsek!
Astaga.
Jika itu membuat Anda takut, Anda akan meluruskan ini.
Biarkan Jae Hee meneken kontrak dengan perusahaan konstruksi itu.
Anda punya waktu sampai besok.
Paman Hwak Se, kenapa tidak bekerja?
- Begini... - Ada apa?
Begini...
Apa?
Kami mulai berkencan
beberapa saat lalu. Tadinya aku ingin bilang Kakak,
tapi aku tidak bisa mengumpulkan keberanian.
Ini pasti mengejutkan.
Ya, kamu bisa mengatakannya lagi.
Aku yakin Kakak kecewa karena aku memilihnya.
Man Jeong.
Ya?
Bukankah Paman Hwak Se
seseorang yang kamu banggakan?
Kamu hanya akan mengencani seseorang
yang menurutmu bagus di matamu.
Benar.
Aku juga berpikir begitu, tapi Kakak tahu apa kata orang.
Kakak seperti ibuku,
jadi, aku mengerti kekecewaan Kakak.
Paman Hwak Se adalah pria yang bisa dibanggakan.
Di mana lagi kamu akan menemukan pria sebaik dan semurah hati itu?
Benar, bukan? Tentu saja kakak tahu itu.
Benar.
Tapi yang membuat kakak khawatir adalah ini.
Kamu dan Paman Hwak Se
memiliki tempat istimewa di hati kakak.
Tapi bagaimana jika hubunganmu dengannya
tidak berhasil?
Jika hubungan itu berakhir buruk,
kita tidak akan bisa sedekat ini dengan Paman Hwak Se lagi.
Kenapa
Kakak sudah memikirkan perpisahan kami?
Man Jeong, kamu mencintainya?
Ya.
Tentu saja. Aku sangat menyukainya.
Apa kamu memikirkan pernikahan?
Ya, kurasa begitu.
Man Jeong,
semua selalu dimulai seperti ini bagimu.
Apa?
Kamu membiarkan hasratmu memenuhi hatimu
sebelum mempertimbangkan pilihanmu.
Kamu jatuh cinta kepada pria seolah-olah tidak ada hari esok.
Seperti itulah aku dahulu. Itu kisah kehidupan cintaku.
Ya, begitu jatuh cinta kepada seseorang,
aku langsung menyelam.
Akhirnya uangku dirampok.
Tapi Hwak Se tidak seperti pria yang dahulu kupacari.
Kakak lebih tahu daripada aku.
Dia yang termanis, bukan?
Dia bukan tipe orang yang akan menusukku dari belakang.
Itu yang kamu katakan kepada kakak
tentang semua pacarmu yang lain.
Apa yang ingin Kakak katakan?
Maksud Kakak Hwak Se juga akan menusukku dari belakang?
Tidak, tentu saja tidak. Maksud kakak,
kamu bisa menyakiti Paman Hwak Se.
Tunggu sebentar.
Ini cara Kakak mengatakan bahwa Kakak tidak merestui kami,
bukan?
Kalau begitu, jujur saja kepadaku.
"Kakak memasukkanmu ke sekolah kedokteran,
bekerja sebagai pembantu,
tapi kamu hanya bisa dicampakkan oleh pria
dan sekarang kamu mengencani penyanyi kelas tiga."
"Kakak tidak bekerja keras agar hidupmu menjadi seperti ini."
Jujur saja kepadaku dan jangan bertele-tele.
Man Jeong, kakak mohon.
- Man Jeong, tolong hentikan. - Bibi?
- Jangan seperti ini. - Lepaskan aku.
Kak Sun Jeong, katakan saja Kakak tidak merestui kami
dan Kakak ingin aku mengencani dokter lain.
Jujur sajalah.
Kenapa repot-repot mengatakan aku berisiko melukainya?
Itu sebenarnya lebih menghina!
Man Jeong, kenapa kamu mengatakannya seperti itu?
Kakak sudah seperti ibu bagimu, bukan?
Kakak boleh mengutarakan pendapat kakak soal ini.
Kakak tidak keberatan kalian berkencan.
Kakak hanya ingin kamu berhati-hati soal itu.
Apa salahnya?
Tapi kenapa kamu begitu marah sekarang?
Aku sangat kecewa kepada Kakak sekarang.
Kak Sun Jeong, aku benar-benar yakin
bahwa dia dan aku ditakdirkan bersama.
Sulit bagiku untuk memutuskan.
Dan lebih sulit membuka hatiku untuk Kakak.
Tapi apa? Apa Kakak memberikan restu?
Alih-alih ucapan selamat,
Kakak hanya menatapku dengan ekspresi bingung.
- Hentikan... - Kakak pikir aku menyedihkan?
- Kenapa Kakak mendesah? - Ada apa denganmu?
Apa salahku?
Menurut Kakak kenapa aku menyedihkan dan memilukan?
Lepaskan aku.
- Apa aku semenyedihkan itu? - Astaga, sudah cukup.
- Astaga. - Ibu.
Apa Bibi dan Paman Hwak Se sungguh berpacaran?
Astaga, ada apa dengannya?
Astaga.
Kenapa kamu memperlakukanku seperti anak kecil?
Kenapa kamu bersikap seperti ini?
Jangan seperti itu.
Kamu melakukan ini karena tidak enak kepadanya.
Mereka bilang yang salah mencurigai semua orang.
- Karena kamu merasa bersalah... - Bukan seperti itu.
Tunggu, maksudku...
Sun Jeong, aku sungguh minta maaf.
Hiburlah Man Jeong, Paman Hwak Se.
Begini... Sun Jeong.
Kita bisa bicara nanti. Mengerti?
Baiklah.
Apa yang terjadi?
- Bibi. - Hae Deun.
Jangan. Nanti saja.
Jjeong, aku masuk.
Jjeong, apa yang kamu lakukan? Kamu mau ke mana?
Aku akan tidur di rumah sakit malam ini.
Aku tidak bisa tetap di sini.
Kamu tidak bisa pergi begitu saja. Apa yang harus kulakukan?
Kamu mendengar perkataanku kepada Kak Sun Jeong tadi?
Sial. Maafkan aku.
Jika kamu pergi seperti ini,
apa yang harus kita lakukan dengan Sun Jeong?
Kamu tidak bisa melakukan ini kepadanya.
Dia bahkan tidak mengatakan apa pun.
Dia seharusnya mengatakan sesuatu.
Dia bisa memukul punggungku dengan memanggilku gila.
Apa itu tadi? Ini lebih memalukan.
Aku tahu.
Gila sekali Man Jeong
berpacaran denganku.
Tidak, maksudku...
Kenapa aku mengatakan hal-hal bodoh hari ini? Ini sangat menyebalkan.
Aku tidak bilang bahwa gila bagiku
untuk berpacaran denganmu.
Bukan itu maksudku.
No comments yet. Be the first to leave one.