The first 200 lines.
Berhasil.
Lalu suaranya?
Mereka bilang seharusnya baik-baik saja.
Kita harus menggunakan penginapan sebagai hipotek.
Jika keadaan tak membaik, mungkin kita harus menjualnya.
Aku tak bisa melakukan ini sendirian.
"Perjanjian"
Ya, maafkan aku.
Kami pasti akan membayar pinjamannya.
Terima kasih.
Sampai jumpa.
Aku akan menghubungi paman yang tinggal di Sapporo dan Kitami.
Baiklah.
Semangat.
Aku juga akan berusaha semampuku.
Manami.
Terima kasih.
Jaga dirimu.
-Baiklah. -Jaga dirimu.
Jaga dirimu.
Bu, ayo.
Dua bulan setelah operasi,
ibu diizinkan keluar dari rumah sakit.
Baiklah.
Sudah selesai.
Jurnal TV Mingguan.
Ini.
Terima kasih.
Sudah selesai?
Baiklah, sudah selesai.
Panduan Film Mingguan.
-Sudah selesai. -Baiklah.
Terima kasih.
Maaf.
Ilustrasiku sudah selesai?
Aku merasa terkenal.
Kenapa aku bekerja sebagai manajer?
-Aku bukan manajermu. -Baiklah...
Pasti karena karmaku buruk.
Jangan mencuri kata-kataku.
Tuan Nakagawa, apakah ilustrasinya sudah selesai?
Ya, hampir.
Kita terlalu banyak menerima pekerjaan.
Ini salah wanita tua itu.
Lihat, dia juga bisa menggambar ini.
-Bukankah dia berbakat? -Ya.
Jangan khawatir dengan harganya.
Aku akan memberi diskon khusus tanpa sepengetahuan Ma.
Kau selalu begitu.
Apa kau mau nasi lagi?
Terima kasih.
-Aku akan mulai makan. -Ini.
-Aku minta baksonya. -Ya, ambillah lagi.
-Terima kasih. -Semoga kau suka.
Ibu sudah pulih.
Ya. Benar.
Ma, bangun. Lihat, sudah sore.
Apa itu?
Hari ini pukul tiga, ada orang dari Toko Buku Kadoyama,
Majalah Iklan Bulanan akan mengambil ilustrasi mereka.
Biarkan aku tidur sebentar.
Bangun dan bekerjalah.
Kau tak boleh membuat masalah pada klienmu. Bangun.
Apa itu?
-Itu babi. -Ini, gunakan ini.
Tak bisa hilang.
-Biar kulihat. -Dia bisa bicara...
-Ini. -Dan dia bisa tertawa.
Dia mulai menjaga kesehatannya.
Tiap pekan, dia akan
memeriksakan diri ke dokter.
Berhati-hatilah.
Dia sangat imut.
Umurnya baru tiga bulan.
Lihat, ini cucuku. Lihatlah dia.
Berapa umurnya?
Sudah empat.
Penyakit ibu sudah sembuh.
"Taman Salju Sakura"
Aku akan kembali.
Sampai jumpa.
Ada apa?
Selamat datang.
-Tolong satu lagi. -Baiklah.
Nyonya, waktunya makanan penutup.
Bu Nakagawa, ayo main setelah makan malam.
Baiklah, tunggu giliranmu.
Ini bukan balai kota, mengerti?
Ini.
Terima kasih.
Kau cukup sering kemari.
Benar.
Sekali lagi rumah kami penuh dengan orang
yang datang untuk memakan masakan ibu.
Manami tak datang lagi.
Dia sibuk dengan urusan keluarga akhir-akhir ini.
Benarkah?
Apa aku bisa minta waktunya?
Baiklah.
Semua kebahagiaan itu seperti bel yang menggelinding menuruni bukit.
Suara belnya masih terdengar, tetapi belnya sudah hilang.
Kita hidup seperti biasa,
dan waktu berlalu.
Saat itu, kita mengira bahwa abad 21 masih jauh.
Akan tetapi, dalam sekejap mata sudah dekat.
"Masa depan"
Ternyata kau. Selamat datang.
Halo.
Lama tak jumpa. Silakan masuk.
-Maaf mengganggu. -Ini.
Ma.
Lihat dirimu. Bergegaslah dan bersiaplah.
Ini kencan pertamamu setelah tiga pekan dan dua hari.
Bergegaslah.
Kau tak perlu menulis semuanya di sana.
-Lama tak jumpa. -Ya.
Ya, memang sudah lama.
Benar. Aku siap sebentar lagi.
Aku hampir selesai.
"Masa depan"
Kami pergi.
Baiklah, jaga diri kalian.
Bersenang-senanglah.
Hati-hati.
Sudah lama aku tak berkeliling di sini.
Sepertinya pekerjaanmu lancar.
Ya.
Aku sibuk,
tetapi, akhir-akhir ini aku lebih senang bekerja.
Apa kau baik-baik saja?
Ya.
"Hadiah Hari Ibu"
Ma, apa kau sudah memikirkannya?
Maaf?
Tentang masa depan.
Apa?
Misalnya, di mana kau berada di masa depan.
Kurasa perbedaannya tak akan jauh.
Atau kau akan bersama siapa.
Ayo.
"Hadiah Hari Ibu"
Ada yang bilang saat Mei,
"Semua berpetualang untuk mencari masa depan.
Akan tetapi, mereka selalu kembali ke tempat mereka lahir."
"Tokyo Tower: Episode 9"
Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu?
Apa dia bersama pria lain?
-Apa? -Itu mungkin saja.
Kalian jarang bertemu.
Saat wanita dengan umur ideal untuk menikah
ingin membicarakan masa depan, maka hanya ada satu alasan.
Apa itu?
-Menikah. -Menikah?
Tiba-tiba kau banyak mendapat perhatian.
Mungkin dia ingin uangmu.
-Diam. -Sakit.
Wanita pintar dalam mendapatkan keinginan mereka sedikit demi sedikit.
Apa tindakanmu, Ma?
Apa tindakanku?
Aku belum memikirkannya.
Kenapa kau tak melamarnya?
-Melamar? -Ya, lakukan saja. Dapatkan dia.
Kami akan mendukungmu.
Masaya, jangan memaksa untuk bersikap dewasa.
Diam.
Ayo. Ini waktunya menjadi pria.
Jangan menggangguku.
Ini bukan urusan kalian.
Bukankah ini waktunya kau mempersiapkan masa depanmu?
Kau sendiri yang bicara seperti itu.
Hati-hati, ilustrator terkenal.
-Hati-hati. -Hati-hati.
Ya!
Bagaimana menurutmu gaya ini?
Sepertinya bagus. Itulah yang kita inginkan.
Baiklah.
Aku serahkan kepadamu kalau begitu.
Aku pulang.
Selamat datang.
Kau terlihat terlalu ceria.
Ini hanya dilakukan orang miskin.
Tak usah menghitung
biaya tusuk pangsit.
Menabung dari waktu ke waktu itu penting.
Kau harus menabung untuk masa depan.
Bagaimana lagi caramu menabung?
Masa depan?
Mereka sudah memberi tahuku.
Kenapa kau merahasiakannya dariku?
Apa maksudmu?
Kau akan melamar Manami, bukan?
Maaf?
Aku sangat bahagia. Aku belanja banyak hari ini.
Lihat.
-Apa ini? -Lihat.
Bu, bukankah kau terlalu berlebihan?
Ini sangat menggemaskan. Aku tak tahan.
Lupakan.
Ada apa?
Ma.
No comments yet. Be the first to leave one.