The first 200 lines.
- Aku minta maaf. - Bukan begitu.
Aku hanya bercanda.
Apa? Apa maksudmu?
Sesungguhnya, itu tidak benar.
Apa maksudmu?
Itu bohong. Aku tidak kehilangan dua juta dolar.
Aku bisa menyiapkan dokumen baru.
Itu bohong?
Ya, aku hanya ingin kamu datang menemuiku.
Kamu harus melupakanku.
Jika tidak, aku akan balas menyirammu dengan air.
Astaga, bagaimana ini?
Maaf, tanganku terpeleset.
Kamu bukan tipeku.
Aku tipe orang yang mengatakan kenyataan.
Kamu bahkan menjadi selingkuhan.
Begitu, ya.
Kamu hanya mempermainkanku.
Jika tidak bisa menemukan dokumennya,
seharusnya kamu datang saja untuk mengambil dokumenmu.
Kenapa menghabiskan waktu untuk mencarinya?
Dan kenapa kamu tidak menjawab ponselmu?
Andaikan menjawab, kamu tidak perlu mencari dokumen sampai sekarang.
Kamu berkeringat. Kamu pasti habis berlari.
Aku harus...
Apa-apaan ini?
Bagimu ini menyenangkan?
Kamu terhibur bisa mempermainkan hidupku?
Mempermainkan hidupmu?
Aku tidak tahu.
Kamu tahu apa yang kukorbankan demi leluconmu ini?
Impianku.
Impianku terus lepas,
tapi tanpa itu, aku tidak bisa hidup.
Itu sebabnya aku mempertahankannya.
- Tunggu. - Dasar bedebah.
- Apa? - Kamu yang terburuk.
Kamu tidak akan menyesal
mengatakan itu?
Apa-apaan ini?
Barusan aku ditampar?
Bisa-bisanya dia pergi setelah menamparku.
Kamu tahu apa yang kukorbankan demi leluconmu ini?
Impianku.
Impianku terus lepas,
tapi tanpa itu, aku tidak bisa hidup.
Itu sebabnya aku mempertahankannya.
Kapan kamu kembali?
Kamu sudah menukar dokumennya dengan wanita itu?
Tunggu.
Jarimu kenapa?
Pak Min...
"Pendaftaran Kontes Resep Rahasia Grup WL"
"Pendaftaran"
Kamu tidak akan menyerahkan lembar pendaftaranmu?
Ke mana perginya?
Kenapa kamu pergi lama sekali?
Kamu bahkan tidak menjawab ponselmu.
Maafkan aku.
Sudahlah. Kamu tidak perlu bekerja di sini lagi.
- Dasar mesum. - Ada apa?
Cincin ini pasti amat berarti baginya.
Cincinnya tidak bisa lepas.
Aku tidak bisa memotong jariku.
- Apa? - Apa yang terjadi?
Kenapa kamu menjawab ponsel Go Ya?
- Dia belum pulang. - Apa?
Apa yang dia lakukan tanpa membawa ponsel?
Dia pasti bekerja.
Seharusnya sudah selesai.
Aku ingin tahu apa dia sudah menyerahkan pendaftarannya.
Kamu tidak pernah mencemaskanku.
Jaga Go Woon.
Ibu harus mencarinya?
Aku tahu Ibu mencarinya.
Aku juga tahu itu karena aku.
Kenapa kamu berpikir begitu?
Ibu ingin menghukumnya karena telah membuatku sakit.
Tapi Ibu, aku sudah tidak sakit.
Aku tidak ingin Ibu menderita lagi.
Aku paling benci melihat Ibu menderita.
Dia tidak tahu putranya sakit.
Dia gila karena wanita licik itu.
Tunggu saja.
Aku akan melihatmu dan wanita jalang itu menderita
dengan mataku sendiri.
Suara apa itu?
- Astaga. - Go Woon.
Ibu.
- Bawakan kotak P3K. - Baik.
- Kamu terluka? - Aku baik-baik saja.
Kecuali di sini.
Ini.
Biar ibu lihat.
Apa yang terjadi?
Aku jatuh dari kursi.
Aku hendak mengambil teh yuja.
Kamu bisa meminta tolong kepada ibu.
Kamu bahkan tidak minum teh yuja.
Aku tahu. Mungkin dia ingin membuatkannya untuk Kak Go Ya.
Benar begitu?
Aku pulang.
Go Woon.
Ada apa? Kamu terluka?
- Ini salah Kakak. - Apa?
Dia ingin membuat teh yuja untuk Kakak. Dia jatuh
saat berusaha mengambilnya.
Sungguh?
Tidak, itu bukan salah Kak Go Ya.
Aku terjatuh karena salahku.
Sakit sekali? Biar kakak lihat.
Kamu dari mana?
Dia menyerahkan pendaftaran untuk sebuah kontes.
Kamu akan menang kali ini?
Adikmu harus menjalani dialisis
dan kamu meninggalkannya sendirian.
Kamu akan menang, bukan?
Dia terluka saat hendak
melakukan sesuatu untukmu. Bukan begitu?
Katakan sesuatu. Kenapa diam saja?
Kamu selalu memastikan usahamu dilihat orang.
Kamu memastikan tangan kirimu tahu apa yang dikerjakan tangan kananmu.
Itu sebabnya kamu membiarkan adikmu yang sakit tahu?
Kamu terus mengeluh?
Sesering apa kamu mengeluh
sampai Go Woon cemas?
Dia sama sekali tidak mengeluh.
Aku hanya ingin melakukannya.
Kamu amat egois.
Kamu mementingkan dirimu dibandingkan adikmu yang sakit.
Kamu sama dengan ayahmu.
Ibu, hentikan.
Kontes itu impiannya.
Impian apanya.
Kamu masih punya impian di usiamu itu?
Jika punya talenta, kamu pasti sudah sukses.
Kamu tidak punya kesempatan.
Berhenti membuang waktumu
dan carilah pekerjaan.
Saat orang menanyakan tentang putri sulung ibu,
ibu merasa amat malu.
Bangun, Go Woon.
"Cincin Hilang"
Halo?
Ya, Ibu. Kenapa menghubungi pukul sebegini?
Apa?
Astaga, bagaimana jarimu bisa patah?
Jarinya terjepit gerbang.
- Seharusnya kamu berhati-hati. - Aku sudah berhati-hati.
Aku pasti sudah makin tua.
Aku hanya menabraknya dan jariku patah.
Kamu bicara dengan nenekmu.
Bisa-bisanya kamu tertawa. Hati ibu sakit.
- Ini bukan apa-apa. - Apa maksudmu?
Ibu tidak ingin kamu terluka sedikit pun.
- Aku datang. - Hei, Eun Seok.
Kenapa kemari sepagi ini?
Kudengar tangan Ji Seok terluka.
- Ibu tidak perlu memberitahunya. - Kamu terluka.
Mana mungkin ibu tidak memberitahunya?
Kakak sudah mendengarnya di telepon. Kakak tidak perlu datang.
Kamu pasti kesulitan mencuci rambut.
Lantas kenapa? Kakak mau mencucikan rambutku?
Jika mau, kakak juga bisa memandikanmu.
Menjijikkan.
Hei, kakak sering memandikanmu saat kamu masih bayi.
Ini bukan berita baru.
Ayo, ikut kakak.
- Astaga, hentikan. - Ayo ikut kakak.
- Mandikan aku sampai bersih. - Baiklah.
- Terima kasih. - Kita harus bergegas.
Eun Seok amat perhatian kepada adiknya.
Mereka saudara yang akur sejak kecil.
Mereka perhatian dan saling memedulikan,
seperti ayah mereka.
Tentu saja, semua sifat baik menurun dari putramu, bukan?
Maaf, Bu. Mungkin Ibu tidak ingin menerimanya,
tapi mereka putraku.
Mereka putra yang kulahirkan, yang mirip denganku.
"Senang Memasak karya Jang Ok Ja"
Semua buku ini ditulis oleh Bu Jang.
Dia mendengar kamu amat tertarik memasak
dan sedang menyiapkan diri untuk sebuah kontes.
Kurasa dia ingin memberikan ini kepadamu.
Hei, apa yang terjadi kemarin?
Tadinya kita hendak makan bersama.
Maaf, kemarin ada sesuatu.
Aku senang kamu di sini. Bisa bantu aku mengeluarkan ini?
Bukankah kamu menggunakan ini untuk penelitian sebelum kontes?
Ya.
Kenapa kamu ingin mengeluarkannya?
- Aku ingin membuangnya. - Membuangnya?
Tunggu.
Kamu sudah lolos kontesnya?
Tidak, aku akan menyerah.
Menyerah?
Kenapa? Ini harapan dan impianmu.
Ya, ini memang impian. Hanya impian.
Tidak bisa menjadi kenyataan. Aku tidak bisa mempertahankannya.
Ada apa?
No comments yet. Be the first to leave one.