The first 124 lines.
POLYGON PICTURES MEMPERSEMBAHKAN CENDERAWASIH
Kau berhasil menipuku dengan lightsaber keren itu.
Kukira kau seorang Jedi sungguhan,
ternyata hanya seorang murid.
Murid yang berhasil menyudutkanmu!
Kau lebih pandai menghina daripada memakai senjata.
Itu bukan sifat seorang Jedi.
- Master. - Nakime,
terburu-buru mengelabui pikiranmu.
Menuruti hawa nafsu emosi dalam pertempuran.
Fokus pada ajaran kita, Padawan.
"Jalani semua momen dengan ketenangan hati." Aku tahu.
Nakime! Jangan biarkan emosi menguasaimu.
Jadi, kau yang dibebani si bodoh ini.
Beban yang menyedihkan.
Aku akan akhiri penderitaannya!
Aku pernah kalahkan penjahat seperti dia tanpa bantuan.
Nakime!
Cenderawasih
Hari 1: Hari Penghinaan
"Kegelapan, lalu cahaya."
Master?
Dingin sekali.
Semuanya batu.
Aku tak tahu ada di mana dan tak bisa melihat apa pun.
Kenapa aku tak bisa… Master!
Jika Sith memburuku sekarang, tamatlah aku.
Ini akhirku, bukan?
Dia dalam perjalanan ke sini.
Tunggu, di mana lightsaber -ku?
Rusak?
Tidak mungkin!
Tidak berguna. Kau cuma sampah!
Apa itu tadi?
Seorang manusia?
Bukan, ini patung.
Tolong aku. Kumohon.
Masih banyak yang belum sempat aku lakukan.
Jika kau sungguh ada,
aku hanya ingin hidup.
Cahaya ini…
apa berasal darimu?
Jika ini tipuan,
aku tidak suka.
Hari 2: Hari Hasrat
"Angkasa dan air. Batas antara bumi dan langit."
Tetesan air hujan.
Di atasku langit terbuka.
Sebuah sungai?
Bukan. Sebuah kolam?
Rasa menjijikkan apa itu?
Tidak, jangan dulu.
Hidupku tak bisa berakhir begini.
Daruma! Apa Master dalam perjalanan ke sini?
Kau datang untuk membantuku, 'kan?
Aku tak paham apa yang mau kau katakan.
Master! Aku di sini.
Tolong, aku membutuhkanmu.
Nakime, yakinlah pada Force dan energinya,
yang mengikat semua makhluk hidup.
Jangan ceramahi aku!
Aku butuh sesuatu yang bisa kugunakan!
Sebuah ilusi?
Tentu saja.
Meski begitu,
andai ilusi itu memberitahuku yang harus kulakukan.
Hari 3: Kemarahan
"Tanaman mekar di atas tanah."
Sudah berapa lama aku berjalan?
Aku sudah sampai sejauh ini, tapi…
Aku tidak bisa…
Kau benar.
Aku bisa lanjut.
Kau pasti tahu.
Lika-liku kehidupan bukanlah misteri bagi pohon tua sepertimu.
Terima kasih untuk itu.
Sedikit lagi.
Air menjijikkan itu…
Tidak…
Aku tak mau mati. Ini tidak adil.
Para Jedi! Mereka di sini!
Master, kau bisa dengar suaraku?
Jangan pergi!
Tidak ada siapa-siapa di sini.
Kenapa mereka belum menemukanku?
Ini tidak adil!
Akulah yang tak bisa melihat apa-apa!
Kegelapan.
Apa ia datang untuk aku?
Api yang aneh…
Master! Apa dia mengalahkanmu?
Namun, bagaimana bisa?
Tidak.
Jasadnya… Ini aku.
Apa selama ini aku sudah mati?
Bergentayangan di dunia sebagai roh tersesat?
Hari 4: Hari Diam
"Matahari dan bulan. Kelahiran malam."
Diam.
Bahkan jika aku bisa menemukan makanan,
itu hanya menunda yang tak terelakkan.
Perutku masih keroncongan.
Selalu menginginkan lebih,
dan kami benci bila dilarang.
Biarkan aku pegang secercah asa.
Meski hanya untuk malam ini.
Ini terjadi baru beberapa bulan lalu.
Padahal aku bersemangat menanti masa depan.
Masa depan tampak penuh harapan.
Pada hari itu,
masa depan yang aku intip terang sekali dengan segala kemungkinan.
Sith!
Padawan kecilku yang malang.
Kau bisa lolos dari ini dalam sekejap mata.
Untuk membebaskan diri, kau hanya perlu
menyerah pada emosi yang kau berusaha keras untuk sembunyikan.
Biarkan rasa takut dan amarah menguasaimu.
Jika tak menyerah pada emosi itu,
kau akan mati.
Kau tak mau itu, 'kan?
Menyerahlah dan bertahan sehari lagi,
atau binasa sebagai Jedi gagal.
Aku tak bisa menyangkalnya.
Master berulang kali memberitahuku
No comments yet. Be the first to leave one.